Indonesia Miliki 143 Pintu Masuk Barang Ilegal

Rabu, 29/05/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Nus Nuzulia Ishak menyatakan setidaknya barang-barang ilegal masuk ke Indonesia tidak masuk melalui pelabuhan resmi melainkan melalui jalur-jalur ilegal. Nus menjelaskan setidaknya ada 143 pintu yang digunakan oleh penyelundup untuk memasukkan barang-barang ilegal.

Ia menjelaskan barang-barang yang masuk melalui pelabuhan-pelabuhan kecil dijadikan ajang untuk menyuplai barang-barang ilegal seperti produk telepon seluler merek Blackberry jenis Z10 dan Q10 yang ditemukan beberapa waktu lalu. "Di Batam itu ada 43 pintu masuk tidak resmi. Di semenanjung timur Sumatera ada 100 pintu yang tidak resmi. Dari situlah barang-barang selundupan banyak masuk," ungkap Nus Nuzulia di Jakarta, Senin (27/5).

Dia juga menolak jika dugaan ada pemalsuan dokumen yang terjadi di pelabuhan utama. Setiap importasi barang juga merupakan hasil koordinasi Kemendag dengan beacukai. Nus menambahkan, pada saat Kemendag menemukan barang ilegal beredar di pasar, bea cukai juga menyikapi dengan menyelidiki importir dan asal masuk barang tersebut. "Karena mereka juga punya UU kepabeanan," lanjut Nus.

Untuk melindungi konsumen dari peredaran barang ilegal dan kerugian negara, ke depan, lanjut Nus, Kemendag akan lebih meningkatkan koordinasi dengan bea cukai untuk fokus membenahi pelabuhan-pelabuhan tikus. "Itu yang harus kita benahi. Kalau tidak kita ada rembesan terus. Itu yang kita mintakan koordinasi dengan beacukai untuk mengawasi dengan lebih intensif,” terangnya.

Sedikit berbeda, Direktur Fasilitasi Ekspor Impor Kemendag, Junaedi, menengarai bobolnya BB jenis Z10 dan Q10 ke Indonesia, disebabkan adanya pemalsuan dokumen impor. "Inilah masalahnya ada dokumen palsu. Sekarang kan zaman scanning," kata Junaedi, Dari indikasi tersebut, dia menyatakan, ke depan harus ada nota dari bea cukai yang membuktikan benar dokumen impor dikeluarkan dari institusi tersebut.

Sekadar informasi, beberapa waktu lalu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke ITC Roxy Mas, Jakarta untuk mengetahui apakah peredaran barang-barang elektronik seperti ponsel atau smartphone banyak yang melanggar atau tidak. Ternyata, Gita menemukan banyak perangkat telepon pintar dan tablet keluaran terbaru yang masuk secara ilegal ke Indonesia. "Bukan hanya ilegal tapi diselundupkan," kata Gita.

Ia menemukan produk telepon pintar terbaru seperti Blackberry Z10 dan Q10 serta tablet Apple Ipad Mini yang tidak dilengkapi kartu garansi, label izin dan panduan berbahasa Indonesia. Selain itu, Gita juga menemukan beberapa produk yang dijual dengan kartu garansi palsu. “Bahkan ada satu outlet yang memproduksi kartu garansi yang jiplakan atau duplikat. Label, kartu garansi harusnya sesuai ketentuan. Pelanggarannya cukup banyak. Ini merugikan negara, bisa sampai triliunan rupiah. Kita lihat dulu, baru beri sanksi," tegas Gita.

Nus Nuzulia mengatakan, saat ini hanya ada 3 importir legal untuk memasok BlackBerry di Indonesia. Pihaknya akan melakukan penelusuran terhadap 3 importir tersebut terkait BlackBerry ilegal. Sayangnya, Nus tidak mau menyebutkan siapa saja dari 3 importir itu. "Kita akan lakukan penelusuran. Pada saat BB beredar wajib manual dengan garansi baik dalam bahasa dan lain-lain. Waktu itu tidak penuhi ketentuan manual. Buku garansinya tahun 2005. Padahal BB-nya launching 2013, importir belum bisa saya sebutkan," katanya.

Kerja sama

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono mengatakan, perlu kerja sama antar instansi pemerintahan terkait, untuk mengatasi penyelundupan barang-barang ilegal di Indonesia. Oleh karena itu, instansinya terus melakukan koordinasi dengan kementerian dan lembaga lainnya. "Kami sudah berkoordinasi dengan Kemendag yaitu Dirjen Perdagangan Luar Negeri dan Dirjen Standarisasi dan Perlindungan, Karantina, dan aparat pengawas lain melakukan pembicaraan dua kali dan punya platform yang sama," ujarnya.

Agung mengungkapkan, saat ini potensi penyelundupan yang terbesar berada di daerah yang terikat perjanjian kawasan perdagangan bebas seperti di Batam. Menurutnya, di kawasan tersebut memiliki aktivitas lalu lintas perdagangan yang tinggi sehingga harus diawasi. "Di Batam ada 4 pelabuhan penyumbang pemasukan, antara lain Hang Nadim, Batu Ampar, Sekupang. Selain 4, ada 50 lebih pelabuhan rakyat yang semua arus keluar kapal, keluar masuk ratusan kapal," tambahnya.

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, katanya, juga terus menangkap upaya-upaya penyelundupan di daerah tersebut. "Kami sudah beberapa kali lakukan penggeledahan, tangkap satu kapal isinya sekitar 500/800 laptop berbagai jenis. Kalau satu kapal bawa 500 laptop dan tiap hari ratusan kapal lalu lalang di situ. Potensi ini yang harus dibicarakan bersama," ungkapnya. Hal tersebutlah, menurutnya, kerja sama otoritas terkait lainnya menjadi penting dilakukan. Sehingga pasar nasional tidak lagi dipenuhi produk-produk ilegal dan akhirnya kepentingan konsumen tidak ternodai. "Kalau bea cukai sendiri yang akan mengawasi, akan susah," tutupnya. [bari]