Produsen Baja Lokal Tak Mampu Pasok Kebutuhan Domestik

Impor Bahan Baku Diperkirakan Naik 20%

Selasa, 19/02/2013

NERACA

Jakarta - Pembangunan infrastruktur menjadi pendorong utama dalam penggunaan besi terlebih dengan adanya program Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Dengan adanya program pembangunan infrastruktur tersebut, permintaan besi semakin meningkat. Namun, di kala permintaan semakin meningkat, tidak satupun produsen lokal bahan baku besi bisa memasoknya.

Hal ini seperti dikemukakan Ketua Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (Aplindo) Achmad Safiun ketika ditemui seusai press conference Pameran Indometal 2013 di Jakarta, Senin (18/2). "Realisasi konsumsi besi baja Indonesia 2012 telah mencapai 9 juta ton. Untuk tahun ini (2013), kami memprediksi akan tumbuh sekitar 20% lantaran pembangunan yang semakin banyak dan juga program MP3EI pemerintah turut mendorong penggunaan besi baja," ujarnya.

Namun demikian, Safiun mengatakan bahwa 100% bahan baku baja adalah impor. Pasalnya produsen lokal tidak mampu memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia untuk dijadikan bahan baku besi baja. "Dahulu pernah biji besi diolah di Krakatau Steel (KS) namun KS belum berhasil menjadi barang jadi. Maka dari itu, hingga sekarang KS belum mampu memprdoksi besi dari mineral," katanya. Justru, kata dia, KS hanya memanfaatkan besi-besi tua untuk didaur ulang sehingga bisa dimanfaatkan kembali.

Menurut dia, kenaikan impor itu menandakan bahwa pembangunan telah dilaksanakan. "Kalau impor naik maka pembangunan akan berjalan. Kebetulan Indonesia sedang giat-giatnya membangun karena dengan pembangunan maka akan menyerap banyak tenaga kerja dan disamping itu juga mendorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Dengan semakin maraknya impor, Ia berharap agar kedepannya Indonesia tidak lagi mengimpor bahan baku besi baja. Namun butuh investasi yang tidak kecil dalam proses mineral menjadi bahan baku besi baja. Maka dari itu, Ia berharap agar ada investor yang bisa menyediakan sehingga tidak perlu melakukan impor.

Prioritas Utama

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memprioritaskan program pengembangan industri logam dasar melalui sektor industri baja, industri alumunium, industri tembaga dan industri nikel dengan menarik investasi dari dalam maupun luar negeri. "Prioritas pemerintah adalah meningkatkan pengembangan industri baja nasional dengan beroperasinya PT Meratus Jaya Iron & Steel di Batu Licin, Kalimantan Selatan yang mengolah bijih besi menjadi sponge iron dengan kapasitas 315.000 ton per tahun dan investasinya mencapai Rp1,17 triliun. Di Cilegon, PT Indoferro mulai memproduksi pig iron dengan kapasitas 500.000 ton per tahun dan nickel pig iron dengan kapasitas 250.000 ton per tahun dengan nilai investasi US$110 juta," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto.

Pada sektor industri alumunium, menurut Panggah, akan di bangun pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Kalimantan Barat. "Pembangunan pabrik SGA didirikan oleh PT Antam dengan kapasitas produksi 1,2 juta ton per tahun dan nilai investasinya mencapai US$1 milyar yang ditargetkan beroperasi pada kuartal I 2016. PT Antam juga berencana membangun pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) di Tayan, Kalimantan Barat yang memiliki kapasitas produksi sebesar 300.000 ton per tahun dengan investasi sebesar US$450 juta dan dalam proses konstruksi," paparnya.

Sedangkan pada sektor industri tembaga, lanjut Panggah, PT Nusantara Smelting akan membangun pabrik Katoda tembaga di Bontang, Kalimantan Timur. "Investasi PT Nusantara Smelting sebesar US$700 juta untuk pendirian pabrik Katoda tembaga dengan kapasitas 200.000 ton per tahun. Untuk Provinsi Sulawesi Selatan, PT Indosmelt akan membangun pabrik Katoda tembaga berkapasitas 100.000 ton per tahun di Maros dengan nilai investasi US$700 juta," ujarnya.

Panggah menambahkan, PT Feni Halmahera Timur telah melakukan ground breaking pabrik nickel berkapasitas 27.000 ton per tahun di Halmahera, Maluku Utara. "PT Feni Halmahera Timur telah menanamkan investasinya sebesar US$1,6 milyar untuk mendirikan pabrik nickel dengan kapasitas produksi 27.000 ton per tahun dan mulai beroperasi pada kuartal IV 2014," tandasnya.

Pameran Logam dan Baja

Untuk mengembangkan pasar logam dan besi baja. Indonesia dipercayai untuk menggelar pameran logam dan baja. Hal ini lantaran pesatnya perkembangan dan pasar logam di Indonesia sehingga menarik perhatian produsen logam dari berbagai penjuru dunia. Setidaknya, ada 250 pelaku usaha logam dari 26 negara ikut serta dalam pameran. Dari 250 pelaku usaha logam yang ikut pameran, 70 diantaranya merupakan perusahaan domestik, sisanya dari berbagai negara. Setidaknya akan ada lima negara yang akan mendirikan paviliun, yakni Austria, China, Italia, Taiwan, dan Inggris.

Gernot Ringling, Direktur Messe Dusseldord Asia mengatakan, pameran khusus logam dan baja tersebut fokus pada hubungan sinergis antara teknologi pengecoran logam, produk pengelasan, metalurgi dan teknologi proses termo. Gernot bilang, selain memamerkan produk, pameran juga bertujuan untuk mempertemukan pelaku bisnis di industri pertambangan, logam, metalurgi hingga pengujian dan inspeksi bahan, aplikasi industrial dan aplikasi industrial. "Kami mendorong manajemen tingkat atas hingga manajer tingkat menengah, para insinyur untuk datang ke Indometal 2013. Ini kesempatan unik untuk mengenal target pasar, bertemu pemasok dan membangun jejaring bisnis," ujar Gernot. Gernot berharap, pameran dua tahunan itu bisa menjadi acara pameran logam dan baja terbesar di Asia Tenggara.