Pelepasliaran Orangutan Perlu Dukungan CSR Perusahaan - Butuh Biaya Besar

Kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pemegang konsesi hutan melalui program CSR mereka, perlu dilakukan untuk melaksanakan implementasi hutan bernilai konservasi tinggi baik di hutan produksi dan hutan konversi yang jadi habitat orangutan.

NERACA

Ibarat lebah pada bunga, begitulah peran orangutan (Pongo Pygmaeus) bagi ekosistemnya. Namun, sekitar 60% satwa liar dilindungi ini justru hidup di hutan di luar kawasan konservasi. Kawasan konservasi yang masih banyak memiliki habitat orangutan Kalimantan hanya di Tanjung Puting dan Gunung Palung, habitat orangutan lainnya justru bukan di kawasan konservasi. Padahal, seluruh hutan Kalimantan sudah terbagi-bagi dalam konsesi-konsesi.

Dikhawatirkan satwa yang jumlahnya tinggal sekitar 54 ribu – 56 ribu ekor ini akan semakin cepat punah jika para pemilik konsesi hutan ini memanfaatkan hutannya tanpa pemahaman dan kepedulian terhadap satwa liar. Ya, orangutan terancam punah bukan saja oleh perburuan ilegal, melainkan akibat kehilangan habitatnya yang disebabkan kebakaran hutan, illegal logging dan konversi lahan hutan.

Seluas 1,87 juta ha hutan Indonesia hilang setiap tahun akibat perluasan sektor perkebunan yang menghancurkan hutan alam sehingga hilanglah habitat orangutan dan merosot pula jumlahnya. Padahal primata yang hidup diwilayah hutan hujan tropis diAsia Tenggara ini tanpa sadar ikut membantu pembenihan tumbuhan-tumbuhan di hutan.

Kepada Neraca Direktur Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation – BOSF, Dr. Jamartin Sihite mengungkapkan 60% Orangutan itu hidup di luar kawasan konservasi. Mereka hidup di hutan produksi dan di kawasan penggunaan lain yang sekarang dalam tata ruangan kita kondisinya berputar yang sewaktu-waktu dapat berubah fungsi, seperti menjadi kawasan perkebunan atau pun yang lainnya.

Oleh karena itu, sambung Jamartin, melindungi orangutan berarti juga melindungi habitatnya, termasuk yang ada diluar kawasan konservasi sehingga semua pihak termasuk pemilik konsesi hutan juga memiliki tanggungjawab melindungi orangutan yang ada di wilayahnya.

“Pemahaman inilah yang patut dimiliki para perusahaan perkebunan. Munculnya orang utan di wilayah tersebut semestinya tidak dianggap sebagai hama. Di luar soal itu, keberadaan orangutan di lahan perkebunan merupakan konsekuensi dari aktivitas industri itu sendiri,” imbuh dia.

Lebih lanjut Martin mengatakan, bayangkan jika 60% orangutan harus menghadapi ketidakpastian hidup ketika ekonomi pembangunan naik dengan cepat yang justru membuat habitat mereka tinggal dikonversi. Maka dari itu yang diperlukan adalah bagaimana agar orang utan bisa terjaga kelangsungan hidupnya di tempat itu.

“Nah, siapa yang bisa berperan disitu? Ya teman-teman swasta tentunya,” ujar dia.

Butuh Biaya Besar

Meliarkan orangutan, membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit sehingga dibutuhkan bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Mengapa? layaknya bayi manusia, bayi orangutan tidak bisa langsung dilepaskan begitu saja. Bayi orangutan juga membutuhkan induknya untuk melatih, mengajari dan membesarkan sampai bayi orangutan tersebut mampu mandiri hidup mandiri.

Jamartin mengungkapkan, setiap bayi orangutan yang ada di pusat rehabilitasi itu membutuhkan waktu 7 - 8 tahun untuk bisa diajarkan bertahan hidup di hutan. Paling tidak perbulannya membutuhkan sekitar Rp 3,5 Juta hingga Rp 4 juta untuk tiap individu orangutan. Belum lagi untuk melestarikan orangutan harus membayar kepada pemerintah. Pembayaran biaya dimaksudkan untuk lisensi pengelolaan hutan (HPH) restorasi sebagaimana yang dilakukan perusahaan-perusahaan yang akan menebang hutan.

Tahun lalu, lanjut Martin, BSOF telah membayar sekitar 1,3 juta dolar AS atau Rp14 miliar demi memperoleh HPH restorasi untuk hutan seluas 86.460 hektar sebagai kawasan konservasi orangutan. Ini sangat berat, oleh karena itu kami berharap perusahaan-perusahaan turut memberikan kontribusinya melalui program CSR sebagai wujud kepedulian untuk melestarikan satwa unik khas Indonesia yang terancam punah.

“Kami harap teman-teman swasta mau membuka hati dan dompetnya untuk menjaga kelestarian orangutan,” kata pria yang akrab disapa Martin ini.

Beberapa perusahaan yang telah bekerjasama dengan BOSF adalah PT Bridgestone Tire Indonesia. Bentuk kontribusi PT. Bridgestone Tire Indonesia yang disalurkan melalui Yayasan BOS tersebut berupa pemberian donasi untuk mendukung kegiatan pelestarian dan perlindungan Orangutan, adopsi 2 Orangutan dan pelestarian lahan hutan seluas 1 hektar agar dapat menjadi habitat pelestarian Orangutan selama 8 tahun yang diberi nama ”Bridgestone – Hutan Ecopia” dan juga produk ban untuk 27 kendaraan operasional Yayasan BOS.

Belum lama ini, PT Actavis Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOS) menjadi orang tua asuh bagi 1 orangutan berjenis kelamin perempuan bernama Acta. Selain itu, Kaltim Prima Coal (KPC), EcoDynamics, Bank Central Asia (BCA), dan Citi Bank yang mendukung operasi pelepasliaran orangutan tersebut.

Related posts