Shadow Banking Dipilih Karena Fleksibel

Maraknya shadow banking di Tanah Air tentu tak lepas dari kebutuhan masyarakat akan pendanaan. Masyarakat yang tak tersentuh perbankan lantaran ketatnya prosedur yang ditetapkan perbankan menjadikan shadow banking sebagai alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Fleksibelnya shadow banking dalam pemberian kredit menjadikan masyarakat tertarik untuk memilihnya. Itulah kelebihan shadow banking yang membuatnya makin tumbuh dan berkembang.

Di luar shadow banking, pemberian kredit secara fleksibel sebenarnya juga marak di industri multifinance atau perusahaan pembiayaan. Di ranah multifinance, fenomena itu sebenarnya bukan terjadi baru-baru ini saja. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, pemberian kredit kepada nasabah dalam wujud dana tunai sering ditemui dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

Meski awalnya diklaim sebagai gimmick marketing, penyaluran dana langsung kepada masyarakat ternyata terus berkembang pesat. Mengapa? Alasannya hampir sama dengan penyebab berkembang pesatnya shadow banking di masyarakat. Kemudahan dalam hal pemberian kreditlah yang membuat masyarakat tertarik dan menjadikan shadow banking besar.

Bayangkan, dengan prosedur yang tak terlalu panjang, masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya dalam hal pendanaan, kendati harus menelan pil pahit lantaran bunga yang mencekik. Misalnya, untuk pinjaman sebesar Rp5 juta, nasabah harus membayar cicilan Rp586.000 per bulan dengan tenor 12 bulan atau satu tahun. Artinya, nasabah harus mengembalikan pinjamannya sekitar Rp7 juta dengan bunga sebesar 71% selama satu tahun tersebut.

Sementara, di bank, dengan skema pinjaman berbentuk kredit tanpa agunan (KTA), mungkin nasabah hanya membayar bunga sekitar 36% untuk pinjaman dengan tenor yang sama atau sekitar 3% per bulan. Selisihnya memang cukup besar. Namun, banyak masyarakat yang tidak keberatan dengan bunga yang ditawarkan shadow banking lantaran desakan kebutuhan dan tidak memiliki akses ke perbankan.

Kembali ke soal shadow banking. Pesatnya perkembangan shadow banking kemudian memicu kekhawatiran BI. Pemberian kredit yang terlalu mudah dikhawatirkan jatuh ke tangan-tangan yang “tidak tepat”. Hal itu tentu sangat membahayakan lantaran memicu terjadinya kredit macet. Terlebih, dana-dana yang mereka salurkan bersumber dari satu tangan, yakni perbankan.

Itu artinya, jika portofolio kredit macet membengkak, dampaknya akan dirasakan industri perbankan. Jika dibiarkan, hal itu tentu akan menimbulkan kemelut di industri keuangan. Bahkan, bukan tak mungkin krisis keuangan akan kembali terjadi.

Related posts