Konsumsi Energi Setara 1 Miliar Ton di 2050

NERACA

Jakarta - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel Ibrahim menjelaskan sesuai dengan pertumbuhan ekonomi yang tertera dalam Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) konsumsi energi nasional bakal setara dengan 1 miliar ton di 2050.

\"Konsumsi energi sampai 2050 diprediksi mencapai 1.000 juta ton ekuivalen. Itu adalah proyeksi kami berdasarkan pertumbuhan ekonomi di MP3Ei, konsumsi energi,\" kata Herman saat berdiskusi dengan wartawan di Jakarta, Selasa (16/4).

Ia menjelaskan bahwa saat ini konsumsi energi Indonesia mencapai 3,2 juta ton atau mencapai dua pertiga dari negara-negara maju yang rata-rata konsumsinya mencapai 4,7 juta ton ekuivalen. Lebih lanjut lagi, Ia mengatakan bahwa cadangan batubara mencapai 20 miliar ton dan sumber daya mencapai 104 miliar ton sedangkan untuk cadangan gas mencapai 330 MBTF.

\"Jadi kalau dijumlah semuanya kita itu cukup tetapi data tersebut perlu diuji terlebih dahulu mengingat masih banyaknya Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) yang tumpang tindih sehingga sumber cadangannya juga tumpang tindih,\" katanya.

Namun sayangnya, kata dia, jumlah kandungan energi yang melimpah tersebut justru sebagian besar di ekspor. Produksi batubara setiap tahunya mencapai 400 juta ton. Setidaknya sekitar 80% untuk di ekspor sementara sisanya untuk konsumsi dalam negeri sedangkan untuk gas memproduksi mencapai 3 BCF dengan konsumsi dalam negeri hanya 1,4 BCF.

Menurut dia, kegiatan ekspor yang dilakukan oleh Indonesia merupakan bagian dari kontrak kerjasama dengan perusahaan tambang yang rata-rata kontraknya berjalan dalam jangka waktu yang panjang.

Untuk itu, Ia meminta kepada pemerintah untuk membuat regulasi yang tegas agar hasil bumi Indonesia tidak dinikmati di luar negeri sedangkan kebutuhan dalam negeri juga mendesak. \"Harusnya pemerintah bisa mengendalikan agar energi-energi yang terkandung di dalam negeri tidak semuanya di ekspor. Mindsetnya adalah mengurangi secara bertahap dan membuat lapangan kerja sebanyak-banyaknya,\" katanya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik mengatakan Indonesia pada 2050 mendatang, pemerintah berupaya untuk memaksimalkan penggunaan energi baru dan terbarukan sebagai pasokan energi nasional. Upaya memaksimalkan energi baru dan terbarukan ini dituangkan dalam kebijakan energi nasional yang menjangkau kebijakan nasional hingga 2050. Rancangan kebijakan ini sudah hampir rampung dikerjakan Dewan Energi Nasional. \"Arahnya begini, minyak makin lama peranannya makin kurang. Pada 2025 menurun dibanding sekarang dan pada 2050 menurun lagi,\" kata Jero Wacik.

Jero menambahkan bahwa minyak makin kurang peranannya karena semakin langka dan semakin mahal. Sementara gas, tambah Jero, akan semakin banyak digunakan karena Indonesia memiliki cadangan gas alam yang sangat besar. \"Selain gas, batu bara juga akan semakin meningkat peranannya pada 2025 dan 2050. Pada 2025 setidaknya 25% (menggunakan) energi baru dan terbarukan. Pada 2050 sekitar 40% energi baru dan terbarukan. Saya kira ini bukan mimpi.\" tegas Jero.

Energi Terbarukan

Lebih lanjut Jero memaparkan salah satu sumber energi yang paling meningkat pesat nantinya adalah energi baru dan terbarukan. \"Seperti misalnya 28 titik geotermal bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan saja setidaknya menghasilkan 7.000 MW kandungannya. Jika sumber energi seperti gas, geotermal dan sumber energi baru lainnya bisa dipacu, maka biaya produksi energi bisa ditekan. Sekarang untuk menghasilkan listrik banyak pembangkit kita yang menggunakan solar atau premium. Itu mahal sekali,\" papar Jero.

Jero meyakini penggunaan energi baru dan terbarukan sudah dirintis mulai saat ini maka setidaknya separuh dari pasokan energi nasional berasal dari sumber energi baru dan terbarukan. \"Pada 2025 setidaknya 25% (menggunakan) energi baru dan terbarukan. Pada 2050 sekitar 40% energi baru dan terbarukan. Saya kira ini bukan mimpi,\" tegasnya.

Sepertinya Indonesia perlu mengambil belajar dan mengambil contoh dari Denmark. Negara tersebut ingin membebaskan diri dari tekanan harga dan ketergantungan terhadap minyak bumi. Rencana tersebut juga diperkuat dengan laporan hasil studi Danish Commission on Climate Change Policy yang memprediksi bahwa pada tahun 2050.

Energi Bersih

Denmark telah mempunyai kemampuan untuk menjadi sebuah negara yang bebas dari bahan bakar fosil dan sepenuhnya mengandalkan pada jaringan energi bersih. Studi tersebut juga menekankan bahwa beralih ke energi terbarukan akan lebih efektif dari sisi biaya daripada harus terus bergantung pada bahan bakar fosil, terutama jika harga minyak bumi dan gas alam terus naik. Jika bahan bakar fosil masih digunakan untuk menyuplai permintaan energi yang begitu besar, maka alternatifnya menurut studi tersebut adalah menggunakan energi angin dan biomassa. Denmark memang termasuk negara yang paling banyak menghasilkan energi listrik dari potensi angin yang ada.

Danish Commission on Climate Change Policy sebuah komisi nasional yang bertugas menyusun visi jangka panjang Denmark untuk bebas dari bahan bakar fosil, dalam laporannya juga menyebutkan ada beberapa desain yang perlu untuk membentuk sistem energi di masa depan yaitu pemakaian energi yang lebih efisien, listrik akan menjadi energi utama, turbin angin lepas pantai akan mnjadi pemasok listrik utama, sistem energi cerdas, biomassa sebagai cadangan energi, serta penggunaan mobil listrik dan mobil berbahan bakar bio.

Related posts