Bulog Dorong Percepatan Tanam - Antisipasi Musim Kemarau

NERACA

Jakarta - Awal musim kemarau 2013 di sebagian daerah diperkirakan pada bulan April hingga Juni 2013 akan mengakibatkan mundurnya panen raya. Kemunduran yang diperkirakan hampir merata satu hingga dua bulan. Untuk mengantisipasi hal ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) mengambil langkah untuk sosialisasi percepatan tanam kepada seluruh petani.

“Bulog dan Dinas Pertanian sudah mengantisipasi hal ini. Karena belum semua petani tahu akan ramalan BMKG. Ini dilakukan untuk menghadapi iklim yang tak menentu,” ujar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional, Winarno Tohir, di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (9/4).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Cirebon, Ali Effendi, menjelaskan bahwa produksi di kabupatennya termasuk baik. Dia mengatakan, ini bisa dilihat dari hasil produksi pada 2012 sebesar 7,49 ton, ini melampaui target yang hanya 6,1 ton. “Ini sangat baik, walaupun sempat kena kemarau,” tambahnya. Langkah yang diambil Ali untuk menghadapi kemarau tahun ini adalah dengan cara percepatan tanam dan pemberian bantuan traktor untuk petani.

Menyikapi alih fungsi lahan yang kini marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, Ali menjelaskan jika alih fungsi ini terjadi karena rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) atau rencana pembangunan jalan tol, pihaknya tidak ingin menghambat rencana itu. “Karena itu program nasional, jadi kami tidak akan menghambat,” terang Ali.

Sedangkan untuk proyek pembangunan perumahan, dia menyebut banyak pengembang yang meminta ijin secara paksa, misalnya, petani membuat rumah terlebih dahulu dan baru mengajukan izin untuk pengembangan.

Sedangkan KepalaBulogDivisi Regional Jawa Barat, Usep Karyana, mengungkapkan pada 2012 capaian produksi mencapai tiga kali lipat dari 2011. Sementara target pengadaan di 2013 sebesar 500 ribu ton. Target ini, kata dia, akan dikembangkan dari provinsi lain dan tidak hanya dari wilayah Pantai Utara (Pantura) saja.

“Kami antisipasi untuk coba mengembangkan di Jawa Barat bagian selatan seperti sukabumi, kami telah menyiapkan 5.000 hektar untuk dikelola,” ujar dia. Dengan upaya ini, diharapkan Jawa Barat ada di urutan ketiga, setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Salah satu upaya untuk mempermudah pengembangan di Cirebon, aktifitas transaksi perbankan dibuka setiap hari perminggu, ini diharapkan mampu menjadi salah satu pelayanan prima untuk para mitra Bulog. Selain itu, proses pengajuan kontrak pun tidak akan di persulit, cukup menggunakan surat dari Dinas Pertanian setempat, maka para calon mitra sudah bisa kontrak dengan Bulog.

Selain fokus terhadap beras miskin, Bulog juga melebarkan sayap dengan mengembangkan beras premium komersial yang diberinama lokal sesuai nama daerahnya, contohnya, beras dari Indramayu diberi nama “Mangga Gincu” serta beras dari Cirebon diberi nama “Sega Jamblang.” [sylke]

Related posts