Komponen Ponsel Buatan Lokal Akan Diproduksi di 2016

Pemasok dan Industri Perlu Berkolaborasi

Rabu, 01/05/2013

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengharapkan komponen lokal sudah terdapat pada perangkat-perangkat seluler bermerek lokal Indonesia pada 2016. Menurut Kemenperin, hampir semua komponen ponsel itu bisa diproduksi di Indonesia.

“Bahkan ada perusahaan yang sudah produksi panel layar sentuh di Tangerang. Produk itu sudah diekspor untuk perangkat modul tapi belum untuk ponsel," kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Triharso, di Jakarta, Selasa.

Triharso yang ditemui di sela Pameran Produk Industri Elektronika dan Telematika 2013 mengatakan produsen komponen lokal yang khusus memasok untuk perangkat teknologi informasi, terutama ponsel, belum ada karena ketiadaan permintaan. "Karena tidak ada produsen (yang meminta komponen lokal) di sini (Indonesia), mereka produksi itu (komponen) untuk dijual di luar (negeri)," kata Triharso.

Kemenperin, lanjut Triharso, menggandeng para produsen bermerek lokal dan pemasok komponen dalam negeri untuk berkolaborasi di industri telepon seluler. Triharso mengatakan sejumlah produsen ponsel bermerek lokal seperti Cross Mobile, Advan, dan Polytron berkomitmen untuk memproduksi perangkat dengan komponen lokal di Indonesia. "Potensinya (komponen lokal) besar. Ponsel impor legal yang masuk di Indonesia pada 2012 sebanyak 50 juta unit. Tahun ini diperkirakan mencapai 70 juta unit," kata Triharso.

Selain aspek perangkat keras, Kemenperin juga akan meningkatkan produksi komponen piranti lunak (software) lokal seperti sistem operasi seluler berbasis sumber terbuka (open source). Sementara itu, sebagai negara berkembang Indonesia memang pesat di industri perangkat telekomunikasi. Oleh karenanya pemerintah semakin ketat memberlakukan aturan main importir perangkat elektronik terutama produk-produk lokal. Salah Satunya yang sering diingatkan adalah untuk membangun pabrikasi perakitan untuk semua perangkat telekomunikasi.

Namun kini sudah ada niat baik para vendor untuk membangun basis produksinya di dalam negeri. Seperti Hon Hai Precision Industry, salah satu produsen elektronik terbesar dunia asal Taiwan, yang memiliki kontrak untuk membuat sekitar 60 - 70 % perakitan iPhone dan iPads untuk Apple Inc., mereka berencana akan menandatangani perjanjian dengan Indonesia bulan depan untuk membuat dan menjual handset di pasar domestik.

Peluang Pasar

Produsen itu berniat memproduksi ponsel untuk merek lokal dan menjualnya di Indonesia ini, melihat Indonesia memiliki peluang yang sangat besar di industri ini, sehingga mereka berani berinvestasi. Seperti yang diungkap oleh juru bicaranya Simon Hsing, ini merupakan langkah diversifikasi usaha sebagai momentum pertumbuhan investasi dan tanda perjanjian kemitraan setelah nota kesepahaman (MOU) dijamin pemerintah kita. "Ketertarikan kami karena geliat pasar telepon Indonesia mencapai 2,4 milyar USD dan itu luar biasa," tambahnya.

Tidak hanya itu semua produsen ponsel tersebut juga harus mematuhi ketentuan sesuai Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Konsumen Nomor 8/1999, yakni harus memiliki layanan purna jual. Dikatakan oleh Budi Darmadi, “Jika telepon selular dibuat di dalam negeri, maka harganya jauh lebih murah. Selama ini, impor telepon selular di atas 5 juta unit per tahun.” Lebih jauh beberapa komponen pelengkap telepon seluler sudah bisa diproduksi di dalam negeri seperti pelindung rangka, papan ketik, layar, catu daya dan baterai.

Hingga saat ini tercatat baru baru dua produsen ponsel yaitu PT Hartono Istana Teknologi dengan merek Polytron ,dan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) yang digandeng oleh merek IMO yang sudah melakukannya. Hal ini memang cukup ironis melihat banyaknya produk lokal yang dipasarkan di Indonesia, namun tanpa adanya pabrik domestik yang didirikan.

Banyak keluhan menjadi salah satu alasan bagi investor untuk tidak ingin membangun pabrik di dalam negeri. Beberapa diantaranya adalah terkait gejolak maraknya aksi protes buruh, wacana cukai ponsel yang dilontarkan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan cukup mengguncang importir ponsel dan iklim hubungan industrial memang belum kondusif.

Oleh karenanya beberapa produsen mengharapkan agar pemerintah Indonesia dapat menangani hal tersebut, guna memberikan kepercayaan penuh bagi investor untuk berinvestasi membangun pabrik di Tanah Air.

Regulasi Impor

Kementerian Perdagangan, sebelumnya, mengaku akan segera mengeluarkan regulasi ketentuan impor telepon seluler, komputer jinjing atau laptop dan komputer tablet. Saat ini, draft tersebut tengah difinalisasi di Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri.

Dalam draft tersebut, ada ketentuan mengenai label, petunjuk penggunaan dan kartu jaminan garansi purna jual dalam Bahasa Indonesia yang disiapkan oleh Ditjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen. "Semua peraturan bertujuan untuk menjamin diperolehnya hak konsumen atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang yang akan dipakai, digunakan atau dimanfaatkan oleh konsumen," ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi di Jakarta, belum lama ini.

Melalui aturan tersebut, diharapkan konsumen memperoleh informasi yang jelas dan benar atas suatu produk. Konsumen juga diharapkan bisa meningkatkan kepedulian dan kesadaran saat memutuskan memilih produk.