Indef: Bahaya Defisit Ganda di Depan Mata

NERACA

Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperingati pemerintah akan bahaya defisit ganda atau twin deficit. “Beberapa indikator berpotensi menghambat target-target ekonomi sepanjang 2013. Setidaknya Indonesia dihadapkan dengan tantangan defisit neraca perdagangan dan defisit keseimbangan primer atau sering diistilahkan defisit ganda atau twin defisit,” kata ekonom Indef Eko Listiyanto di Jakarta, Selasa (9/4).

Defisit neraca perdagangan Indonesia sudah terjadi sepanjang 2012 dengan defisit sebesar US$1,63 miliar, padahal Indonesia mengalami surplus perdagangan pada 2011, yaitu sebesar US$ 26,1 miliar. Keadaan ini masih berlanjut di tahun 2013. Neraca Perdagangan Januari-Februari 2013 telah mencetak defisit sebesar US$0,4 miliar.

“Di Neraca perdagangan migas, Indonesia sudah lampu merah karena defisit neraca perdagangan migas kita US$5,6 miliar, padahal di 2011 defisitnya hanya US$0,1 miliar. Pemicunya adalah impor hasil minyak yang sudah sampai US$24,5 miliar dolar. Produksi minyak kita turun tapi konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) meningkat pesat. Itu sumber masalahnya,” jelas Eko.

Menurut dia, upaya penghematan konsumsi BBM dengan gas dan segala macam itu belum cukup signifikan. Hal ini karena magnitute penggunaan BBM untuk transportasi masih tinggi. Ini juga karena kebijakan subsidi yang tidak rasional. Setelah dibandingkan dari 140 negara, harga bensin Indonesia ada pada peringkat 137 alias masih sangat murah.

“Yang lebih aneh lagi, pertumbuhan ekonomi kita ranking dua, tapi penggunaan bensin non subsidi makin turun. Dugaan kita, upaya-upaya semacam pembatasan dan segmentasi pasar ini tidak efektif mencegah bocornya subsidi itu. Bisa jadi industri menggunakan BBM bersubsidi ini,” jelas Eko.

Di sisi yang lain, Indonesia juga mengalami defisit APBN. “Kebijakan defisit APBN yang ditempuh pemerintah selama bertahun-tahun, alih-alih berdampak terhadap kesehatan fiskal dan meningkatnya stimulus fiskal, namun justru berdampak pada defisit keseimbangan primer,” jelas Eko.

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) EC-Think, Iman Sugema, mengingatkan bahwa Utang luar negeri swasta sudah hampir mencapai ambang batas. Ini terlihat dari komposisi utang luar negeri Indonesia per 31 Desember 2012, diantaranya utang swasta mencapai US$125 miliar, hampir menyamai besarnya utang pemerintah yang tercatat US$126 miliar.

Selain itu, tingginya impor yang melampaui ekspor dan meningkatnya beban repatriasi (keuntungan perusahaan swasta asing yang beroperasi di Indonesia lalu dibawa ke negara asalnya), juga berpotensi menyebabkan defisit neraca transaksi berjalan (NTB) dan defisit fiskal, atau dikenal dengan defisit ganda (twin deficit) yang menjadi ancaman terbesar perekonomian Indonesia pada 2013.

Dia menilai tingginya utang luar negeri swasta ini harus diwaspadai lantaran bisa menjadisilent killerterhadap pertumbuhan ekonomi. “Klaim ekonomi kita bagus memang benar, karena ditopang sama konsumsi domestik serta pertumbuhan masyarakat kelas menengah. Tapi anehnya, kok, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah? Lalu, cadangan devisa kita sejak 2001-2012 juga terus menurun,” ungkap Iman, belum lama ini.

Dia pun memprediksi defisit anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedikit lebih tinggi ketimbang defisit APBN 2013 yang ditetapkan Pemerintah sebesar Rp150,2 triliun atau 1,6% dari PDB. Selama periode 2004 sampai 2012, keseimbangan fiskal pemerintah selalu mengalami defisit, sedangkan swasta, hingga 2011 justru selalu mengalami surplus.

Beban pembayaran kembali utang luar negeri swasta terus melonjak dari US$6,1 miliar di kuartal III-2006 menjadi US$40 miliar pada kuartal III-2012. Sementara beban pembayaran kembali utang luar negeri pemerintah hanya US$1,1 miliar. Beban swasta kian besar itu diakibatkan tenornya jangka pendek. Hal ini berbeda dengan pemerintah yang beban utangnya kecil lantaran tenornya jangka panjang. [iqbal]

Related posts