OJK Diharapkan Permudah Alur Birokrasi

Kamis, 02/05/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Chris Bendl, berharap Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa memotong alur birokrasi demi kemudahan lembaga-lembaga keuangan dan kepentingan masyarakat Indonesia. "Keberadaan OJK sangat penting bagi lembaga keuangan dan masyarakat Indonesia dan merupakan lembaga regulator yang sangat luar biasa," kata Chris Bendl di Jakarta, Rabu (1/5). Menurut dia, adanya OJK justru Indonesia akan memiliki produk-produk jasa keuangan yang sebelumnya belum ada sehingga akan memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Apalagi, berdasarkan riset yang dilakukan Manulife Asia, indeks sentimentasi investor Indonesia terhadap investasi merupakan yang tertinggi di Asia. Masyarakat Indonesia juga memiliki karakteristik yang unik dibanding investor di negara lain. "Hasil riset itu akan kami pergunakan untuk lebih memahami keinginan masyarakat Indonesia dalam berinvestasi. Manulife menawarkan berbagai produk untuk masyarakat Indonesia yang unik," tuturnya.

Untuk lebih memahami nasabah, Manulife juga akan mendesain struktur organisasinya. Ke depan, Manulife hanya akan memiliki delapan lapisan yang bisa menghubungkan nasabah dengan pimpinan tertinggi Manulife. "Karena itu, terkait dengan desain ulang struktur organisasi di Manulife, kami berharap OJK juga bisa membantu dengan 'less-bureaucracy'," katanya. PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia mencatatkan pendapatan kotor premi bisnis baru mencapai Rp5,5 triliun atau meningkat 19 persen dari Rp4,7 triliun pada 2011.

Dalam paparannya, Chris mengatakan total pendapatan premi meningkat dari Rp7,1 triliun pada 2011 menjadi Rp8,4 triliun atau meningkat 18 persen. Total aset yang dikelola bisnis asuransi jiwa, tidak termasuk pensiun, meningkat 30 persen menjadi Rp28,4 triliun. Kinerja bisnis Manulife Indonesia juga didukung pengembangan "bancassurance" yang bermitra dengan 12 bank di Indonesia. Terakhir, Manulife Indonesia menjalin kerja sama dengan Bank Danamon. [ardi]