Kejar Target vs Gagal Bayar

Oleh : Tumpal Sihombing

Presdir Bond Research Institute

Kondisi pasar surat berharga Indonesia masih relatif muda dan kecil bila dibandingkan negara maju seperti AS, Jepang dan beberapa negara Eropa. Ragam faktor yang masuk dalam pertimbangan, pola-pikir dan dasar kajian bagi para pelaku pasar serta perumus kebijakan juga masih terus mengalami penyesuaian yang tidak terlepas dari dinamika tuntutan dan kondisi perekonomian.

Pasar terus berkembang, baik dari segi hard-infrastructure maupun soft-infrastructurenya, seakan interaksi mutualis nan optimal antara dinamika pasar dan intervensi pemerintah sedang berusaha mencari suatu pola dan bentuk pasar modal yang kuat dan ideal dalam kancah perekonomian global. Namun, proses discovery mechanism ini bagaikan pedang bermata dua, yang berdampak pada dua hal terkait perekonomian, yaitu pertumbuhan dan inflasi.

Dalam konteks subset dari perekonomian secara umum, perkembangan yang berlangsung ini memunculkan dua faktor utama yang saling kontradiktif dalam industri jasa keuangan dan pasar modal, yaitu pertambahan via emisi dan risiko gagal bayar obligasi.

Seperti untuk 2013, target pertambahan via emisi obligasi pemerintah tercatat Rp 177 triliun. Lalu pada tahun yang sama, target pertambahan via emisi obligasi korporasi senilai Rp 50 triliun. Sementara pada akhir tahun 2012, outstanding volume obligasi pemerintah mencapai Rp 820 triliun, dan outstanding volume obligasi korporasi mencapai Rp 173 triliun.

Menilai jumlah masif ini, muncul pertanyaan besar, Apa faktor utama yang menjadi tolok ukur para pelaku pasar dan perumus kebijakan agar target tersebut di atas dapat dinilai sukses dalam inisiatif pengembangan pasar obligasi domestik? Jika jawaban terhadap pertanyaan ini adalah tercapainya target emisi obligasi pemerintah dan korporasi untuk 2013, itu adalah simplifikasi yang sangat berpotensi menimbulkan preseden laten dan kurang baik bagi perekonomian.

Secara prinsip, ada tiga perihal utama yang perlu diperhatikan oleh para perumus kebijakan dan pelaku pasar atau emiten, termasuk investor dalam menyikapi target emisi obligasi pemerintah dan korporasi tahun 2013, yaitu tingkat kemampuan issuer dalam pelunasan kewajibannya, efektivitas jenis obligasi yang ditawarkan dalam proses emisi dan immunisasi nilai portofolio efek terhadap faktor risiko eksternal. Immunisasi adalah upaya menghilangkan dampak perubahan suku bunga terhadap nilai portofolio asset under management (AUM). Ini merupakan suatu bentuk best practice yang dapat memitigasi risiko investor dalam memegang obligasi.

Jadi, penambahahan volume outstanding obligasi via emisi boleh saja berskala masif. Namun apabila para pelaku pasar dan investor tidak dibekali secara memadai akan ketiga hal di atas, tentu akan mencerminkan sikap overconfident. Dalam perjalanan sejarah pasar modal, tidak jarang terjadi bahwa investasi yang overconfident cenderung berawal dari perasaan senang, tetapi berakhir dengan kasus.

Oleh karena itu, pentingnya edukasi terhadap ketiga tersebut merupakan suatu bentuk pendekatan preventif yang efektif, yang dapat mengurangi frekuensi kasus gagal bayar di sisi emiten dan kerugian di sisi investor.

BERITA TERKAIT

ESDM Cari Cara Kejar Target PNBP Migas

      NERACA   Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan bahwa faktor harga…

PDIP Kejar Target Kemenangan Jokowi 63,4 Persen

PDIP Kejar Target Kemenangan Jokowi 63,4 Persen NERACA Jakarta - Sekjen DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P) Hasto Kristiyanto,…

Bayar Utang Rp 1,14 Triliun - Golden Plantation Jual Aset Kebun di Jambi

NERACA Jakarta – Danai pelunasan utang senilai Rp 1,14 triliun, PT Golden Plantation Tbk (GOLL) akan mendivestasikan aset yang dimiliki.”Di…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bianglala Keuangan Inklusif

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Sebagai masyarakat demokrasi yang harus terlibat dalam partisipasi, publik dibuat bertanya – tanya, entah…

Menjawab Kasus Kartel

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef Dalam diskusi tempo hari, penulis sudah membeberkan fakta-fakta yang memperkuat dugaan penulis tentang adanya kartel…

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…