Memanfaatkan Kekuatan Social Media

Promosi suatu produk berperan besar terhadap keberhasilan penjualan produk tersebut. Kita ambil contoh, berbagai penelitian menunjukkan bahwa iklan dan promosi rokok berpengaruh terhadap peningkatan jumlah perokok. Juga di Indonesia. Jumlah perokok laki-laki di Indonesia sudah mencapai lebih dari 70%. Data Global Youth Tobacco Survey (GATS, 2009) juga menunjukkan bahwa sebanyak 89,3% anak remaja umur 13-15 tahun di Indonesia telah terpapar iklan rokok melalui media luar ruang (billboard) dan 76,6% melalui media cetak (koran dan majalah). Kecenderungan merokok di kalangan generasi muda semakin meningkat dan yang lebih memprihatinkan adalah anak-anak sudah mulai merokok di usia belia. Oleh karena itu Kementrian Kesehatan pun mengeluarkan pencantuman peringatan dan informasi kesehatan pada kemasan rokok.

Jika industri rokok beriklan melalui media ‘mahal’ yang terkadang menjadi keluhan dan alasan pemerintah terhadap minimnya iklan dan promosi kesehatan dimedia cetak maupun elektronik, lalu, kenapa tidak mencoba memanfaatkan media yang gratis dan lebih modern. Social media misalnya. Pemilihan media melalui leaflet, brosur, booklet terkesan kuno terutama jika sasarannya adalah mereka dengan usia muda. Mengikuti tren yang berlaku bukanlah hal yang tidak penting.

Semakin banyaknya ponsel cerdas berharga murah menjadi faktor pemicu meningkatnya pengguna internet. Hal itu juga mendorong pesatnya perkembangan social media. Jika dilihat dari penggunanya ada sekitar 19.7 juta pengguna twitter dan 47 juta pengguna facebook di Indonesia. Belum termasuk media lainnya seperti instagram, flickr, path, google+, dan lain sebagainya. Masing-masing punya segmen dan karakteristik yang berbeda-beda.

Social media ini menjadi strategis untuk dimanfaatkan. Betapa tidak. Media ini dapat mencapai jutaan pembaca dengan sangat sedikit investasi atau biaya. Tidak hanya teks, di media ini juga bisa dicantolkan gambar dan video. Selain itu, melalui media social, hubungan antara pengguna dan friends tetap terjaga karena mudahnya interaksi satu sama lain. Di mana saja dan kapan saja, asal ada koneksinya.

Namun, kenyataannya, belum banyak social media ini yang dimanfaatkan untuk promosi kesehatan. Sebenarnya bisa saja misalnya, Kementerian Kesehatan atau organisasi kesehatan yang lain membuat akun di Facebook misalnya, sebagai perwakilan lembaga untuk dapat membagi berbagai informasi kesehatan terupdate. Atau juga sebagai alat kampanye untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap isu-isu tertentu. Misal, kampanye tentang AIDS/HIV, kampanye anti rokok, kampanye untuk hidup aktif dan konsumsi seimbang.

Di beberapa negara lain fungsi social media telah diberdayakan oleh lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta sebagai jembatan informasi. Seperti halnya akun Facebook dengan nama Mayo Clinic, AIDS.gov, Global TB institute, Daily Health Tips, mereka mewakili lembaga-lembaga tertentu untuk memnyebarkan pengetahuan baru kepada pengguna Facebook lainnya. Saat ini, akun Daily Health Tips, akun yang berisi tip-tip untuk hidup sehat, mempunyai lebih dari 180 ribu fans.

Bisa dibedakan jika kita melalukan mass campaign dengan mengadakan satu event besar, biaya yang dikeluarkan pastilah akan lebih besar. Bisa jadi pula hanya sedikit mereka yang pulang membawa pesan yang disampaikan atau bahkan hanya sedikit yang mendengarkan. Efeknya bisa dibilang berhenti saat peserta beranjak pergi meninggalkan tempat kampanye.

Pertanyaan yang timbul adalah, bagaimana mereka yang tidak menggunakan social media? Walaupun memang akan timbul masalah inequity bagi mereka yang tidak memiliki akses ke telepon pintar atau telepon seluler. Namun, hal diatas bukanlah hal yang wortless untuk dicoba. Tentu saja ada hal-hal yang perlu dijaga untuk mengelola jumlah pemilih aktif. Pemilihan topik harus disesuaikan dengan siapa audiencenya.

Related posts