Prospek Usaha Mainan Kayu Edukatif Anak

Para orangtua kini semakin selektif memilihkan mainan untuk anak-anaknya, mereka memilih mainan yang juga memberikan edukasi bagi anak-anaknya. Tujuannya satu, dengan mainan edukasi tersebut akan mampu mengasah kemampuan anak-anak mereka.

NERACA

Mungkin, di tangan kita kayu yang terhampar di jalan tidak berarti apa-apa, karena kita menganggapnya sampah dan tidak memiliki nilai lebih. Tetapi, di tangan para pengrajin kayu yang semula dianggap sampah itu malah menjadi pundi-pundi penghasil rupiah, ya para pengrajin tersebut membuat mainan edukatif dari kayu daur ulang.

Seperti Ivan misalnya, salah satu pemilik usaha pembuatan mainan kayu edukatif di kawasan Jakarta Barat ini mengaku awalnya dia berfikir bagaimana untuk memanfaatkan di kira banyak orang tak memiliki nilai tambah untuk dijadikan sesuatu yang bermanfaat. Maka timbullah ide untuk membuat mainan edukatif.

“Hingga kini kita masih lebih memilih kayu-kayu bekas untuk di daur ulang menjadi mainan edukatif anak yang lebih memiliki nilai. Untuk itu, kami memiliki pemasok kayu-kayu bekas tersebut,” tegas Ivan.

Untuk memproduksi mainan edukasi ini, kata Ivan tidaklah sulit, dengan lokasi kecil usaha ini dapat dijalankan. Soal kayu, seperti yang sudah diutarakan Ivan dia tinggal menghubungi kayu-kayu yang dibutuhkan dari pemasok kayu daur ulang.

Sementara itu, kayu-kayu yang biasa digunakan berupa kayu pinus, kayu karet, kayu sungai, Kayu MDF (serbuk kayu yg dipadatkan) sudah disediakan pemasok. Sementara untuk cat, digunakan cat yang memiliki faktor keamanan yang baik.

Biasanya, para pengusaha mainan kayu menggunkan cat water base merek propan seharga Rp50.000/kilo . Menurut dia, untuk bahan baku tersebut perbulan menghabiskan sekitar Rp2 juta. Sementara itu, harga mainan edukatif ini dihargai mulai Rp30.000 – 100.000 .

Untuk SDM, Ivan dibantu 4 orang karyawan. Dia sengaja memilih karyawan dengan kualifikasi yang ia miliki, seperti karyawannya harus mempunyai keahlian dalam pemotongan kayu, mendempul, menyablon dan mengecat. Dengan SDM ynag dimiliki tersebut Ivan dan karyawannya mampu menghasilkan 500 buah lebih mainan edukatif.

Soal promosi pun tidak begitu sulit. Karena yang terpenting adalah kualitas produk mainan itu harus mampu bersaing. Contohnya, mainan edukatif kayu tersebut tidak menggukan paku, kehalusan mainan harus juga harus diperhatikan, dan yang pasti cat yang digunakan untuk mainan edukatif tersebut harus keamanan kala dimainkan anak.

Maklum anak-anak seringkali memasukkan mainan ke dalam mulutnya. Sehingga salah-salah, itu malah akan menjadikan anak sakit. Maklum, beberapa waktu lalu sempat berhembus kencang mainan-mainan yang tidak aman bagi anak-anak, karena menggunakan pewarna dari zat-zat yang berbahaya.

Konsep Mainan Edukasi

Ide membuat usaha mainan edukatif, dikatakan Ivan, adalah untuk menggabungkan antara mainan dan pendidikan (edukasi). Maklum, saat ini para orangtua pastinya berkeinginan untuk memberikan mainan bagi si buah hati , tetapi Anda pasti setuju, alangkah baiknya jika kita membelikan mainan memiliki nilai lebih bagi anak.

Karena mainan edukatif ini mampu merangsang kreatifitas sang anak untuk mengarungi hidup di masa mendatang. Karena berdasarkan penelitian yang dilakukan, seseorang yang sejak kecil bermain sebuah mainan, lebih kreatif darianak yang tidak pernah memainkan mainan. Makanya, kini banyak orangtua yang sangat selektif memilihkan mainan untuk buah hatinya.

Sementara itu, bahan baku berupa kayu banyak dipilih para orangtua karena relatif lebih aman, selain itu tentu saja lebih kuat dari mainan berbahan dasar plastik. Soal jenis mainan, biasanya para pembuat mainan edukatif anak menyediakan dua jenis mainan. Yaitu untuk anak usia di bawah tiga tahun atau Batita, mainan edukasi untuk anak usia 3-5 tahun atau anak-anak usia pra-sekolah.

Related posts