Pasokan Mandeg dan Volatile Food Jadi Penyebab Inflasi di Solo

NERACA

Solo - Bank Indonesia (BI) Wilayah Solo Raya memaparkan bahwa inflasi yang terjadi pada periode Januari-Februari 2013 mencapai 2,36%. Penyebab terjadinya inflasi akibat ketidakstabilan harga komoditas atau volatile food. Deputi Kepala Perwakilan BI Wilayah Solo Raya, Arif Nazaruddin, menjelaskan inflasi pada Januari sebesar 1,33%, meningkat dari periode yang sama tahun lalu sebesar 0,22%.

Sedangkan inflasi di Februari sebanyak 1,03%, naik dari Februari 2012 yang hanya 0,08%. Menurut dia, volatile food ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Musim hujan yang tinggi menyebabkan petani gagal panen serta kebijakan impor bawang Pemerintah, mengakibatkan inflasi di Solo Raya. Harga komoditas yang melonjak tinggi antara lain bawang merah dan bawang putih, jeruk, tomat serta cabai rawit,” ujar Arif kepada Neraca di Solo Jawa Tengah, Minggu (17/3), pekan lalu.

Lebih lanjut dirinya menuturkan, selain itu, masalah pemenuhan kebutuhan (supply) dan distribusi barang juga turut menyumbang inflasi. Pasalnya, kata Arif, selama ini Solo mendapat kiriman barang dari Surabaya, Jawa Timur. Akan tetapi, harga bawang putih per kilogram di Solo justru lebih rendah ketimbang Surabaya.

“Bawang putih di Solo sekitar Rp50 ribu per kg. Kalau di Surabaya bisa mencapai Rp100 ribu per kg, atau 50% lebih tinggi. Dari Surabaya, barang komoditas dikirim ke Semarang untuk kemudian didistribusikan ke seluruh wilayah Jawa Tengah. Nah, pasokan agak tersendat dari sana (Surabaya) dua bulan terakhir. Mudah-mudahan, masuk triwulan I 2013 sudah tidak bermasalah lagi,” jelasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, inflasi Januari - Februari 2013 yang mencapai 1,79% tidak perlu ditanggapi berlebihan. Hal ini lantaran minimnya persediaan stok makanan yang untuk memenuhi permintaan masyarakat.

\"Meskipun merupakan inflasi tertinggi sepanjang 10 tahun terakhir inflasi ini masih wajar karena adanya kenaikan tarif listrik dan Upah Minimum Provinsi (UMP) secara bertahap,\" ujar Suryamin Kepala BPS, awal Maret lalu.

Dia juga menyebutkan, komponen bawang putih masih menjadi kontribusi utama inflasi diikuti oleh kenaikan listrik beserta komponen makanan jadi. \"Kontribusi tertinggi inflasi oleh bawang putih sebesar 30,25% dan listrik sebesar 10,67%. Kemudian, tomat dan sayuran sebesar 9,67%,” terangnya.

Adapun komponen inti pada Februari 2013 sebesar 0,30%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari-Februari) 2013 sebesar 0,66% dan tingkat komponen inti inflasi inti perbandingan per tahun Februari 2013 terhadap Februari 2012 sebesar 4,29%. [ardi]

BERITA TERKAIT

Pertamina EP dan Chemindo Inti Usaha Jalin Kerjasama - Pemanfaatan CO2

        NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP dan PT Chemindo Inti Usaha bersepakat menjalin kerja sama…

Sinarmas MSIG dan Bank Jatim Syariah Luncurkan Bancassurance

  NERACA   Surabaya - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) bersama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur…

Kepala Bappenas Prihatin Kondisi Nelayan Miskin - INDONESIA SEBAGAI NEGARA MARITIM DAN MEMILIKI TANAH SUBUR

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi nelayan di Indonesia. Dia melihat petani dan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Mewaspadai Inflasi Di Akhir Tahun

      NERACA   Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman…

LPEI Mendorong BUMN Ekspor ke Pasar Prospektif

    NERACA   Jakarta – Pasar prospektif menjadi salah satu alternatif negara tujuan untuk memperluas ekspor di samping Cina…