Dirjen Pajak: Hackers Mencoba Bobol Sistem IT Pajak

NERACA

Jakarta - Banyak hackers atau oknum tidak bertanggung jawab yang mencoba masuk dan membobol sistem Informasi Teknologi (IT) Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak. Para hackers tersebut mempunyai maksud untuk mencari informasi tentang Surat Pemberitahuan (SPT) Pajak yang kemudian bisa disalahgunakan.

“Setiap hari ada ribuan hackers yang mencoba masuk ke dalam sistem IT pajak,” kata Direktur Jenderal Pajak Fuad Rachmany di kantornya, Jumat (22/3) pekan lalu. Fuad mengatakan, para hackers tersebut berusaha untuk mencari angka atau nilai pajak dari SPT yang telah diterima Ditjen Pajak.

Menurut dia, para hackers tersebut ingin menginformasikan kepada publik tentang SPT pajak orang orang terkenal atau oknum penting di negeri ini. Informasi tersebut akan cukup menjual. “Kalau SPT asli tetap ada di tangan kami, kami memastikan tidak ada kebocoran, tapi para hackers selalu berusaha untuk masuk ke dalam sistem IT kami,” ujar Fuad.

Ditjen Pajak, lanjut Fuad, mempunyai sistem proteksi yang bernamafirewall. Ia menjelaskan dengan sistem proteksi ini, data-data yang ada dalam sistem IT pajak dijamin keamanannya sehingga para hackers akan mengalami kesulitan dalam mencari informasi.

Fuad mengatakan tindakan para hackers yang mencoba untuk membocorkan SPT pajak kepada publik merupakan tindakan kriminal yang melanggar hukum. Dia mengatakan Ditjen Pajak akan terus bekerja sama khususnya Kepolisian untuk menindaklanjuti kasus kasus pembocoran SPT pajak ini. Ia mengatakan para pelaku mesti diberikan hukuman.

“Kita punya sistem. Kalau ada yang masuk kita coba kejar, karena pasti ketahuan, adalog book-nya,” jelas Fuad. Membesarnya kasus informasi SPT yang bocor ini adalah karena sebuah media massa bisa mengungkapkan bahwa Presiden Susilo bambang Yudhoyono kurang patuh dalam pembayaran pajak.

Pemberitaan tersebut segera dinetralisir oleh Ditjen Pajak yang mengatakan bahwa Presiden sudah cukup taat dalam membayar dan melaporkan pajaknya. “Presiden SBY sudah menjadi korban atas kenakalan para hackers ini, tapi untungnya semua data yang telah dibocorkan tidak benar, kami langsung klarifikasi, kami tidak mau kasus seperti ini terjadi lagi apalagi menyangkut orang besar,” jelas Fuad.

Dia pun tidak mau mempermalukan media massa tersebut. Kebenaran angka di dalam media tersebut belum tentu benar. Kebenarnnya juga tidak dapat diyakini karena angka bisa berubah. “Siapapun yang memasukkan itu bisa diubah-ubah angka. Dan yang pasti, aslinya tidak pernah bocor, masih kita simpan. Itulah data yang benar yang ada pada kami,” pungkasnya. [iqbal]

Related posts