Guru Asal Eropa Jadikan Indonesia Kiblat Fisika - Raih Ratusan Medali Emas

Banyak kalangan yang beranggapan bahwa fisika adalah ilmu yang hanya bisa dikuasai oleh orang-orang jenius, minimal cerdas. Paradigma tersebut berkembang lantaran orang menganggap fisika itu dipenuhi dengan hal-hal yang terkesan penuh angka-angka dan juga abstrak, seperti gaya (force), momentum, listrik, dan sebagainya.

Pendapat tersebut jelas salah besar. Pasalanya, hingga kini sudah lebih 100 medali emas berhasil dikumpulkan anak-anak Indonesia melalui ajang olimpiade fisika internasioal. Olimpiade Fisika Internasional (International Physics Olympiad atau IPhO) adalah sebuah kompetisi fisika tahunan untuk pelajar Sekolah Menengah Atas. OFI merupakan salah satu dari olimpiade sains internasional. OFI yang pertama diadakan di Warsawa, Polandia pada tahun 1967.

Setiap delegasi negara terdiri dari lima orang pelajar ditambah dua ketua yang dipilih pada tingkat nasional. Pengamat diperkenankan menemani tim nasional. Para pelajar berkompetisi secara individual dan harus menyelesaikan persoalan-persoalan teoritis dan laboratorium. Para pemenang akan mendapatkan medali emas, perak, perunggu atau gelar kehormatan.

Pendiri Tim Olimpiade Fisika (TOFI) Yohanes Surya mengatakan hingga kini sudah lebih 100 medali emas berhasil dikumpulkan anak-anak Indonesia melalui ajang olimpiade sains dunia. setelah 20 tahun Indonesia berhasil mengumpulkan 103 medali emas, 86 medali perak, 129 medali perunggu. Untuk pertama kali Indonesia mendapat medali di 1993 dan 1999 baru dapat 1 emas, dalam Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke 30 di Padova Italia.

\\\"Indonesia unggul dalam olimpiade fisika mengingat hingga tahun 2013, sudah lebih dari 100 medali emas dari ajang olimpiade sains dunia diraih anak-anak bangsa,\\\" kata Yohanes saat syukuran Pencapaian Prestasi Surya Institute \\\"100 Medali Emas Persembahan Anak Bangsa\\\" di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut dia, dengan menjuarai olimpiade Fisika, kini banyak anak Indonesia yang mendapatkan beasiswa terkenal di dunia. Tidak hanya itu, pencapaian tersebut juga mendorong negara untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia utamanya sains. Selain itu, sambung Yohanes, beberapa guru Eropa bahkan menjadikan Indonesia sebagai kiblat untuk belajar Fisika, karena hampir setiap kejuaraan Indonesia selalu memborong medali emas. Untuk itu, agar menghasilkan siswa-siswa yang menguasai sains, materi sains harus lebih diperbanyak dalam kurikulum 2013.

“Materi Sains di sekolah jangan lagi berkurang. Jika dibandingkan di tahun 88-90an, materi Sains terus berkurang lantaran khawatir membebani siswa. Padahal tidak ada masalah jika materi Sains ditambah, asal disampaikan dengan cara mengajar yang menyenangkan,” kata dia.

Pria yang juga mendirikan Universitas Surya ini berharap keberhasilan anak bangsa, bisa menjadi titik awal menjadikan Indonesia sebagai negara super power di dunia. Maka dari itu, untuk mewujudkannya pemerintah diminta memperbanyak fasilitas penelitian, seperti laboratorium.

\\\"Di Indonesia tidak ada laboratorium riset yang memadai. Padahal kebutuhan sehari-hari seorang peneliti itu laboratorium riset. Dengan tidak tersedianya laboratorium, peneliti kita yang kembali ke Indonesia ditempatkan di bagian administrasi atau perpustakaan, ini jelas membosankan bagi peneliti. Maka jangan heran jika banyak peneliti kita enggan kembali ke Indonesia,\\\" tutur Yohanes.

Related posts