Eksploitasi Energi Sambut Baik Rencana Semen Indonesia - Pasok Batubara Kebutuhan Produksi

NERACA

Jakarta- Rencana PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menggandeng perusahaan berskala menengah untuk memenuhi kebutuhan batubara sebagai penunjang bahan bakar produksi dan pembangkit listrik (power plant) perseroan disambut positif oleh PT Eksploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO). “Saat ini belum ada pembicaraan ke arah sana dengan PT Semen Indonesia Tbk, namun kami siap memasok asal harganya sesuai,” kata Public Relation Manager CNKO, Vivien Damarsasi di Jakarta, Rabu (5/1).

Menurutnya, harga batubara yang ditawarkan oleh perusahaan kelas menengah saat ini terbilang lebih murah. Maka dengan adanya minat SMGR untuk melirik batubara dari perusahaan kelas menengah diharapkan akan dapat memberikan angin segar bagi kinerja beberapa perusahaan produsen batubara tersebut ke depan.

Disebutkan, pada tahun ini CNKO menargetkan volume penjualan sekitar 3,6 juta ton. Untuk memenuhi target tersebut, selain mengincar pasar domestik, CNKO juga akan mengekspor batu bara ke beberapa negara, seperti Malaysia dan Korea Selatan. Selain menggenjot penjualan, CNKO juga berencana untuk menggarap lima dari tujuh konsensi pertambangan batubara yang dibeli beberapa waktu lalu. Rencananya, kegiatan produksi tambang batubara CNKO sendiri baru akan dimulai paling cepat pada Juni 2013. Apabila tambang ini telah berproduksi, CNKO menargetkan akan memproduksi sekitar 1,2 juta ton batubara per tahun.

Di lain pihak, Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya akan menggandeng perusahaan-perusahaan produsen batubara kelas menengah atau yang dapat memberikan harga yang lebih rendah sebagai penunjang bahan bakar produksi dan pembangkit listriknya. Pasalnya, saat ini harga batubara dari beberapa perusahaan besar seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dinilai sudah cukup mahal. “Saat ini kita punya kontrak jangka panjang dengan Adaro, dan harganya jauh lebih tinggi dari perusahaan yang berskala menengah sehingga kami juga akan mencari perusahaan yang harganya lebih murah,” jelasnya.

Konsumsi Batubara

Menurutnya, pada tahun ini secara group perseroan membutuhkan pasokan batubara sebanyak 4- 5 juta ton, di mana saat ini sebagian besar dipenuhi di wilayah Kalimantan. “Konstribusi pasokan batubara Kalimantan yaitu sebesar 70%,” ujarnya.

Langkah yang diambil perseroan untuk menyiasati kebutuhan batubaranya tersebut sejalan dengan upaya perseroan untuk melakukan efisiensi dan peningkatan kinerja ke depan. “Cara agar kita tumbuh yaitu bagaimana menindaklanjuti hal-hal yang bersifat risiko, salah satunya aspek energi harus kita amankan dan melakukan inovasi.” jelasnya.

Strategi lainnya yang akan dilakukan perseroan sebagai langkah meningkatkan kinerja, yaitu melakukan pengembangan usaha di dalam negeri dan kawasan regional. Rencananya, perseroan akan melanjutkan pembangunan pabrik baru setelah pembangunan dua pabrik di Rembang dan Indarung, Padang. “Kita sedang melakukan pengkajian dan langkah persiapan pembangunan pabrik baru yang ditargetkan di 2017. Diharapkan 2014 sudah akan dimulai, tinggal dimintakan izin dari pemegang saham.” paparnya.

Kuarta Pertama

Sementara dari sisi pangsa pasar, pada kuartal pertama tahun ini SMGR memiliki pangsa pasar domestik sebesar 43,8%. Komposisinya yaitu 39,5% di pulau Jawa, 45,8% di Sumatera, 48,1% di Kalimantan, 65,9% di Sulawesi, 40,4% di Nusa Tenggara, dan 54,3% di Indonesia Timur. Ke depan, pihaknya akan menyiapkan daya saingnya di wilayah Sumatera Selatan.

Untuk informasi, sepanjang kuartal pertama 2013, perseroan mencatatkan laba bersih senilai Rp1,24 triliun atau naik sebesar 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp1,01 triliun. Adapun pendapatan naik 29,4% menjadi Rp5,58 triliun, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp4,28 triliun. “Pertumbuhan kinerja ini dipicu peningkatan kapasitas produksi dari 22,5 juta ton pada 2012 menjadi 29,7 juta ton di tahun ini,” imbuhnya. (lia)

BERITA TERKAIT

AG 2018 dan Rivalitas Suporter Indonesia-Malaysia

  Oleh : Raditya Putu Wicaksana, Mahasiswa Universitas Jember   Hubungan Indonesia-Malaysia berkali-kali memanas bukan karena sengketa perbatasan  atau masalah…

Indonesia Harus Perkuat Sektor Riil Sikapi Krisis Turki

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah berupaya memperkuat sektor riil untuk mengantisipasi dampak yang ditimbulkan di dalam negeri akibat krisis…

TunaiKita Ekspansi di 159 Kota dan Kabupaten Indonesia

      NERACA   Jakarta - Perusahaan Financial Lending Tunaikita mendukung target pemerintah mencapai finansial inklusi 75 persen di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Intiland Bukukan Pendapatan Usaha Rp 1,8 Triliun

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Intiland Development Tbk (DILD) berhasil membukukan pendapatan usaha di semester pertama 2018 sebesar Rp1,8…

Adi Sarana Armada Beli 2.900 Armada Baru

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan bisnis lebih agresif lagi, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) terus melakukan peremajaan armada. Dimana…

Pabrik Baru di Sumatera Selatan - Arwana Komersialkan Paruh Kedua di 2019

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan kapasitas produksi, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) mulai menggelontorkan investasi untuk pembangunan pabrik baru perseroan…