Laba Bersih Mega Syariah Rp184,87 Miliar - Sepanjang 2012

NERACA

Jakarta - PT Bank Mega Syariah mencatat perolehan laba bersih sebesar Rp184,87 miliar selama 2012, atau melonjak tajam 243,20% dibanding perolehan Rp53,87 miliar selama 2011. Perolehan laba ini ditopang pertumbuhan bisnis, terutama pembiayaan yang mencapai 51,74%. “Laba setelah pajak tumbuh sangat signifikan, yaitu 243,20%. Industri perbankan syariah juga ikut tumbuh sebesar 72,27%,” tutur Direktur Utama Bank Mega Syariah, Beny Witjaksono di Jakarta, Jumat (12/4), pekan lalu.

Sementara untuk tahun ini, perseroan menargetkan akan mencapai laba bersih sebesar Rp265 miliar sebelum pajak. Benny pun mengaku optimis mampu mencapai target tersebut. “Tahun 2013, kita memiliki target mencapai profit digross-nya Rp265 miliar, atau Rp198 miliar setelah pajak,” ujarnya.

Namun sayang, Beny tidak menyebut ekspansi bisnis seperti apa yang akan dilakukan perseroan untuk dapat mencapai target tersebut. Beny juga menambahkan, pencapaian peningkatan laba setelah pajak perusahaan pada tahun lalu ditopang oleh tiga faktor utama. Pertama, pertumbuhan bisnis itu sendiri. Kedua, peningkatan produktifitas karyawan. Ketiga, keberhasilan perseroan dalam mengendalikan biaya operasional.

Selain itu, perseroan mencatat kucuran pembiayaan mencapai Rp6,21 triliun per akhir tahun 2012, naik 51,74%, dibandingkan Rp4,09 triliun pada akhir 2011. Lalu, pada kuartal I 2013 ini, total pembiayaan tersebut sudah mencapai Rp7,127 triliun. Ini sudah hampir mencapai jumlah yang sudah ditargetkan di awal tahun yakni mencapai Rp7,4 triliun pada akhir 2013.

Beny menerangkan bahwa apabila jumlah pembiayaannya semakin membesar, maka kemungkinan besar akan dilakukan revisi target. “Kami akan revisi target, pada bulan Juli kami selalu melakukan evaluasi, kemungkinan akan ada revisi target dari target awal pembiayaan kami,” ucapnya.

Bank Mega Syariah mengaku juga akan menekan rasio pembiayaan bermasalah (nonperforming financing/NPF) di kisaran 2,23% pada tahun ini, dibandingkan dengan jumlah pada 2012 yang mencapai 2,67%. Adapun untuk segmen pembiayaannya, perseroan lebih fokus menyalurkan kepada UKM dan konsumer.

“Sektor UKM akan memberikan kontribusi sebanyak 50%, diikuti denganjoint financing(kredit kendaraan bermotor/KKB) sebesar 40%, dan sisanya berasal dari pembiayaan komersial. Dana haji dan gadai akan tetap, karena memang fokus kami adalah pembiayaan UKM dan pengembangan nasabah mikro,” paparnya.

Sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 44,09% (yoy) dari Rp4,93 triliun di akhir 2011, menjadi Rp7,10 triliun pada akhir tahun lalu. Sementara aset meningkat 46,71% (yoy) dari Rp5,56 triliun menjadi Rp8,16 triliun di akhir 2012.

Adapun rasio keuangan lainnya tercatat rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 13,51%, rasio pembiayaan terhadap DPK (financing to deposit ratio/FDR) sebesar 88,88%, NIM (net interest margin) sebesar 13,94%, beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 77,28%,return onassets (ROA) 3,81%, danreturn on equity(ROE) sebesar 57,98%. [ria]

Related posts