Kualitas Hidup

Rabu, 01/05/2013

Oleh: Kencana Sari, SKM, MPH

Peneliti Balitbang Kementerian Kesehatan

Kapolri Jenderal Timur Pradopo pernah mengatakan polisi harus memiliki fisik ideal. Untuk itu, setiap anggota polisi harus diet agar memiliki postur yang pas."Polisi harus sip," katanya seusai acara perayaan ulang tahun ke-62 beberapa waktu lalu. Menurut Kapolri, dengan tubuh yang fit dan berat badan yang tidak berlebih, anggota polisi bisa lebih lincah dan efektif dalam operasi kerja di lapangan, serta dapat lebih diandalkan.

Riset Kesehatan Dasar memang menunjukkan bahwa TNI/Polri/PNS/Pegawai ternyata berisiko tinggi untuk menjadi obese. Didapat fakta TNI/ Polri/PNS/ Pegawai berjenis kelamin laki-laki sebanyak 15,6% berberat badan berlebih dan 17,5% adalah obese, alias memiliki indeks massa tubuh >27. Untuk wanita angkanya lebih tinggi. Lebih dari 19% menderita obesitas. Karena itu juga, Menteri Kesehatan lantas menghimbau agar pegawai negeri di jajaran Kementrian Kesehatan menjaga berat tubuh yang ideal.

Seorang pegawai kantoran hampir tiap hari bekerja dalam ruang berpenyejuk udara, duduk lebih dari tujuh jam per hari dengan aktivitas fisik yang sangat terbatas. Jangankan beraktivitas fisik, beranjak dari tempat duduk setiap satu jam sekali saja belum tentu. Padahal, beranjak dari tempat duduk dan bergerak minimal 10 menit setiap satu jam sekali sangat disarankan untuk mencegah datangnya penyakit di kemudian hari. Risiko makin berlipat untuk mereka yang bekerja di pemerintahan. Seringkali atau bahkan tiap kali pertemuan atau rapat, selalu ditemani beberapa pinggan kudapan dan makan siang. Mungkin harusnya makanan ringan yang sebenarnya berat itu dibatasi, atau diganti dengan buah atau makanan lain yang menyehatkan demi terhindar dari kegemukan.

Sekali seseorang obese, sangat sulit sekali menurunkan berat badan menuju ke ideal. Apa akibat dari kelebihan berat badan itu? Kemungkinan penyakit berdatangan makin besar. Mulai dari nyeri sendi, karena tulang dan sendi tak mampu lagi menopang berat tubuh, diabetes, jantung koroner, stroke, dll. Penyakit-penyakit ini tidaklah menyeramkan, hanya jika Anda tidak mengidapnya.

Berkurangnya kualitas hidup adalah konsekuensi logis ketika menderita penyakit degeneratif. Belum lagi, beban negara bertambah melalui universal coverage yang mulai berlaku tahun 2014. Jika obesitas tidak ditanggulangi beban yang harus dipikul pada saat yang sama kian berat, maka kebangkrutan negara bukan mustahil menjadi nyata.

Study Global Burden of Disease tahun 2010 yang dilakukan oleh Institute Health Metrics and Evaluation, didapat kesimpulan penyakit yang tertinggi penyebab kematian adalah stroke, disusul oleh jantung, diabetes sebagai peringkat 10 teratas. Hal itu tidak berbeda jauh dengan fenomena yang terjadi secara global. Penelitian tersebut menunjukkan juga bahwa konsumsi makanan berisiko, tinggi lemak – tinggi energy, merupakan faktor risiko tertinggi timbulnya berbagai penyakit.

WHO menyarankan mereka yang berusia 17-64 tahun agar beraktifitas sedang selama paling tidak 150 selama 1 minggu. Hal yang tidak sulit seharusnya untuk meluangkan waktu sekitar 20-25 menit perhari untuk beraktifitas fisik. Namun, tidak demikian kenyataanya. Di tengah kesibukan sebagai seorang pekerja, setengah jam untuk beraktifitas fisik setiap hari rasanya adalah “kemewahan” dan butuh ekstra motivasi dan usaha. Motivasi tinggi juga harus disokong sarana pendukung. Sayang nyatanya fasilitas olahraga tidak selalu tersedia di tempat kerja. Artinya untuk berolahraga perlu pengorbanan waktu dan mungkin juga biaya. Dengan demikian rasanya, penyediaan sarana aktifitas fisik di kantor merupakan hal yang patut diperhatikan.

Ada baiknya adanya jika dalam musyawarah perencanaan dan pembangunan nasional yang diikuti para kepala daerah juga membahas upaya-upaya untuk menjadikan warganya lebih sehat. Di antaranya menyediakan sarana aktifitas fisik seperti jogging track. Dikemas dengan hutan kota, selain peluang untuk sehat lebih terbuka, lansekap kota pun pastinya kian elok.