Saham Grup Bakrie Melesat Ditengah Konflik - Menanti Hasil Keputusan RUPSLB

NERACA

Jakarta – Rencana rapat umum pemegang saham pengendali (RUPSLB) Bumi Plc yang diduga akan berujung pada perubahan pengendali saham di BUMI, mulai menarik pelaku pasar mengkoleksi saham-saham Grup Bakrie. Terlebih, CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo masuk ke dalam Bumi Plc.

Tercatat pada pertengahan sesi I, perdagangan Selasa (19/2) kemarin. Emiten kelompok Grup Bakrie sukses mendominasi tiga indikator transaksi. Saham PT Bumi Resources (BUMI) menjadi saham teraktif, dengan frekuensi mencapai 8,120 kali. Lalu saham PT Energi Mega Persada (ENRG) di posisi ketiga, dengan frekuensi 4.901 kali, disusul PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) dan PT Bakrieland Development (ELTY) dengan frekuensi masing-masing 4.574 kali dan 4.554 kali.

Sedangkan pada indikator volume transaksi, ENRG memimpin dengan volume 2,736 juta lembar, disusul ELTY 2,584 juta, UNSP 1,299 juta lembar, BUMI 735.044 lembar, sedangkan saham PT Bakrie Telecom (BTEL) mencatat volume 630.540 lembar saham.

Sementara untuk nilai transaksi, tertinggi dipegang BUMI dengan Rp365 miliar, disusul ENRG di posisi kedua dengan nilai transaksi Rp151 miliar. Kelima emiten Bakrie ini pun berhasil mencatat penguatan di tengah koreksi IHSG sebesar 10,036 poin (0,22%) ke level 4.602,010.

Ditengah menghadapi konflik dengan Nat Rothschild di Bumi Plc, isu perubahan kepemilikan saham di Bumi Plc ini tampaknya menjadi menjadi angin segar untuk Bakrie. Hasilnya, saham-saham Grup Bakrie merangsek menguat.

Kini untuk menutupi pembelian saham di Bumi Plc, Grup Bakrie tengah menjual beberapa asetnya, diantaranya lahan kuningan melalui anak usahanya PT Bakrie Swastika Utama (BSU), melepas toll road anak usaha Grup Bakrie, melepas saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) dan PT Bakrie Pipe Industries.

Menurut pengamat Hukum Pasar Modal Sutito, pemegang saham yang kuat-kuat seperti Bakrie akan total jika ingin menguasai sesuatu. Bahkan bisa sampai mencari utang atau menjual aset-aset yang dimilikinya. "Bakrie itu tipe pemegang saham yang kuat, makanya ketika akan menguasai BUMI maka akan menjual aset-asetnya untuk all out agar tidak kalah dengan Rostchild sehingga memiliki saham mayoritas di BUMI,”ujarnya.

Dia menambahkan, Bakrie akan berupaya untuk menguasai BUMI. "Kalau dari utang, sudah tidak mungkin lagi karena Bakrie juga terlilit banyak utang. Kalau mau utang lagi, jaminannya sudah tidak ada lagi, makanya Bakrie mencari jalan keluar yaitu menjual asetnya," katanya.

Namun demikian, lanjutnya, sebagai salah satu perusahaan terbuka yang dimiliki oleh Bakrie yang nantinya akan dijual asetnya maka perlu ada keterbukaan informasi penjualan aset-asetnya tersebut. "Misalnya Bursa Efek Indonesia (BEI) pasti akan minta keterangan dari mana dana tersebut," jelasnya. (bani)

Related posts