Dominasi Asing Di Pasar Modal

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengklaim transaksi harian di bursa, lambat tapi pasti terus mengalami peningkatan hingga Rp 5 triliun, hal ini memberikan dampak positif bila industri pasar modal dalam negeri memiliki prospek yang cerah. Hanya saja, saat ini peningkatan transaksi saham di bursa dinilai banyak ditopang oleh transaksi asing ketimbang investor domestik. Hal ini bertolak belakang dengan rencana BEI yang menargetkan komposisi investor domestik bisa lebih signifikan perannya ketimbang investor asing.

Berdasarkan data BEI, investor asing melakukan akumulasi beli bersih sepanjang 2013 senilai Rp9,43 triliun. Sedangkan pada perdagangan saham awal pekan kemarin, tercatat investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp157,3 miliar. Bahkan menutup perdagangan saham Selasa kemarin, indeks BEI berhasil tembus rekornya di level 4. 548,243 atau menguat 44,996 poin (1,00%). Hal ini lagi-lagi ditopang investor asing.

Meskipun demikian, sebagian petinggi BEI menilai meningkatnya transaksi harian di bursa diklaim sebagai dampak positif dari dimajukannya jam perdagangan saham. Namun alasan ini, dinilai beberapa analis belum mendasar. Pasalnya, terlalu dini menilai dampak dimajukannya jam perdagangan saham terhadap kontribusi peningkatan transaksi harian.

Banyak alasan, kenapa investor asing aktif bermain saham di Indonesia. Salah satunya,prospek pasar saham Indonesia yang dinilai menjanjikan serta pertumbuhan ekonomi yang positif. Disamping itu, kondisi ekonomi global yang mulai pulih juga menjadi pertimbangan investor asing untuk mengakumulasi saham. Ditambah dengan ekspektasi laporan keuangan emiten yang baik di beberapa sektor menjadi pemicu asing bertahan lama transaksi saham di bursa dalam negeri.

Apapun itu alasannya, kondisi ini disatu sisi memberikan nilai positif dan sisi lain juga memberikan nilai negatif. Dinilai positif, karena industri pasar modal masih menjadi daya tarik asing karena kepercayaan yang besar. Negatifnya, industri pasar modal masih sangat ketergantungan terhadap dana asing. Hal ini, tentunya sangat memprihatinkan lantaran industri pasar modal bisa dikendalikan para pemilik modal asing dan tidak memiliki fundamental yang kuat.

Maka tidak heran, tren penguatan indeks BEI tidak akan berlangsung lama dan nilai rapuh karena di topang dana asing. Alasannya, jika dana asing keluar atau capital cukup besar akan memberikan imbas terkoreksinya indeks BEI. Namun lain ceritanya, jika penguatan indeks BEI ditopang dari aktifnya transaksi saham investor domestik. Dimana, indeks tidak akan banyak terpengaruh terhadap sentimen global dan apalagi dana asing.

Maka menjawab itu semua, edukasi industri pasar modal harus terus digalakkan di kalangan investor domestik dan mengenal lebih dekat tentang investasi saham sebagai sarana investasi jangka panjang. Langkah ini tujuan adalah meningkatkan jumlah investor domestik tidak hanya secara jumlah, tetapi juga kualitas.

BERITA TERKAIT

Trias Join Venture Perusahaan Jepang - Bidik Pasar Ekspor Ke Jepang

NERACA Sidoarjo – Ditengah terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, PT Trias Sentosa Tbk (TRST), perusahaan yang produksi packaging…

Pelaku Pasar Modal Sudah Mengantisipasi - Dampak Kenaikan Suku Bunga

NERACA Jakarta – Buntut terus terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, memaksa Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan…

BLTZ Anggarkan Belanja Modal Rp 500 Miliar

Danai ekspansi bisnisnya, PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 500 miliar.…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Teror di Tahun Politik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tahun politik nampaknya semakin rentan terhadap iklim sospol dan karenanya…

BI Kembali ke Khittah-nya

  Oleh: Firdaus Baderi Wartawan Harian Ekonomi NERACA   Menurut rencana pekan ini, jabatan Gubernur Bank Indonesia akan diserahterimakan dari…

Kawasan Produksi dan Pasar

Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Industri dan Perdagangan Apakah ini yang akan kita bentuk sebagai episentrum kedigdayaan ekonomi Indonesia di masa…