IPA Minta Eksplorasi Migas Dipermudah

NERACA

Jakarta - Indonesian Petroleum Association (IPA) meminta agar pemerintah harus meningkatkan eksplorasi minyak dan gas. Hal ini, menurut IPA, untuk mengimbangi pertumbuhan Indonesia sehingga berdampak pada konsumsi bahan bakar yang juga meningkat. Untuk mengejar konsumsi tersebut maka dibutuhkan investasi di sektor migas. \"Kita butuh investasi untuk mempertahankan produksi migas. Klo tidak, maka pasti akan menurun terus,\" ungkap Presiden IPA Lukman Mahfoedz di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan saat ini lifting minyak hanya mencapai 860 ribu barel perhari, sedangkan target pemerintah dalam APBN mencapai 900 ribu barel per hari. Lukman juga menjelaskan pendanaan eksplorasi migas pada 2013 mencapai US$2 miliar sedangkan pada 2012 hanya mencapai US$1,5 miliar. \"Kalau ingin produksinya naik, maka eksplorasinya dinaikkan karena dengan begitu, target lifting bisa tercapai,\" ujarnya.

Dengan nilai investasi yang tinggi dan penggunaan teknologi yang baik, tambah Lukman, maka akan menemukan cadangan yang besar melalui EOR. EOR ini memerlukan teknologi yang tinggi. Terutama modal yang besar.\"Sektor migas adalah salah satu kontributor terbesar pemasukan negara. Oleh karenanya sektor tersebut merupakan faktor penting penunjang pertumbuhan ekonomi nasional,\" jelas Lukman.

Saat ini, lanjut Lukman, nilai investasi modal yang besar amat dibutuhkan oleh negara untuk beberapa hal, diantaranya meningkatkan aktivitas eksplorasi dan program EOR, meningkatkan jumlah minyak cadangan dan juga memulihkan kondisi ladang minyak yang saat ini masih beroperasi. \"Kepastian, kejelasan, serta konsistensi kebijakan dan regulasi sangat diperlukan demi mewujudkan investasi tersebut,\" terangnya.

Untuk meninggikan eksplorasi dan mengejar terget lifting, kata dia, diperlukan beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah, antara lain perizinan sederhana, pembebasan tanah yang cepat. \"Kalau izin disederhanakan dan pembebasan tanah dipercepat maka akan semakin cepat untuk mencapai target eksplorasi. Karena jika sekarang eksplorasi maka baru 10 tahun yang akan datang bisa dirasakan,\" tambahnya.

Peningkatan Investasi

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengungkapkan bahwa di 2013 diperkirakan terjadi peningkatan investasi untuk kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi. Hal ini tercermin dari rencana kerja dan anggaran kontraktor kontrak kerja sama (KKS). \"Tercatat sebesar US$ 26,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan komitmen investasi tahun 2012 sebesar US$ 21,88 miliar,\" kata Jero.

Untuk tahun 2013, lanjut dia, pihaknya menyetujui rencana kerja dan anggaran dari 274 kontraktor, yang terdiri dari 74 wilayah kerja (WK) eksploitasi dan 200 WK eksplorasi. Persetujuan anggaran untuk WK eksploitasi sebesar US$23,5 miliar. Rinciannya, untuk membiayai kegiatan eksplorasi sebesar US$2,3 miliar, pengembangan US$5 miliar, produksi US$14,7 miliar, dan administrasi umum sebanyak US$1,5 miliar. Tercatat rencana pengeboran di WK eksploitasi sebanyak 1.177 sumur pengembangan, 1.094 sumur kerja ulang (work over), dan 99 sumur eksplorasi.

Sedangkan untuk anggaran di WK eksplorasi sebesar US$2,7 miliar. Dana tersebut akan dipergunakan untuk melakukan pengeboran sebanyak 75 sumur eksplorasi migas konvensional dan 82 sumur eksplorasi gas metana batubara (coal bed methane/CBM). Sebagai informasi, investasi di WK eksplorasi merupakan biaya yang masih menjadi beban kontraktor sampai kegiatan eksplorasi tersebut dapat dikembangkan untuk diproduksikan secara komersial. \"Kami meminta kontraktor KKS segera melaksanakan rencana kerja yang telah disetujui, sehingga target produksi dan penerimaan negara dapat tercapai,\" kata Jero.

Dia mengatakan, pihaknya mendorong kontraktor mengutamakan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan pemanfaatan tenaga kerja nasional. Menurutnya, investasi yang dibelanjakan di dalam negeri pada akhirnya dapat memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. \"Sekaligus menunjukkan keberpihakan kepada pengusaha nasional,\" katanya.

Di sisi lain, pemanfaatan tenaga kerja nasional akan membuka lapangan kerja. Tahun ini, diperkirakan terdapat tambahan tenaga kerja nasional sekitar 3.700 orang sebagai pekerja langsung di kontraktor KKS. Jumlah penambahan tenaga kerja akan lebih banyak bila memperhitungkan tenaga kontrak yang diperkirakan sebanyak 3.000 orang. \"Terlepas dari semua itu, kontraktor harus efisien dalam berinvestasi. Jangan boros. Lakukan berbagai terobosan di lapangan,\" kata Jero.

BERITA TERKAIT

Atasi Defisit Produksi Migas, Pemerintah Dorong Eksplorasi

      NERACA   Jakarta - Defisit minyak dan gas yang makin besar untuk memenuhi kebutuhan nasional akan mulai…

Migas Penyebab Turunnya Kinerja Ekspor Januari

NERACA Jakarta – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan penurunan ekspor Januari 2019 dibanding Desember 2018 disebabkan oleh turunnya…

RUU Migas Dinilai Harus Berpihak Kepada Daerah

RUU Migas Dinilai Harus Berpihak Kepada Daerah NERACA Jakarta - Kalangan DPD RI mengingatkan Rancangan Undang Undang Minyak dan Gas…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Pasar idEA 2019 Hadir Untuk Pertama Kalinya di Indonesia

NERACA Jakarta – Indonesia e-commerce Association (iDEA) atau Asosiasi E-commerce Indonesia bekerjasama dengan Traya Eksibisi Internasional akan menggelar pameran Pasar…

Pemerintah Siap Kucurkan US$1,1 Miliar Atasi Defisit Migas

NERACA Jakarta – Pemerintah siap mengeluarkan dana 1,1 miliar dolar AS untuk kegiatan eksplorasi guna mengatasi defisit minyak dan gas…

Niaga Energi - Harga Minyak Naik Terpengaruh Atas Kesepakatan Produksi OPEC

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik untuk hari kelima pada perdagangan berada di jalur untuk kuartal pertama terkuat dalam…