Jika Tak Ada BBM Bersubsidi

Oleh: Kencana Sari, SKM, MPH

Peneliti Balitbang, Kementerian Kesehatan.

Jika tak ada lagi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, sejatinya bantuan untuk dapat menyejahterakan rakyat adalah hal mutlak. Tak bisa ditawar lagi. Beban ganda, telah membuat Indonesia menderita lebih dari lima belas tahun. Beban itu adalah angka gizi buruk yang masih tinggi dan sebaliknya angka gizi lebih kian meningkat. Tahun 2010, prevalensi balita kurus 13.3% menurun sedikit dari tahun 2007 yaitu 13.6%. Di sisi lain balita gemuk meningkat 1.8% dari 2007 menjadi 14% di 2010.

Jika dilihat dari status gizi kependekan sebagai indikator yang diukur berdasar tinggi badan menurut umur, 35.6% balita Indonesia adalah sangat pendek dan pendek. Status gizi kependekan merupakan pertanda optimal atau tidaknya pertumbuhan tinggi seseorang. Status gizi pendek, tidak ujuk-ujuk timbul karena kekurangan makanan pada waktu singkat atau karena menderita penyakit tertentu hingga kurang berat badannya lantaran kurang asupan.

Kependekan merupakan masalah gizi yang sifatnya kronis sebagai akibat adanya suatu keadaan yang berlangsung lama. Kemiskinan, pola hidup tidak sehat dan pola asuh terutama dalam pemberian makanan yang salah sejak anak dilahirkan menyebabkan anak menjadi kerdil. Faktor sosial ekonomi merupakan hal yang mendasar.

Kegemukan dan kekurusan yang diidap pada usia dini dapat berakibat munculnya berbagai penyakit degeneratif saat dewasa. Jika ingin anak tumbuh tinggi, tentu saja asupan gizinya harus diperhatikan sejak dini. Salah jika si anak sudah besar baru dicekoki susu, agar tubuhnya jangkung. Alih-alih menjadi tinggi, si anak malah akan tumbuh kesamping, alias menggemuk. Anak yang pendek lantas menjadi gemuk pendek. Penyakit degeneratif pun mengintai.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana nasib kaum marginal yang memiliki ketahanan pangan rendah di tingkat rumah tangga? Seperti kasus yang saya ketemukan ketika seorang siswa menengah atas di Jakarta ditanya: “Kenapa melewatkan sarapan atau makan malam?” Spontan dia menjawab, “Tidak ada makanan Bu, kalau ada saya pasti makan”. Miris, tentu saja. Makin terbayang pula terbayang susahnya mereka yang tinggal nun jauh di pedalaman sana, di mana akses terhadap makanan saja sulit, apalagi untuk mengonsumsi makanan sehat seimbang.

Jadi tidaklah mengherankan jika diukur tingkat daya saingnya, Indonesia lumayan jauh tertinggal, termasuk dari negara-negara tetangga. World Economic Forum (WEF) baru-baru ini menerbitkan laporan tahunan The Global Competitiveness Report 2012–2013. Ada 144 negara yang dicakup dalam laporan tahun 2012. Diantara negara-negara ASEAN. Setelah Singapura (5), negara yang tertinggi peringkat daya saing tahun 2012 adalah Malaysia (25), disusul Brunei Darussalam (28), Thailand (38). Indonesia harus puas bercokol di urutan ke empat dengan posisi ke-50.

Adalah lebih bijak jika subsidi BBM Indonesia yang hampir Rp200 triliun itu memang dialihkan saja, salah satunya untuk mendukung program anak Indonesia sehat. Di beberapa negara di dunia, berbagai upaya nyata dilakukan seperti program konsumsi buah dan sayur segar, program minum susu, program sarapan dan makan siang di sekolah yang diperuntukan agar kebutuhan gizi anak terpenuhi. Juga menyediakan makanan sehat terjangkau terutama untuk masyarakat kelompok rentan. Hal itu dijalankan equal pada semua lapisan masyarakat.

Lebih jauh, pada akhirnya, keberhasilan dari program-program gizi khususnya harus mengutamakan peran aktif dan motivasi yang tinggi dari masyarakat . Tanpa kesadaran untuk memberikan asuhan terbaik bagi generasi penerus bangsa itu, anak Indonesia sulit menjelma menjadi bibit unggul yang mampu menjadi pemenang di tengah ketatnya persaingan global.

Related posts