Impor Ponsel, Sampai Kapan?

Kamis, 14/02/2013

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Inilah potret negeri yang tak pernah mau belajar betapa berbahayanya kecanduan impor. Sungguh ironis, di tengah pasar yang semakin tumbuh dan membesar, negeri ini malah tampak begitu nyaman dengan ketergantungan kepada produk asing, khususnya telepon seluler alias handphone (HP).

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, hampir 100% HP di Indonesia adalah produk impor. Impor HP, komputer tablet, dan komputer genggam mencapai US$ 2,41 miliar (Rp 23,33 triliun) pada Januari-Oktober 2012. Angka ini naik 17,75% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 2,05 miliar (Rp 19,51 triliun).

Nilai impor tertinggi berasal dari produk HP yang telah mencapai US$ 2,2 miliar sepanjang sepuluh bulan tahun 2012. Pasokan HP terbesar datang dari China senilai US$ 993,36 juta, atau berkontribusi 45,14% dari total impor HP. Impor telepon genggam juga datang dari Meksiko sebesar US$ 295,52 juta,Vietnam US$ 269,95 juta, Taiwan US$ 195,78 juta, dan India US$ 149,38 juta.

Dari tingginya pertumbuhan impor yang dipicu tingginya permintaan di dalam negeri itu, pemerintah berikut swasta nasional agaknya tidak cekatan untuk membangun industri HP ala Indonesia. Entah apa yang terjadi, industri teknologi tinggi, dalam hal ini produsen HP, begitu sulit berkembang di Indonesia.

Padahal, bahan baku cukup berlimpah, teknisi dan riset teknologi juga tersedia, apalagi kalau hanya masalah investasi atau pendanaan yang tentu saja cukup mudah diperoleh oleh pemerintah. Beberapa kali Menteri Perindustrian MS Hidayat di berbagai kesempatan sudah mengaku gusar dengan importasi gadget ini. Beberapa kali pula Hidayat mengaku telah menggalakkan investasi di bidang industri khusus ponsel untuk melakukan substitusi impor.

Akan tetapi, hingga saat ini, upaya itu seperti masih jauh panggang dari api. Tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, dan tiap tahun, produk impor berupa HP dan sejenisnya begitu kuat merangsek ke pasar di Indonesia.

Beberapa bulan lalu, sesungguhnya kita sudah sedikit senang dengan kabar baik dari Foxconn Technology Group, perusahaan pembuat komponen iPad, iPhone dan sejenisnya untuk berinvestasi di Indonesia. Namun, entah apa yang terjadi dengan Foxconn yang urung mengembangkan industri gadget di Indonesia.

Jangan-jangan Foxconn merasa Indonesia, khususnya pemerintah, tidak memberi iklim investasi yang nyaman. Kalau itu yang terjadi, maka upaya pemerintah yang akan memberikan insentif kepada produsen telepon seluler yang berinvestasi di Indonesia, sebagaimana yang dijanjikan ke Foxconn, tidak akan pernah berhasil memberikan daya tarik bagi investor asing, khususnya di sektor telekomunikasi. Demikian pula dengan kebijakan pemerintah yang akan mengerem laju importasi gadget juga tidak akan banyak berguna.

Lantas mau sampai kapan Indonesia impor ponsel? Entahlah. Namun yang pasti pemerintah harus lebih serius mempersiapkan karpet merah buat investor, khususnya investor lokal, untuk membangun industri HP di negeri ini, secepat mungkin.