Wajar, Pertumbuhan Ekonomi 6,9% di 2014

Rabu, 22/05/2013

NERACA

Jakarta - Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan target pertumbuhan ekonomi yang digaungkan Pemerintah untuk tahun 2014 sebesar 6,4%-6,9%, adalah target yang wajar. Hal itu lantaran konsumsi domestik yang masih kuat. Dia juga menjelaskan bahwa Indeks Kepercayaan Konsumen (IPK) masyarakat Indonesia berada pada level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

“Jadi, itu (konsumsi domestik dan IPK tinggi) yang merupakan penopang utama pertumbuhan ekonomi kita. Saya kira itu saja sudah cukup bagus,” ungkap Purbaya kepada Neraca, Selasa (21/5). Pernyataan Purbaya ini sesuai dengan hasil survei Nielsen, yang menyebutkan bahwa Indonesia menempati posisi tertinggi di dunia dalam hal Indeks Kepercayaan Konsumen (IPK) di triwulan I 2013. Kemudian Purbaya mengharapkan bila belanja Pemerintah masih tetap di atas 6%. Pasalnya, kata dia, tahun depan adalah tahun pemilu. “Orang-orang pada belanja, ya, partai-partai itu. Tidak tahu uangnya dari mana, pokoknya mereka belanja. Ada dampak positif,” jelasnya.

Dari sisi investasi, dirinya meyakini tahun 2014 masih akan bagus dan tidak banyak terpengaruh pemilihan umum (pemilu). “Investasi asing masuk. Mereka akan investasi terus. Selama Pemerintahnya kelihatan kerja seperti membangun infrastruktur. Mereka tidak akan menunggu, karena mereka sudah memasukkan (investasi), tetapi kok tidak mulai-mulai. Tapi begitu kelihatan mulai, mereka akan ikut berlari. Itu yang paling penting,” jelas Purbaya.

Dengan demikian, Kementerian dan Lembaga (K/L) jangan berdiam diri, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Yang mengganggu, lanjut Yudhi, adalah kalau Indonesia keluar dari investment grade, karena akan mengganggu iklim investasi. “Maka syaratnya BBM harus dinaikkan supaya lebih berkesinambungan. Kalau iklim investasi terjaga, seharusnya tidak ada alasan tidak masuk ke sini (Indonesia),” terangnya. Siklus bisnis di Indonesia tujuh tahunan, menurut dia, saat ini posisi Indonesia berada di tengah-tengah siklus bisnis ekspansi hingga 2016. “Kalau para investor baru masuk tahun 2015, maka mereka rugi dua tahun. Jadi jangan menuggu untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Purbaya, seraya berpromosi.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun terakhir stabil di atas 6%, kecuali tahun 2009 yang jatuh ke angka 4,6%. Pada 2007 dan 2008, pertumbuhan ekonominya 6,3% dan 6,0%. Sedangkan pada 2010, 2011, dan 2012 berturut-turut adalah 6,2%, 6,5%, dan 6,2%. Meskipun pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir berada di atas 6%, tetapi target 2014 sebesar 6,4%-6,9% dianggap terlalu optimis oleh Ekonom Samuel Sekuritas Sekuritas Lana Soelistianingsih. “Sulit untuk di atas 6,2%. Asumsi pertumbuhan ekonomi terlalu optimis karena ekonomi global belum membaik. Selain itu, kecenderungan impor akan tinggi sekali. Pertumbuhan ekonomi terhambat,” ujar Lana.

Pada 2014, kata dia, juga dianggap sebagai tahun politik. Menurut Lana, investasi akan tertahan karena para investor cenderung untuk menunggu siapa presiden yang akan terpilih. “Pemerintah sebaiknya tidak terlalu mengandalkan peningkatan konsumsi domestik akibat pemilu yang akan berlangsung di 2014, karena peningkatan konsumsi tersebut ada batasnya. “Katakanlah konsumsi terdongkrak dari spending partai dan calon pemilu. Tidak akan jauh berbeda dari 2009, besarannya Rp52 triliun pada 2009. Besaran tersebut terlalu kecil. Kondisinya kurang lebih sama seperti lebaran, Bank Indonesia menambah uang beredar Rp50 triliun. Tidak terlalu signifikan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” kata Lana. [iqbal]