Strategi, Kunci Pokok Tingkatkan Produksi

NERACA

Semarang - Kepala Divisi Regional (Kadivre) Bulog Jawa Tengah, Witono, mengatakan apabila tahun ini produksi bagus, maka diharapkan tidak ada impor beras ke Jawa tengah, semuanya dari dalam negeri. “Kita berusaha optimalkan produksi gabah dan beras di jawa tengah,” kata dia di Semarang, Jawa Tengah, pekan lalu.

Sebagai salah satu divre yang besar, Jawa tengah membuat beberapa strategi untuk meningkatkan produksi, salah satunya adalah program Pengadaan Dalam Negeri (ADA DN) setara beras sebanyak 332.570 ton dan terealisasi 44.07% dari data yang diambil per 9 april 2013. Sementara tahun 2012, merupakan produksi ADA DN tertinggi yakni 779,983 ton, dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 413,060 ton.

Strategi berikutnya adalah, kerja sama antara divre/subdivre dengan dinas terkait dan melakukan pembentukan satuan tugas(satgas) sejak awal pengadaan produksi. Dari sisi pelayanan, “One day service” yaitu pelaksanaan kontrak dan pembayaran Surat Perintah pembayaran (SPP) bisa dilakukan hanya selama 1 hari. “Ini dimaksudkan agar pengusaha lebih bersemangat bekerja sama dengan kami,” kata Witono.

Kemudian menyederhanakan persyaratan untuk menjadi mitra kerja khusus di Bulog, untuk kelompok tani (poktan) atau gabungan kelompok tani (gapoktan) serta pemberian insentif karung plastik dan benang kepada mitra. “Semua diberikan ke mitra yang sudah kontrak dengan Bulog,” tandasnya.

Sementara Kepala Bagian Program Dinas Pertanian dan Hortikultura Jawa Tengah, Bimo Santoso, mengungkapkan pada tahun 2012 kontribusi nasional Jawa tengah sekitar 14,38%. Sedangkan untuk target padi 2013 sebesar 10.234.909 ton.

Target tersebut bisa diraih dengan beberapa strategi pencapaian yang matang, seperti perbaikan irigasi. Bimo menambahkan, masih banyak irigasi yang buruk dan belum diperbaiki. “Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah belum mampu membiayai jaringan irigasi. Jadi kami meminta ke Pemerintah Pusat setiap tahunnya sekitar Rp100 miliar,” ujar Bimo.

Selain strategi irigasi, suksesnya pencapaian target panen juga didukung oleh benih yang unggul. “Tahun 2013 tidak ada Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU). Walaupun Cadangan Benih nasional (CBN) masih ada jika terjadi bencana,” kata dia. Kondisi panen tertinggi sempat terjadi pada 2012, yaitu 10.232.934 ton.

Kualitas lahan di Jawa Timur dan Jawa tengah yang sebagian besar telah dieksploitasi dengan pupuk kimia, serta besarnya prosentase alih fungsi lahan yang menjadikan kualitas lahan menurun, hal ini dapat menyebabkan turunnya produksi beras di daerah ini.

Bimo menjelaskan, terkait alih fungsi yang semakin meningkat, pihaknya telah menerbitkan peraturan daerah lahan pertanian untuk pangan berkelanjutan diharapkan lahan produktif dikunci dan tidak digunakan untuk lahan non pangan. “Di Jateng, kami berupaya menguji lahan yang ada dan menerbitkan Perda,” jelas Bimo.

Terkait masalah irigasi, hal ini juga dibenarkan oleh Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jawa Tengah, Munaji, bahwa rusak bahkan berkurangnya sarana irigasi diakibatkan oleh pencurian besi-besi di pintu air tersebut. “Banyak yang dicuri orang alat irigasinya,” ungkap Munaji. Lalu, masalah tenaga kerja menjadi hal yang paling krusial, karena banyak petani yang generasinya memilih bekerja di sektor non pertanian. [sylke]

Related posts