Kinerja Sektor Telekomunikasi Masih Berat

Dampak Bisnis Kompetitif

Rabu, 08/05/2013

NERACA

Jakarta- Ketatnya persaingan dalam industri telekomunikasi dinilai menjadi salah satu hambatan bagi sejumlah emiten yang bergerak di sektor tersebut untuk dapat bertumbuh signifikan. Sehingga bukan hanya efisiensi yang dibutuhkan, namun juga diperlukan komitmen untuk melakukan ekspansi bisnis. “Persaingan semakin ketat, sementara pasar yang ada terbatas, ditambah dengan adanya persaingan harga.” kata analis saham dari Trust Securities, Reza Priyambada, di Jakarta, Selasa (7/5).

Menurutnya, dengan semakin kompetitifnya persaingan, emiten yang bergerak di sektor tersebut ditantang untuk melakukan efisiensi agar dapat mempertahankan posisinya. Tidak hanya dari sisi biaya operasional, namun juga kemampuan pihak manajemen untuk menekan utang. Hal tersebut diharapkan dapat mendukung kinerja perusahaan dan menjaga tata kelola perusahaan secara positif. “Mereka harus pintar-pintar efisiensikan biaya.” ujarnya.

Dari sejumlah emiten besar di sektor ini, sebut saja PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Perseroan tersebut, kata Reza, menjadi salah satu perusahaan telekomunikasi yang berhasil melakukan diversifikasi usaha untuk memacu pertumbuhan kinerjanya. “Seperti TLKM yang sudah melakukan diversifikasi usaha, antara lain perusahaan memiliki fixed line, seluler, pay TV, layanan serat optik. Laporan keuangannya pun masih terjaga.” jelasnya.

Pada kuartal pertama 2013, TLKM mencatatkan pendapatan naik 9,8% menjadi Rp 19,5 triliun dibandingkan dengan pendapatan kuartal pertama 2012 pada Rp 17,8 triliun. Laba usaha perseroan selama kuartal pertama 2013 naik sebesar 8,5% menjadi Rp 6,6 triliun dibandingkan Rp 6,2 triliun. Marjin laba usaha selama kuartal berada pada tingkatan 35%, sebanding dengan tingkatan pada periode sama tahun lalu. Laba bersih kuartal pertama 2013 tercatat Rp 3,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,3 triliun.

Pencapaian tersebut dinilai lebih positif jika dibandingkan dengan kedua emiten telekomunikasi lainnya seperti PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL). Pendapatan Indosat di kuartal pertama 2013 sebesar Rp 5,78 triliun atau naik 16% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,9 triliun. Sementara EBITDA yang dihasilkan di triwulan pertama 2013 sebesar Rp 2,77 triliun atau naik 12% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 2,4 triliun. EBITDA margin turun dari 50% menjadi 48% di triwulan pertama 2013.

Sementara EXCL, mencatatkan pertumbuhan pendapatan perseroan pada kuartal pertama 2013 sebesar 2% YoY (Year on Year) menjadi Rp 5,05 triliun, yang dipicu oleh kenaikan pendapatan layanan data sebesar 16%. Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi dan Amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 2 triliun dengan margin EBITDA sebesar 40% dan laba bersih sebesar Rp 316 miliar selama kuartal pertama 2013.

Pencapaian kinerja EXCL tersebut dinilai karena dipengaruhi beban rugi kurs yang harus ditanggung XL sebesar Rp. 26 milliar, sehingga pada akhirnya laba XL hanya sebesar Rp 316 milliar. Sementara aktifitas pembiayaan dan jumlah hutang XL meningkat menjadi Rp 14,7 triliun dari tahun sebelumnya Rp 11,5 triliun, dan hutang bersih/EBITDA meningkat dari 1,0x menjadi 1.5x. (lia)