Strategi Berbasis Sustainability Bantu Pertumbuhan Bisnis

Sabtu, 11/05/2013

Melalui Unilever Sustainable Living Plan yang diusungnya, Unilever mengembangkan bisnis secara bertanggungjawab terhadap dampak yang ditimbulkan oleh bisnisnya terhadap lingkungan serta meningkatkan dampak positif yang dibawa untuk masyarakat.

NERACA

Komitmen Unilever secara global untuk menjadikan sustainability sebagai elemen utama dalam pertumbuhan bisnis ternyata terbukti bisa membantu mendorong penjualan sekaligus menekan resiko dan biaya-biaya. Melalui Unilever Sustainable Living Plan yang diusungnya, Unilever berhasil menumbuhkan bisnisnya dua kali lipat sambil mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan serta meningkatkan dampak positif yang dibawa untuk masyarakat.

External Relations Director dan Corporate Secretary PT Unilever Indonesia Tbk. Sancoyo Antarikso mengatakan, pada November 2010 Unilever secara global meluncurkan strategi yang disebut Unilever Sustainable Living Plan, yang merupakan wujud komitmen Unilever untuk mengembangkan bisnis secara bertanggungjawab terhadap dampak yang ditimbulkan oleh bisnisnya terhadap lingkungan dan masyarakat di sepanjang rantai nilai, mulai dari pemilihan bahan baku sampai ke penggunaan produk oleh konsumen.

Pada strategi ini, lanjut sancoyo, ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada tahun 2020, yakni membantu lebih dari satu milyar orang di seluruh dunia untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka, memasok 100% bahan baku pertanian dari sumber yang sustainable, dan menurunkan sampai separuh dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasi dan produk Unilever di seluruh rantai nilainya.

Saat ini mereka (UNilever) sudah dua tahun menjalankan strategi yang berjangka waktu 10 tahun ini. mereka mulai melihat bahwa menjadikan sustainability sebagai prinsip dalam berbisnis ternyata dapat membuat mereka lebih sukses. Terbukti tahun lalu, pertumbuhan penjualan mereka meningkat sebesar 19,2% atau mencapai Rp27,3 triliun, akibatnya laba bersih pun meningkat sebesar 15,4%, atau mencapai Rp. 4,9 triliun. "Dengan demikian, kami telah berhasil melipatgandakan bisnis kami dalam kurun waktu lima tahun. Sedangkan untuk pencapaian kami pada kuartal satu 2013, penjualan meningkat 14,7% menjadi Rp 7,6 triliun dan laba bersih meningkat 23,1% mencapai Rp 1,4 triliun,” papar Sancoyo Antarikso.

Lebih lanjut Sancoyo mengatakan, dalam hal dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh operasi dan produk Unilever di seluruh rantai nilainya, Unilever berhasil meraih kemajuan di area yang bisa dikontrol. Antara tahun 2008-2012 emisi gas rumah kaca dari energi yang digunakan di pabrik-pabrik Unilever di seluruh dunia berkurang hampir sepertiganya. Limbah pabrik secara global juga berkurang separuhnya.

Ya, tahun lalu, pabrik mereka yang beroperasi di Indonesia juga berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca dari energi yang digunakan rata-rata sebesar 20%. Untuk limbah hasil produksi, limbah berbahaya 100% dikelola oleh pihak ketiga yang telah mendapatkan ijin Kementerian Lingkungan Hidup untuk kemudian diolah kembali sehingga tidak merusak lingkungan. "Sedangkan untuk limbah tidak berbahaya, saat ini kami sudah berhasil mengurangi hingga setengahnya,” jelas Sancoyo Antarikso.

Namun, dampak yang ditimbulkan oleh pabrik-pabrik Unilever terhadap lingkungan hanya sebagian kecil (4%) dari dampak lingkungan secara total yang ditimbulkan oleh Unilever. 25% jejak dampak lingkungan timbul dari pemasokan bahan baku dan sebagian besar jejak karbon (68%) justru timbul saat produk Unilever digunakan oleh konsumen untuk memasak, mencuci atau membersihkan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana Unilever bisa membuat konsumennya untuk menggunakan produk-produk secara lebih bijak di rumah sehingga dapat mengurangi dampaknya terhadap lingkungan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Unilever Indonesia tidak henti-hentinya melakukan edukasi melalui program-program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada para konsumennya. Program Ibu Bercahaya yang diluncurkan di Indonesia, serta edukasi pemilahan sampah rumah tangga melalui program ”Green and Clean” yang saat ini telah ada di 9 kota besar di Indonesia adalah dua contoh nyata bagaimana Unilever Indonesia mengedukasi konsumen untuk berperilaku lebih ramah lingkungan di rumahnya.

Walau banyak kemajuan telah dicapai, kata Sancoyo, dunia masih menghadapi banyak tantangan besar ke depannya. Pasalnya, banyak orang yang masih mengalami keterbatasan akses untuk makanan, gizi, sanitasi, sarana kebersihan, air minum yang aman serta ketersediaan pekerjaan yang layak. Semua itu merupakan masalah dunia yang harus ditangani bersama. "Kami percaya bahwa pelaku bisnis punya peran besar dalam memecahkan masalah tersebut; namun untuk membuat perubahan yang benar-benar signifikan, kami percaya bahwa diperlukan kerjasama yang lebih banyak dan lebih erat lagi antara pelaku bisnis, pemerintah, LSM dan konsumen,” tutup Sancoyo.