Reformasi Semu, Ekonomi Berjalan Lambat

Jumat, 24/05/2013

NERACA

Jakarta - Ekonom Faisal Basri menilai, pergerakan ekonomi Indonesia berjalan lambat meski reformasi telah berjalan selama 15 tahun. Pertumbuhan ekonomi sejak krisis 1997-1998 silam, memang terbilang bagus dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang terus menanjak. Walaupun belakangan ini ekonomi dunia melemah, tetapi Indonesia tetap tumbuh di atas 6%. Namun begitu, pertumbuhan ekonomi tersebut bukanlah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, karena hanya sektor-sektor elit saja yang pertumbuhannya cemerlang. Sedangkan sektor-sektor rakyat selalu tumbuh di bawah PDB.

“Setelah reformasi, pertumbuhan tidak pernah negatif, growth-nya stabil. Tapi gara-gara pasar diberikan keleluasaan yang luar biasa, growth-ya itu tidak berkualitas karena yang tumbuh bagus hanya sektor-sektor elit seperti sektor perbankan, asuransi, dan perdagangan. Tumbuhnya 8% (per tahun). Tapi sektor rakyat, seperti pertanian dan industri manufaktur, tumbuhnya 4%. Industri manufaktur tumbuhnya selalu di bawah PDB. Sebelum reformasi, industri tumbuhnya dua kali. Kalau PDB-nya 6%, maka pertumbuhan industrinya 12%. Dan industri yang tumbuh itu sebagian besar adalah industri kecil,” jelas Faisal Basri di Jakarta, Kamis (23/5).

Sebelum reformasi, kata dia, tercatat empat kali mengalami kemerosotan ekonomi, yaitu tahun 1950, 1965, 1983, dan 1997-1998. Setelah reformasi, memang tidak terjadi kemerosotan ekonomi, tetapi Gini Index selalu naik yang mencerminkan kesenjangan ekonomi semakin meningkat. Sementara dosen FE UGM Sri Adiningsih mengamini perkataan Faisal, bahwa pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di Indonesia setelah reformasi adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas. “Pertumbuhan ekonomi yang terjadi jauh di bawah potensi kita yang bisa 8%. Coba perhatikan, sejak reformasi kita tidak pernah menembus 7%,” kata Sri kepada Neraca.

Kualiats pertumbuhan ekonominya rendah, lanjut Sri, karena yang bertumbuh adalah sektor-sektor non-tradable seperti komunikasi, transportasi, listrik, air minum, dan perbankan. Selain itu, di industri pertumbuhannya rendah. Dulu sebelum reformasi, Indonesia bisa tumbuh di atas 10%. Bahkan sampai 15%. Sejak reformasi, pertumbuhan setinggi itu tidak terjadi lagi. “Yang terus berkembang adalah mikro ekonomi. Jangan pandang mikro ekonomi itu adalah ekonomi rakyat, tapi berkembangnya mikro ekonomi itu karena masyarakat tidak bisa bekerja di sektor formal. Siapa sih yang bercita-cita untuk masuk ke mikro?” jelas Sri.

Pemerintah mengklaim bahwa pengangguran terus menurun dari tahun ke tahun. Data BPS menyebutkan demikian dengan pendefinisian orang miskin adalah yang pengeluarannya di bawah Rp248.707 per bulan. Per September 2012, jumlah penduduk miskin adalah sebesar 11,66% atau sebanyak 28,59 juta jiwa. Angka tersebut adalah penurunan dari setahun sebelumnya, yaitu 12,36% atau setara 29,89 juta jiwa.

“Persentase orang miskin di tahun-tahun sebelumnya memang lebih besar dan terbukti telah terjadi penurunan orang miskin. Tetapi kalau kemiskinan turun, apa itu prestasi? Belum tentu. Kalau pakai definisi orang miskin di Indonesia adalah yang pendapatannya kurang dari US$1/hari atau US$2/hari, maka penurunan penduduk miskin akan landai sekali,” papar Faisal Basri. Bahkan, dirinya menegaskan bahwa Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) adalah program yang sesat luar biasa. “Ini adalah list proyek-proyek besar swasta. Jadi Pemerintah mengalihkan tugasnya kepada swasta,” kata dia. [iqbal]