OJK Menilai Kinerja Industri Keuangan Positif

Triwulan I 2013

Kamis, 16/05/2013

NERACA

Jakarta - Kinerja pasar modal dan industri keuangan nonbank berbasis syariah pada triwulan I 2013 menunjukkan perkembangan yang positif. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK-OJK), Muliaman Darmansyah Hadad mengatakan, pada triwulan I 2013, Indeks Saham Syariah Indonesia dan Jakarta Islamic Indeks meningkat 17,35% dan 13,06% dibandingkan posisi yang sama tahun lalu. “Perkembangan berbagai indikator pasar keuangan pada triwulan I 2013 terlihat stabil dan cenderung positif. Langkah-langkah kebijakan yang ditempuh oleh otoritas perekonomian berhasil meredam tekanan-tekanan pada nilai tukar akibat perlambatan ekonomi global dan naiknya inflasi karena pengaruh harga pangan," kata Muliaman di Jakarta, Rabu (15/5).

Nilai kapitalisasi Indeks Saham Syariah Indonesia turut meningkat 26,52% menjadi Rp2.763 triliun, sementara kapitalisasi Jakarta Islamic Indeks meningkat 20,44% menjadi Rp1,855 triliun. Kemajuan itu tak lepas dari keberadaan sistem layanan online trading syariah oleh enam perusahaan efek sehingga memacu perdagangan saham syariah. Laporan tersebut menyebutkan selama triwulan pertama terdapat tambahan enam emisi sukuk dengan total nilai emisi Rp1.504 triliun. Meskipun jumlah reksa dana syariah tidak berubah, tetapi karena kenaikan harga saham maka nilai aktiva bersih meningkat dari Rp8,05 triliun pada akhir 2012 menjadi Rp8,54 triliun atau meningkat 6,1%.

Kinerja perusahaan pembiayaan syariah yang mayoritas masih berbentuk unit usaha syariah (UUS) juga menunjukkan perkembangan positif. Piutang dan aset perusahaan pembiayaan syariah triwulan I 2013 masing-masing meningkat 26,6% dan 27,2% dibanding posisi akhir 2012. Aset perusahaan asuransi syariah pada 2012 juga menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 42,4% menjadi Rp13,1 triliun. Sementara kinerja industri keuangan non bank (IKNB) pada 2012 juga menunjukkan perkembangan yang positif. Muliaman menuturkan, total aset industri asuransi dan reasuransi tercatat Rp569,3 triliun pada akhir 2012, meningkat 18,2% dibandingkan akhir 2011.

Nilai investasi industri asuransi Rp497 triliun atau meningkat 18,4% dan pendapatan premi bruto mencapai Rp178 triliun atau meningkat 16,29%. Adapun densitas industri asuransi yang merupakan rasio premi bruto terhadap jumlah penduduk terus meningkat. Secara rata-rata setiap penduduk Indonesia mengeluarkan dana Rp729,8 triliun untuk membayar premi pada 2012, kata laporan tersebut. Itu menunjukkan tingkat kebutuhan masyarakat akan perlindungan aset maupun aktivitas dari potensi risiko semakin tinggi. Laporan tersebut juga menyebutkan nilai aset bersih dana pensiun juga mengalami peningkatan 11,86% atau Rp158,4 triliun.

Peningkatan tersebut diikuti perbaikan kinerja investasi yang ditandai dengan return of investment dana pensiun meningkat dari sembilan persen menjadi 12%. Peningkatan kinerja dana pensiun disertai pula dengan peningkatan penetrasi jumlah peserta dana pensiun meskipun dalam jumlah yang terbatas. Penetrasi dana pensiun tercatat 5,6% dari jumlah tenaga kerja, sedikit meningkat dari 5,03% pada tahun sebelumnya. [ria/ardi]