Buruk, Kinerja Pemerintah

Ironis memang. Di tengah suasana reformasi birokrasi yang didengung-dengungkan sejak beberapa tahun lalu, ternyata hasil kinerja Kementerian dan Lembaga (K/L) masih terlihat tidak perform. Buktinya, problem penyerapan anggaran seperti tanpa solusi. Dari tahun ke tahun penyerapan anggaran selalu di bawah target. Untuk 2012, realisasi belanja negara cuma mencapai 95,6%.

Realisasi belanja yang tidak mencapai target itu berdampak pada minimnya kontribusi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2012. Berdasarkan data Kemenkeu, hingga akhir tahun lalu realisasi belanja negara hanya mencapai Rp1.479 triliun atau lebih rendah 4,4% dari target yang ditetapkan APBN-P 2012 yaitu Rp1.548 triliun.

Tidak hanya itu. Realisasi belanja kementerian/ lembaga (K/L) ternyata lebih buruk. Kemampuan penyerapan belanja K/L diperkirakan hanya mencapai 88% dari target APBN-P 2012 yang ditetapkan sebesar Rp547,9 triliun. Parahnya lagi, pos dengan tingkat penyerapan anggaran terendah adalah belanja modal, yang hanya mencapai 78%. Padahal, belanja modal diharapkan bisa menjadi motor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ini menunjukkan lambannya penyerapan anggaran akibat kinerja birokrat yang sepertinya sudah menjadi “penyakit” akut yang tidak kunjung sembuh di tubuh K/L di negeri ini. Kondisi ini memang terlihat sejak semester I-2012 hingga mencapai klimaksnya pada akhir tahun lalu.

Sebelumnya Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang juga Ketua Tim Evaluasi dan Pengawasan Penyerapan Anggaran (TEPPA) Kuntoro Mangkusubroto mengungkapkan, pada periode Januari - Juni 2012, rata-rata realisasi belanja anggaran di 86 K/L baru mencapai 31,98%.

Apalagi, dalam empat tahun terakhir ini, kualitasnya terus turun atau tidak pernah mencapai 100%. Pada 2009, rata-rata penyerapan anggaran K/L mencapai 91,8%. Kemudian pada 2010 hanya 90,9% persen, pada 2011 merosot menjadi 87,0% dan pada akhir 2012 mencapai 95,6%.

Kita melihat realisasi belanja negara yang bagus kinerjanya adalah pos belanja pegawai. Sebab, memang tidak mungkin belanja pegawai terlambat dicairkan. Tapi, untuk belanja barang dan belanja modal, ternyata masih rendah sekali.

Adapun belanja modal yang terkait dengan pembiayaan infrastruktur dan paling berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja melalui proyek-proyek pemerintah, juga terlihat kurang realisasi penyerapannya hingga akhir 2012.

Kita tentu menyayangkan kegagalan pemerintah merealisasikan target penyerapan anggaran belanja. Bukankah ini bukti penyerapan belanja modal yang rendah menunjukkan koordinasi di antara kementerian dan lembaga tidak berjalan sebagaimana mestinya?

Padahal pemerintah selama ini sudah memanjakan kalangan birokrat (PNS) dengan meningkatkan remunerasi dan menaikkan gaji setiap tahun, namun kinerja sebagian besar mereka sangat mengecewakan harapan publik dalam beberapa tahun terakhir ini.

Apalagi proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang masih sebatas angan-angan pemerintah dan bagus di atas kertas, kita khawatir Indonesia akan tertinggal dengan negara tetangga menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 yang sudah di depan mata. Karena kondisi infrastruktur yang makin buruk akan membuat biaya produksi akan semakin meningkat sehingga tidak efisien bagi pengusaha menanamkan modalnya di negeri ini.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Tidak Terbuka Dengan Utang - Oleh : Edy Mulyadi Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Ngutang lagi. Kali ini berjumlah US$4 miliar dalam bentuk penerbitan global bond. Ada tiga seri global bond yang diterbitkan, masing-masing bertenor…

Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart - Industri Kecil dan Menengah

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Mega Manunggal Targetkan Laba Rp 200 Miliar - Proyeksi Kinerja 2018

NERACA Jakarta - PT Mega Manunggal Properti Tbk (MMLP) akan membangun dua sampai tiga gudang di tahun depan. Dengan begitu perusahaan ini…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Citra DPR Terpuruk?

Rasanya sulit kita untuk tidak menilai citra dan reputasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik secara kelembagaan maupun para anggotanya saat…

Prospek Ekonomi Digital

Beberapa tahun lalu kita belum membayangkan sopir taksi dapat mengemudikan mobilnya sendiri tanpa terikat formal bekerja di perusahaan taksi konvensional,…

Peringatan 100 Ekonom

Sekitar 100 ekonom berkumpul menyuarakan kondisi perekonomian Indonesia yang masih memprihatinkan saat ini. Kalangan ekonom pada kesempatan bertemu dengan Presiden…