Menkeu Siap Berkoordinasi - Merosotnya Rupiah dan Impor Migas Tinggi

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Agus Dermawan Wintarto Martowardojo, mengaku siap berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dan sektor riil menyusul terus melemahnya nilai tukar rupiah. \"Kami siap merespons itu (melemahnya nilai tukar rupiah) dengan melakukan koordinasi tidak hanya di lingkungan Pemerintah tapi juga dengan BI dan sektor riil,\" kata dia di Jakarta, Selasa (9/4).

Saat ini, nilai tukar rupiah yang telah menembus angka Rp9.700 per dolar AS. Artinya, kata Agus Marto, masih stabil lantaran tidak ada volatilitas yang ekstrem. \"Kalau sementara ini rupiahnya stabil di posisi Rp9.700, itu mencerminkan fundamental dan tidak terjadi volatilitas yang terlalu ekstrem,\" klaim dia.

Pada penutupan Selasa (9/4) kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar uang spot antarbank Jakarta menguat 26 poin menjadi Rp9.730 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya yang sebesar Rp9.756 per dolar AS. Penguatan ini akibat pasar merespon positif atas penerbitan surat utang internasional (global bond) oleh Pemerintah Indonesia.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) akan memberlakukan kurs referensi pasar spot valuta asing dalam negeri pada April ini yang akan dibentuk oleh 30 bank di Indonesia yang aktif melakukan transaksi devisa. Deputi Gubernur BI belum dilantik Perry Warjiyo, mengatakan fixing spot akan menjadi referensi yang paling baik bagi semua pelaku pasar.

\"Sudah ada referensi 30 bank di Indonesia yang aktif melakukan transaksi pada bulan depan, referensi nilai tukar rupiah yang terjadi di pasar. Kita pun sudah bertemu dengan perbankan dan sudah berkomunikasi mengenai masalah ini,\" ujar Perry, belum lama ini.

Dia menilai, pihaknya sudah menyiapkan bagian infrastruktur teknologi informasi (IT) dalam mendukung referensi nilai tukar rupiah, yang berguna untuk forward dan pasar spot di Indonesia. Menurut Perry, bulan ini belum bisa diberlakukan fixing spot tersebut, karena masih banyak supporting yang harus dipenuhi. Baru pada April referensi nilai tukar akan diberlakukan pada jam-jam tertentu.

Hingga saat ini, belum ada referensi nilai tukar rupiah di pasar domestik. Sehingga pelaku pasar valas sulit dalam melihat instrumen forward yang ada di dalam negeri. Instrumen yang dibutuhkan orang itu tidak hanya spot saja. Sementara untuk waktu fixing spot diperkirakan pada pukul 10.00-12.00 WIB.

Sementara itu, Menkeu Agus Marto juga mengtakan bahwa pihaknya menyoroti impor migas yang terus meningkat yang berdampak pada defisit neraca perdagangan. \"Ini memberikan tekanan pada neraca pembayaran, fiskal dan inflasi. Tiga hal ini yang harus diwaspadai,\" terangnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada periode Januari-Februari 2013, ekspor hasil minyak Indonesia adalah sebesar US$707 juta, sementara impornya US$5.071,6 juta. Dengan demikian, neraca perdagangan mengalami deficit sebesar US$4.364,6 juta. Sedangkan untuk gas, ekspor Indonesia adalah sebesar US$3.000,7 juta, sementara impornya sebesar US$526,5 juta, sehingga mendapati surplus sebesar US$2.474,2 juta. [ardi]

Related posts