Produk Makanan Makin Renyah di Pasaran

Ekonomi Tumbuh di Atas 6%

Senin, 20/05/2013

NERACA

Jakarta - Pengamat industri makanan Eddy Sutanto mengatakan, ekonomi Indonesia masih tumbuh yang didorong oleh sektor domestik, meski sedikit mengalami penurunan pada triwulan pertama 2013 menjadi 6,02%.

"Ekonomi yang tumbuh di atas 6 % itu masih lumayan, karena masih memberikan keuntungan yang lebih tinggi ketimbang negara-negara lain," kata Eddy Sutanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Komisaris PT Asafood (Asa Foodenesia Abadi) tersebut, pemerintah harus dapat menjaga ekonomi tetap tumbuh di atas 6%, karena kalau berada dibawah level tersebut agak mengkhawatirkan. "Kami optimistis pemerintah akan menjaga agar ekonomi tetap tumbuh di atas 6%," ujarnya.

Menurut dia, Indonesia masih tetap pasar potensial yang perlu diperhatikan, karena itu investor asing masih membuat investasi baru. "Pelaku asing lebih optimistis melakukan kegiatan usaha di pasar Asia khususnya di Indonesia," ucapnya.

Ditanya mengenai laju inflasi yang mencapai 7-8 %, menurut dia, dinilai masih wajar asalkan dijaga jangan sampai dua digit. "Kalau dua digit maka akan mendorong suku bunga perbankan bergerak naik," katanya.

Sementara itu Dirut Utama PT AsaFoods, Andreas Sutanto mengatakan, kalau perbankan menaikkan suku bunga sebenarnya industri tidak begitu khawatir. Karena pembelian bahan baku roti seperti gandum sudah dibeli sebelumnya. "Kami memiliki stok yang cukup untuk menjaga bahan baku tetap tersedia," tuturnya.

Kalau perbankan menaikan suku bunga yang mendorong bahan baku roti naik, lanjut dia, maka perusahaan akan melakukan efisiensi dan mendorong penjualan untuk lebih aktif."Kami tetap optimis bahwa perusahaan akan tetap mencapai target perolehan sebesar Rp100 miliar pada tahun ini," katanya.

Ia mengatakan, perbankan juga tidak begitu saja menaikkan suku bunganya, mereka akan melihat apakah Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan bunga acuannya. BI masih mempertahankan suku bunga acuan yang masih tetap berada pada level 5,75 %, tuturrnya.

Ekspansi 60 gerai CEO PT Belanja Makanan Indonesia (BMI), Mozes Latuihamallo mengatakan, BMI akan melakukan ekspansi dengan membangun 60 gerai di Jabodetabek hingga akhir 2013. "Hal ini dilakukan karena perkembangan pasar roti dan makanan serta daya beli masyarakat yang terus meningkat," tukasnya.

Menurut dia, BMI saat ini memiliki 18 gerai yang tersebar di wilayah Jakarta dan akan terus menyebar ke seluruh Jabodetabek baik di perkantoran, perumahan maupun sarana umum seperti stasiun pompa bensin, gerai, dan memberikan layanan langsung ke pelanggan."Produk roti dan makanan dengan merek Pane del Giorno (PDG) diperkirakan akan mendapat respon pasar lebih baik lagi, karena kualitas dan inovasi yang makin baik," ujarnya.

Industri makanan di Indonesia khususnya roti dan kue, lanjut dia menunjukkan peningkatan pada 2012 mencapai Rp31 triliun naik 15% dibanding tahun lalu hanya Rp27 triliun. Meski demikian industri ini akan menghadapi tantangan yang berat dengan adanya kenaikan bahan bakar minyak, LPG, listrik dan upah buruh, namun pertumbuhan diperkirakan tetap pada level tujuh persen. BMI adalah merupakan rekanan yang menjual produk PT AsaFoods berupa roti dan makanan jadi.

Pertumbuhan Mamin

Hal senada Direktur Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi yang mengungkap tingginya konsumsi masyarakat di dalam negeri sudah pasti ikut mengerek pertumbuhan Industri makanan dan minuman yang ada. Terlebih lagi pertumbuhan industri makanan minuman (mamin) pada kuartal II diproyeksikan menguat menembus angka 6%, lebih besar dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama di 2012 sebesar 4%.

Benny menuturkan pertumbuhan pada kuartal kedua dimungkinkan menguat menyusul regulasi pemerintah yang kian longgar terkait penyediaan bahan baku industri mamin. "Kemarin ini kan masalahnya bahan baku. Walaupun prosentasenya sedikit tapi bahan bakunya nggak ada di dalam negeri, jadi industrinya nggak jalan. Tapi itu sudah lewat. Pemerintah sudah menyadari hal itu," kata Benny.

Menurut dia, terpuruknya pertumbuhan industri mamin pada kuartal satu akibat dua masalah pokok yakni regulasi dan bahan baku. Dia mencontohkan, seperti industri mie instan yang membutuhkan bawang putih sebagai bahan bakunya. Pada kuartal I tidak mencetak pertumbuhan menggembirakan karena ada masalah importasi bawang.

Sementara itu, industri minuman kemasan juga terkendala aturan pembatasan importasi hortilkultura untuk sejumlah komoditas buah. Benny juga menambahkan industri mamin yang menggunakan bahan baku daging juga terkendala regulasi."Masalahnya terkait dengan regulasi dan bahan baku, terkait mamin. Produk yang menggunakan daging. Lalu, mie instan ada bawang putihnya diatur. Buah-buahan untuk mamin diatur. Sekarang sudah tidak diatur," kata Benny.