Pelaku Pasar Diminta Cermati Lima Sektor Saham

NERACA

Jakarta-Kekhawatiran telah tingginya posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat indeks gagal dan meninggalkan level psikologis 5000. Ke depan, indeks pun dinilai akan cenderung sensitif terhadap imbas laju bursa saham global dan berbagai sentimen lainnya. “Orientasi pelaku pasar masih sama di mana telah berubah untuk jualan pasca rilis laporan keuangan full year. Selama IHSG tidak mendekati gap di 4786-4798 maka diharapkan jika pun terjadi pelemahan masih tahap terbatas.” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta kemarin.

Menurutnya, pelaku pasar dapat mencermati lima sektor saham, yaitu konsumer, properti, infrastruktur, pertambangan, dan manufaktur. Dalam pekan kemarin beberapa sektor tersebut pun berhasil mengalami penguatan (rebound), seperti sektor properti yang mengalami penguatan sebesar 2,20%, infrastruktur 1,62%, konsumer 0,68%, dan manufaktur sebesar 0,08%. Saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain INDF, BBCA, WIKA, CTRA, LPKR, SMRA, SMCB, AKRA, PTBA, INCO, dan ADHI.

Dia menilai, laju variatif naik tipis kemungkinan bisa kembali terjadi jika sentimen yang ada mendukung untuk kenaikan. Beberapa data ekonomi yang akan menjadi perhatian sentimen antara lain rilis data pertumbuhan ekonomi Cina, dan produksi industri, data ekspor impor, perdagangan, dan konsumsi Jepang, serta data terbaru mengenai laju inflasi (core inflation rate), housing starts, industrial production,dan initial jobless claims Amerika Serikat.

Disebutkan Reza, selain sentimen global, salah satu pelemahan IHSG sepanjang pekan kemarin antara lain dipicu dengan derasnya asing melakukan aksi jual (nett sell), di mana asing mencatatkan nett sell senilai Rp1,61triliun, turun dari sebelumnya nett buy Rp817,75 miliar. Meski asing masih tercatat nett sell secara keseluruhan, namun masih adanya nett buy asing pada beberapa saham-saham big cap memberi kenyamanan untuk IHSG berada di zona hijau. Meskipun secara intraday, perdagangan cenderung flat.

IHSG juga sempat memperlihatkan laju anomalinya di mana mayoritas bursa saham Asia menghijau, namun IHSG sebaliknya. Positifnya data dari Jepang dan China jelang akhir pekan yang dikombinasikan dari berita positif Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan level BI ratenya membuat animo pelaku pasar, terutama lokal untuk bertransaksi cukup tinggi sehingga kembali antarkan IHSG menguat.

Reza menambahkan, pergerakan nilai tukar rupiah juga berhasil positif meski tipis selama sepekan dengan sentimen dari pidato The Fed yang masih akan memperpanjang bond buying programnya. Nilai tukar poundsterling turut menguat menanggapi kabar tersebut dan juga didukung oleh kenaikan trade balance Jerman dan industrial production Inggris.

Sentimen lain yang mempengaruhi apresiasi rupiah yaitu kenaikan data business confidence di Australia, positifnya data ekspor impor China meski secara total mencatatkan penurunan pada neraca perdagangannya. Hal ini juga didukung oleh upaya bank sentral Jepang dan Amerika Serikat menstimulus pertumbuhan ekonomi, ekspektasi pelonggaran moneter oleh PboC, serta kenaikan current account Jepang.

(lia)

Related posts