Miopia Kebijakan Ekonomi

Oleh : Tumpal Sihombing

Presiden Direktur BondRI

Jika asumsi indikator makroekonomi telah meleset, sudah pasti kebijakan ekonomi jadi tak efektif. “No need to be genius to understand it.” Berdasarkan fakta yang ada, tingkat konsumsi rumah tangga yang merupakan satu komponen lokomotif perekonomian Indonesia telah mengalami perlambatan dalam pertumbuhan dibanding kuartal sebelumnya(yoy), dari 5,38% menjadi 5.17%. Target laju inflasi meleset, anggaran mengalami defisit, rupiah terdepresiasi signifikan setahun penuh, ekspor menurun drastis, ketidakjelasan kebijakan BBM, dan lain sebagainya.

Namun tiada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, because “life goes on with gain or pain.” Yang harus dipersiapkan adalah “corrective action plan.” Untuk itu, pemerintah sebaiknya pruden dan efektif dalam merumuskan kebijakan korektif kali ini. Sebab jika tidak, maka para stakeholder domestik dan asing akan kehilangan keyakinan terhadap kualitas kebijakan para tim perumus perekonomian Indonesia.

De facto berdasarkan hasil pengukuran terkini, tingkat keyakinan sebenarnya telah mengalami penurunan. Hal tersebut tercermin dari dua indikator utama dan relevan dalam perekonomian, yaitu Business Confidence Index (BCI) dan Consumer Confidence Index (CCI). BCI adalah indikator yang mengukur tingkat optimisme para pemilik usaha akan sikon perekonomian yang tergambar dari tingkat kegiatan investasi serta belanja mereka. Penurunan BCI menunjukkan sinyal perlambatan dalam aktvitas perekonomian sebagai dampak turunnya niat investasi para pemilik usaha.

Sementara, CCI adalah indikator yang mengukur tingkat optimisme para konsumen terhadap sikon perekonomian yang tergambar dari kondisi keuangan komponen individu. Besar kecilnya CCI merupakan gambaran stabilitas pendapatan yang berdampak pada naik-turunnya volume/frekuensi belanja individu. Jika CCI rendah, maka konsumen akan bersikap sangat pruden dan cenderung menyimpan uang mereka daripada membelanjakannya (bertransaksi). Secara agregat, sikap konsumen ini akan berakibat kontraksi pada perekonomian. Sederhananya, CCI merupakan gambaran kondisi perekonomian dalam 6 bulan ke depan, termasuk juga ekspektasi akan ketersediaan lapangan kerja di masa depan.

Berdasarkan laporan terkini, kedua indikator perekonomian ini (BCI dan CCI) telah mengalami penurunan signifkan. Berdasarkan laporan BPS, BCI turun dari 105.29 (Q-VI 2012) menjadi 102.34(Q-1 2013). Sementara itu berdasarkan laporan BI, CCI turun dari 116.80 (Maret 2013) menjadi 113.70 (April 2013). Ini merupakan gambaran kondisi mikroekonomi secara umum.

Kebijakan pemerintah di tingkat agregat (makro) terbukti tak efektif dan jika tidak in-line dengan kebijakan di tingkat mikro, merupakan suatu bentuk gejala miopia dalam perumusan kebijakan. Apa tindakan nyata pemerintah dalam menghadapi potensi penurunan tingkat keyakinan para pelaku dan konsumen di tingkat individu (mikro)? Apapun tindakan yang akan dilakukan, sebaiknya pemerintah tidak dalam kondisi miopia saat merumuskannya. Dalam ranah ekonomi positif, pemerintah sebaiknya menyelaraskan kebijakan ekonomi antara long vs short term objectives, macro vs micro economic policy coverage.

BERITA TERKAIT

Pers dan Usaha Mendorong Ekonomi Digital

Pers memiliki peran vital mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis digital di Indonesia. Melalui pemberitaan, pers dapat mempromosikan sekaligus mengedukasi pelaku…

Berbagai Kebijakan Disiapkan Tarik Investasi Manufaktur

NERACA Jakarta – Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan investasi di industri manufaktur, karena sektor tersebut berperan penting dalam menopang pertumbuhan…

Perekonomian Indonesia Tumbuh di Tengah Krisis Ekonomi Global

  Oleh: Rizal Arifin, Pemerhati Ekonomi Pembangunan   Kritik oposisi terhadap Pemerintah terkait target pertumbuhan ekonomi dibawah 6 persen mejadi…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Berharap Dana Riset dan Pengembangan Swasta

  Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef, Centre of Innovation and Digital Economy Seminggu ini publik dihebohkan oleh salah satu cuitan…

Revolusi Mental Menjungkirbalikkan Akal - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin…

Sinkronisasi RTRW Jabodetabek

  Oleh: Yayat Supriatna Pengamat Tata Kota Presiden Jokowi telah menugaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla memnenahi persoalan pengelolaan rencana tata…