Fiskal dan Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 13/05/2013

Oleh : Prof. Firmanzah., PhD

Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi dan Pembangunan

Twitter: @fizfirmanzah

Secara teoritis, terdapat hubungan timbal balik antara fiskal dan pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi, fiskal merupakan instrumen penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Di sisi lain, ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara tinggi, PDB atau total output meningkat, maka ruang fiskal juga semakin membesar karena penerimaan negara dari pajak meningkat.

Begitu juga sebaliknya, ketika defisit fiskal suatu negara sangat besar maka hal ini akan berakibat buruk bagi perekonomian seperti yang terjadi saat ini di sejumlah negara Eropa. Pengelolaan fiskal perlu tetap keseimbangan antara defisit dan ruang ekspansi terjaga secara proporsional.

Fungsi dan peran fiskal sangat penting untuk menstimuli pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sejumlah pos pengeluaran dalam struktur APBN baik pengeluaran rutin, belanja modal, infrastrukturdan perlindungan sosial akan berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sementara dari sisi penerimaan, terutama penerimaan dari sektor perpajakan, juga merupakan instrumen untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi. Ketika pajak dinaikkan maka insentif untuk ekspansi bisnis akan berkurang tetapi negara akan mendapatkan tambahan pendapatan. Di sisi lain, ketika pajak diturunkan maka dunia usaha akan berkembang tetapi dalam jangka penerimaan negara akan berkurang.

Menurut BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2012 sebesar 6,23% dari sisi pengeluaran disumbang utamanya oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 54,56%, konsumsi pemerintah (8,89%), pembentukan modal tetap bruto (33,16%) dan net ekspor sebesar minus 1,55%.

Pada 2013, ruang fiskal pada APBN sebesar lebih dari Rp. 1.683 triliun dan jumlah ini meningkat drasti apabila dibandingkan pada APBN-P 2004 yang hanya Rp 430 triliun. Jumlah APBN 2013 meningkat sebesar 291% apabila dibandingkan dengan nilai APBN-P 2004. Ruang fiskal akan terus meningkat dan 2014, direncanakan APBN akan berjumlah lebih dari Rp. 1.900 triliun dan 2015 diproyeksikan mencapai di atas Rp. 2.200 triliun.

Dari sisi penerimaan, sektor perpajakan merupakan kontributor utama penerimaan negara. pada APBN-P 2004, penerimaan sektor perpajak masih sebesar Rp 279 triliun meningkat 251% pada 2012 dan menjadi Rp 980 triliun. Hal ini juga menunjukkan semakin dinamisnya perekonomian nasional karena dunia usaha tumbuh dan semakin terdiversifikasi jenis usahanya. Semakin besarnya pendapatan negara membuat proporsi utang terhadap PDB semakin berkurang untuk menutup defisit anggaran. Bila pada 2004, persentase utang/PDB mencapai 56,6% berhasil diturunkan menjadi 24,1% pada akhir 2012. Pemerintah berupaya menurunkan persentase utang/PDB menjadi di bawah 23% pada tahun ini dan 22% pada 2014.

Semakin besarnya ruang fiskal Indonesia merupakan faktor penting penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu juga, pada APBN 2013, alokasi transfer anggaran ke daerah juga semakin membesar dan mencapai Rp. 528 triliun dan menjadi faktor pendorong penting pembangunan infrastruktur, berkembangnya dunia usaha, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan di daerah.

Untuk bisa optimal, pemerintah daerah diharapkan dapat mengoptimalkan anggaran ke sektor yang memiliki multiplier effect terhadap bergeraknya dunia usaha dan penciptaan lapangan kerja di daerah. Sehingga secara agregat, semakin besarnya ruang fiskal kita akan semakin besar pula efek penggandanya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.