Harga Sembako di Jakarta Mulai Merangkak Naik

Rabu, 20/02/2013

NERACA

Jakarta - Harga sejumlah komoditas pokok (sembako) di pasar Palmerah, Jakarta Selatan, mengalami kenaikan. Angka kenaikan bahan pokok tersebut bervariasi namun ada juga sembako yang mengalami penurunan harga dan stabil.

Salah satunya, pedagang sembako asal Jepara, Sukarno (48) mengatakan, kenaikan harga sembako sudah dirasakan sejak sebulan kemarin. "Harga sembako baru seminggu mengalami kenaikan, itu juga tidak terlalu banyak namun ada juga harga sembako yang stabil," ujarnya saat ditemui Neraca, Jakarta, Selasa (19/2).

Dia mengungkapkan kenaikan harga sembako yang signifikan terjadi pada jenis telur dan bawang putih. "Telur itu normalnya kan Rp 16.000 sekarang Rp 20.000 naiknya tinggi buat pelanggan saya juga turun, sementara bawang putih normalnya Rp 28.000 sekarang Rp 36.000. Itu kenaikan harganya tidak wajar," tegasnya.

Kenaikan harga bawang putih serta barang sembako yang lain disinyalir karena pasokan yang terlambat. Namun, tidak semua barang pokok tersebut mengalami kenaikan, contohnya saja untuk bahan pokok beras mengalami harga yang stabil.

Pedagang beras, Tina (40) mengungkapkan bahwa saat ini beras tidak mengalami kenaikan. "Harga beras saat ini normal di kisaran harga Rp 6.500 itu sudah kualitas bagus, sudah lama beras tidak naik," ujarnya.

Menurutnya, bahan pokok ini tidak mengalami kenaikan yang signifikan karena saat ini sedang musim panen. "Musim panen di semua daerah jadi beras harga beras normal," ungkapnya.

Sementara, untuk harga bahan pokok lainnya memang tidak mengalami kenaikan yang tajam. Contohnya saja, harga terigu yang masih normal dengan harga Rp 6.000, minyak goreng Rp 12.000 dan gula Rp 12.000.

Sedangkan untuk harga daging ayam mengalami kenaikan, salah satu pedagang daging ayam asal Klaten, Gito (35) mengatakan bahwa harga daging ayamnya sudah naik sejak tahun baru. "Naik terus sekarang sejak sebulan kemarin, harga naiknya nggak kira-kira sampai dengan Rp 4.000. Normalnya kan harga daging ayam Rp 17.000 sekarang jadi Rp 21.000," tambahnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh pedagang daging di kawasan yang sama, Ade (34) mengatakan bahwa harga daging terus saja melonjak sehingga membuat gerah para pedagang daging tersebut. "Harga terus saja naik sejak lebaran haji sampai sekarang, kita rugi terus dan dibuat stres," tegasnya.

Dia menambahkan , untuk ukuran normal harga daging seharusnya kan Rp 90.000 saat ini Rp 95.000. "Itu kami ingat pelanggan saja, seharusnya kami jual dengan harga Rp 110.000," katanya.

Demikian pula, dengan harga sayuran yang juga mengalami imbas dari bahan pokok tersebut. Pedagang sayur, Sumadi (28) mengatakan kenaikan harga sayuran khususnya tomat sangat tidak wajar. "Tomat yang biasanya Rp 4.000 sekarang Rp 16.000 kemudian cabe merah biasanya Rp 20.000 sekarang Rp 25.000 dan bawang merah juga naik dari Rp 20.000 saat ini Rp 25.000," ungkapnya.

Dia mengatakan, kenaikan harga tidak wajar ini sudah dialami sejak sebulan kemarin. "Kalau naik terus pelanggan bisa kabur tapi sampai saat ini sih pelanggan manut-manut saja dengan harga segitu, ya namanya juga kebutuhan mau nggak mau harus nurut pemerintah lah," jelasnya.

Seperti dikabarkan sebelumnya, kenaikan sejumlah harga komoditi bahan pokok membuat Presiden Susilo Bambang Yudoyono gusar. Berdasarkan laporan yang diterimanya selama dalam dua bulan terakhir harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan secara tidak wajar.

Harga Meroket

Di tempat berbeda, Dewi Puspa (31), merasa saat ini dia harus mengeluarkan uang yang cukup besar saat belanja di pasar. Baik pasar tradisional maupun pasar modern. Biasanya dengan uang Rp 50.000 dia bisa mendapatkan setengah kilogram daging sapi, dengan tambahan sayuran yang lainnya.

Akan tetapi, selama beberapa bulan ini, karena kenaikan harga daging yang signifikan sampai rata-rata Rp 90.000 kilogram, konsumsi daging sapi terus menurun dan mengalihkannya ke komoditas lain seperti ikan. Belum lagi, harga bumbu masak mulai mengalami lonjakan selama tiga bulan terakhir ini.

"Kaya tidak kerasa kenaikannya karena naiknya sedikit-sedikit, tapi setiap kali belanja rasa uang yang tadinya cukup Rp 50.000 dengan barang yang lumayan beragam, saat ini hanya beberapa item saja yang ke beli," ujar ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar Kwitang.

Berdasarkan laporan yang diterimanya, selama dalam dua bulan terakhir harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan secara tidak wajar. Catatan SBY menyebutkan bahwa untuk harga daging sapi dalam dua bulan telah naik dari Rp 70 ribu per kilogram menjadi Rp 87 ribu per kilogram. Sementara harga bawang putih telah menyentuh harga Rp 27 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram. "Sejumlah harga-harga sembako (sembilan bahan pokok) mengalami kenaikan kurang wajar," ujarnya.

Data Badan Pusat Statistik teranyar yang dilansir 2 Januari lalu, komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di antaranya adalah beras, rokok kretek filter, gula pasir, telur ayam ras, mie instan, tempe, dan tahu.

Sedangkan, untuk komoditi bukan makanan di antaranya adalah biaya perumahan, pakaian jadi anak-anak, pakaian jadi perempuan dewasa, dan bensin. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kenaikan.

Komoditi makanan yang memberikan sumbangan terbesar garis kemiskinan di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya seperti beras memberi sumbangan sebesar 26,92 % di perkotaan dan 33,38 % di pedesaan. Komoditi lainnya adalah telur ayam ras (3,51 % di perkotaan dan 2,61 % di pedesaan), gula pasir (2,77 % di perkotaan dan 3,86 di pedesaan).

Presiden mengakui kenaikan harga yang tidak wajar ini akibat besarnya impor dan kurangnya produksi dalam negeri serta kendala lainnya. Dirinya, memerintahkan kepada Menteri Perdagangan dapat bekerja sama dengan para gubernur untuk mengatasi masalah ini.

Pemerintah mengaku punya strategi untuk mengantisipasi melonjaknya kembali harga daging sapi di masa mendatang. Pemerintah akan menggalakkan program pembibitan. Peternak akan diberdayakan untuk memperbanyak kepemilikan sapi miliknya.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengakui beberapa daerah mengalami kekurangan pasokan terutama daging sapi, sehingga harga jual menjadi mahal. Dia mengaku punya strategi untuk mengantisipasi melonjaknya kembali harga daging sapi di masa mendatang. Pemerintah akan menggalakkan program pembibitan. Peternak akan diberdayakan untuk memperbanyak kepemilikan sapi miliknya.

Selain itu, pihaknya akan menetapkan importir sesuai kriteria dan kualifikasi yang ditentukan pemerintah. Hal ini untuk mencegah adanya penyelewengan yang dilakukan importir. "Yang dapat izin itu harus benar-benar yang paling kompeten, yang paling qualified," tuturnya.