Ketidakpastian Meningkat

Oleh : Tumpal Sihombing

Direktur Utama Bond Research Institute

Inflasi kini menyentuh 5,9%, di atas target bank sentral. Rupiah juga terdepresiasi signifikan selama 12 bulan terakhir. Walau rupiah melemah, nilai ekspor tetap mengalami penurunan. Rendahnya permintaan dari mancanegara seakan menjustifikasi penurunan net transaksi perdagangan yang semakin memberatkan balance of trade.

Dalam kondisi money supply yang berkurang belakangan (M2), kebijakan apapun yang ditetapkan terhadap suku bunga acuan tidak akan mengubah substansi isu yang bergulir, kecuali pemerintah memang berniat untuk melansir suatu kebijakan moneter khusus dengan tujuan meningkatkan permintaan terhadap rupiah melalui leveraging kegiatan ekonomi di sisi konsumsi dan investasi secara agregat.

Dalam jangka menengah, kebijakan ini bisa berdampak langsung pada satu hal, yaitu turunnya tingkat keyakinan pelaku usaha dan investor akan sustainable di target pertumbuhan ekonomi agresif yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu 6.8%.

Kami menilai target ini bakal sulit tercapai di tahun 2013. Sebaiknya target ini direvisi-turun di kuartal kedua kecuali pemerintah merasa overconfident yang berpotensi terkesan apatis terhadap probabilitas penurunan peringkat di tahun ini.

Hasil pemeringkatan terkini dari S&P telah mengkategorikan Indonesia sebagai negara dengan grade spekulatif. Moody dan Fitch telah mengkategorikan Indonesia sebagai negara dengan rating terendah dalam kategori investasi. Jika permintaan terhadap barang ekspor terus mengalami penurunan dalam kondisi rupiah yang kian melemah, akan sangat berpotensi menurunkan peringkat Indonesia, bahkan sebelum 2013 berakhir. Hal ini sangat tercermin dari business confidence index yang menurun yang dibarengi pula dengan penurunan level industrial production.

Solusi terhadap isu yang sedang dihadapi oleh perekonomian Indonesia sulit untuk diselesaikan dalam pendekatan yang semata beranjak dari konteks moneter saja atau fiskal saja, khususnya bila memasukkan faktor external uncertainties of demand ke dalam total persamaan yang ada.

Kami menilai dengan aggregate government debt yang ditambah dengan total nilai aset sistem perbankan nasional yang sudah lima kali lebih besar daripada penerimaan pemerintah, merupakan suatu pertanda buruk, khususnya dalam kondisi neraca transaksi berjalan yang sedang negatif saat ini. BondRI menyatakan bahwa perekonomian Indonesia saat ini telah memasuki ambang debt critical point (DCP). Pemerintah perlu lebih prudent dalam melansir kebijakan moneter atau fiskal terhadap suatu permasalahan yang boleh jadi lebih membutuhkan sentuhan khusus di luar ranah moneter atau fiskal.

Kebijakan pemerintah dalam menghadapi kondisi ketidakpastian yang meningkat di mancanegara sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan para pelaku pasar, baik asing maupun domestik. Investor di negara-negara maju telah mengalami kerugian massif dari krisis keuangan yang terjadi. Sebesar apakah peluang krisis di negara maju saat ini akan menjalar ke nusantara? Atau pertanyaan yang lebih tepat lagi adalah, “Seberapa lamakah krisis di negara maju akan berlangsung sebelum efektif menulari perekonomian domestik?”

Oleh karena itu, pemerintah lebih fokus pada suatu skenario khusus untuk menghadapi ketidakpastian mancanegara yang terus meningkat dalam hitungan hari. Let us be prudent and beware.

Related posts