APPI Klaim Perusahaan Multifinance Indonesia Terbesar

Di Asia Tenggara

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta – Jumlah perusahaan pembiayaan (multifinance) di Indonesia, diakui Asosiasi perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), sebagai yang terbesar di ASEAN. “Yang palig banyak mempunyai perusahaan pembiayaan di ASEAN itu kita (Indonesia), karena secara populasi lebih banyak, pertumbuhan paling baik, serta secara geografis kita banyak jalan umumnya. Kita (perusahaan pembiayaan) juga sudah jadi industri kedua terbesar di sektor jasa keuangan Indonesia di bawah perbankan. Sehingga minatnya cukup banyak dari investor asing maupun yang dalam negeri,” tutur Suwandi Wiratno, Ketua Harian APPI, ketika ditemui di Jakarta, Kamis (23/5).

Dia menceritakan bahwa di negara ASEAN utama lainnya, seperti Singapura dan Malaysia, perusahaan pembiayaan tidak begitu berkembang. “Kalau kita bicara Singapura kan itu kecil, dan dia sudah punya public transportation yang baik, MRT, dan sebagainya. Di Malaysia bahkan tidak ada perusahaan multifinance, karena di sana kalau mau menarik kendaraan harus lewat pengadilan dulu. Sementara, persaingan kita lebih dengan Thailand, tapi secara populasi kita lebih banyak daripada dia,” katanya.

Sehingga, tutur dia, persaingan perusahaan pembiayaan di Indonesia bukan kepada negara-negara lain di ASEAN, tapi lebih ke wilayah lebih besar yakni Asia. “Kalau perusahaan pembiayaan itu, persaingan dengan ASEAN tidak begitu, kan kita lebih ke arah pasar domestik. Kita malah sering adakan pertemuan dengan perusahaan pembiayaan di Asia, termasuk Australia, bahkan menjadi ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Internasional. Tapi sekarang yang jadi kecenderungan adalah investor-investor ASEAN yang masuk ke Indonesia, menanamkan modalnya dan membuka perusahaan pembiayaan di sini,” paparnya.

Walau begitu, dia bilang bahwa perusahaan pembiayaan asing tidak terlalu membahayakan perusahaan pembiayaan lokal, karena masing-masing perusahaan mempunyai segmen pembiayaannya masing-masing. “Pasar perusahaan pembiayaan juga luas, jadi misalnya yang besar-besar mereka lebih ke arah menawarkan pricing bunga kompetitif, tapi biasanya untuk mobil-mobil baru yang high end. Lalu ada pasar yang tidak meminta suku bunga kompetitif tapi mereka lebih berani masuk ke mobil-mobil bekas yang umurnya juga lebih tua daripada mobil baru. Karena kalau mobilnya sendiri juga lebih lama, dan berani dibiayai, maka bunganya juga lebih tinggi,” jelasnya.

Dia menerangkan kalau dari sisi pembiayaan motor tidak akan ketat persaingan antara perusahaan pembiayaan lokal dengan asing, karena di sini yang jadi masalah bukan bunga tapi besar kecilnya cicilan per bulan. “Sedangkan dari mobil, yang (perusahaan pembiayaan) asing mendominasi karena bisa kasih bunga sangat murah. Perusahaan pembiayaan kecil (lokal) tidak akan berani membiayai mobil baru,” terangnya.

Bagi dia, masalah permodalan itu di setiap perusahaan pembiayaan sudah sama, yakni Rp100 miliar untuk modal disetor pertama. Jadi itu bukan menjadi masalah lagi dalam persaingan dengan perusahaan pembiayaan asing. “Yang penting adalah bagaimana tiap perusahaan itu mempunyai infrastruktur yang baik secara sistem, dan mempunyai pelatihan atau SDM yang baik. At the end of the day yang membuat sebuah perusahaan (pembiayaan) itu bisa tumbuh dan berkembang dengan baik adalah kecepatan menyetujui kredit, serta bagaimana servis kepada costumer,” ujarnya.

Perusahaan pembiayaan di Indonesia, ungkap dia, hanya mempunyai empat kegiatan utama, yaitu sewa guna usaha, anjak piutang, kartu kredit, dan pembiayaan konsumen. “Consumer finance yang terbesar, dengan NPL 1,6%. Di pembiayaan konsumen ini sektor otomotif masih terbesar yakni 65% dari keseluruhan pembiayaan,” ucapnya. [ria]