Kemenperin Nilai Kampus Bisa Tingkatkan Daya Saing Industri

Kamis, 21/02/2013

NERACA

Jakarta - Dunia pendidikan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam peningkatan daya saing industri suatu bangsa. Oleh karena itu, Menteri Perindustrian M.S Hidayat meminta agar pengembangan kebijakan akademik bisa sesuai dengan perubahan global.

"Perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan kebijakan akademik yang mampu mengantisipasi perubahan global yang sedang terjadi dengan mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keberadaan perguruan tinggi mampu meningkatkan daya saing di dalam negeri," kata Hidayat di Jakarta, Rabu (20/2).

Menurut dia, sebagian besar dari angkatan kerja tidak memiliki pendidikan dan keterampilan yang memadai. Hal itu lantaran latar belakang pendidikan formal yang mayoritasnya di sektor industri sekitar 71% yang berpendidikan SMU ke bawah. "Komposisi yang lebih banyak berpendidikan SMU ini merupakan masalah yang mendasar karena tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap daya saing sehingga mengakibatkan rendahnya keterapilan teknis rata-rata tenaga kerja di sektor industri," ucapnya.

Untuk itu, dia memaparkan ada beberapa langkah yang semestinya bisa ditempuh oleh institusi pendidikan dalam mendukung percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi. Pertama adalah dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat maka setidaknya peserta didik dibekali dengan studi kasus riil denga porsi yang besar. Kedua, institusi pendidikan dan dunia usaha khususnya dunia industri harus dikelola secara terpadu. Ketiga, secara bersama-sama antara dunia usaha, pendidikan terutama perguruan tinggi dan pemerintah untuk menerapkan pendekatan aliansi strategis untuk mengembangkan rencana program bersama dalam menjawab kebutuhan akan pemimpin, manajer, dan profesional yang benar-benar berkompeten.

Hidayat menambahkan, di masa lalu terdapat paradigma bahwa dunia pendidikan dan dunia usaha adalah dua entitas yang tidak bisa beraliansi dan hal ini keliru. "Pada saat ini, sudah banyak perguruan tinggi menerapkan skenario pengembangan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Artinya, muatan kurikulum harus ditransformasikan supaya output pendidikan tinggi, terlebih lagi perguruan tinggi berbasis teknologi, makin mampu beradaptasi dan antisipasi terhadap perubahan, sehingga banyak diperoleh hasil-hasil inovasi," tandasnya.

Peringkat Daya Saing Rendah

Daya saing menjadi kata kunci dalam menghadapi produk-produk luar negeri. Untuk ditataran global dalam The Global Competitiveness Report, peringkat daya saing Indonesia cukup menunjukan penurunan. Pada 2009, posisi Indonesia menempati urutan 54 dari 133 negara, kemudian pada 2010 menjadi urutan 44 dari 139 negara. Namun demikian, posisi daya saing Indonesia pada 2011 menempati urutan 45 dari 144 dan pada 2012 menempati urutan ke 50 dari 144 negara.

Untuk itu, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyampaikan, ada tiga komponen utama dari 12 komponen yang mempengaruhi peningkatan daya saing Indonesia. Komponen itu adalah kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, serta pendidikan tinggi dan pelatihan. "Komponen pendidikan mengalami kenaikan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan daya saing Indonesia," katanya.

Adapun komponen-komponen pada GCI adalah kelembagaan, infrastruktur, kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi pasar kerja, perkembangan pasar uang, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.

Mendiknas memerinci, perubahan peringkat GCI Indonesia terkait pendidikan pada komponen pendidikan dasar dipengaruhi oleh kualitas pendidikan dasar, partisipasi pendidikan dasar. Adapun pada komponen pendidikan tinggi dan pelatihan dipengaruhi oleh partisipasi pendidikan tinggi, kualitas sistem pendidikan, kualitas matematika dan sains, dan akses internet di sekolah. Komponen lainnya yang mempengaruhi peningkatan daya saing Indonesia adalah inovasi. Komponen ini dipengaruhi tiga faktor yaitu kualitas lembaga penelitian, kerja sama penelitian industri dengan perguruan tinggi, dan ketersediaan ilmuwan dan ahli teknik. Faktor kerja sama penelitian industri dengan perguruan tinggi juga turut memberi kontribusi terhadap kenaikan peringkat.

Sebelumnya, Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bidang Standarisasi dan Mutu Produk Aziz Pane mengatakan, daya saing industri ditentukan oleh kualitas berbagai faktor. Yakni mutu produk, konsistensi ketersediaan dan rantai pasokan produk hingga jasa layanan pelanggan, dan harga. "Untuk memenuhi itu semua, tidak gampang. Dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) dan manajemen (pengelolaan) yang kuat. Ini tanggung jawab semua pihak, dari pemerintah, pelaku usaha, hingga masyarakat," kata Aziz.

Upaya-upaya yang dibutuhkan untuk menciptakan aspek-aspek daya saing yang berkualitas, terang dia, bergantung pada beberapa hal. Yakni, terkait kebutuhan suku bunga bank yang seharusnya rendah demi memacu kinerja, ekspansi, dan investasi industri. Selain itu, pemerintah diharapkan menjalankan perannya untuk menyederhanakan sistem birokrasi pusat hingga daerah, menyediakan infrastruktur memadai, dan jaminan pasokan energi. "Sistem birokrasi harus disederhanakan. Misalnya, investor mau membangun pabrik, ia sudah mendapat izin BKPM. Tapi, soal lahan masih harus menunggu proses dari Bupati, BPN, hingga tokoh masyarakat. Lama sekali hanya untuk bangun pabrik," tukas Aziz.