Summarecon Agung Siapkan Dana Rp750 Miliar

Bangun Hotel Bintang Lima

Selasa, 12/02/2013

NERACA

Jakarta- Prospektifnya sektor properti yang dinilai masih akan terus berlanjut dan permintaan penginapan untuk kelas menangah menjadi salah satu faktor yang mendorong emiten di sektor tersebut gencar melakukan pengembangan usaha. Salah satunya yang dilakukan oleh PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Rencananya, di samping melakukan akuisisi lahan, perseroan juga akan membangun hotel bintang lima di Bali.

“Hotel bintang lima akan dibangun pada semester pertama 2013. Sedangkan hotel lainnya akan dibangun pada semester kedua 2013. Nilai investasi pembangunan hotel tersebut sekitar Rp700-Rp750 miliar.” jelas Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johanes Mardjuki di Jakarta, Senin (11/2).

Kata Johanes, pembangunan hotel di Bali didasarkan pada pertimbangan Bali sebagai daerah wisata yang dapat menyerap wisatawan domestik dan asing. Terlebih pemerintah juga sedang membangun perluasan bandara di Bali. Rencananya, kedua hotel tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 4,5 hektar.

Sementara dana yang akan digunakan untuk pembangunan tersebut, sekitar 70-80% berasal dari perbankan. Meskipun demikian, saat ini masih dalam tahap proses sehingga belum dapat dijelaskan secara rinci. Selain menyiapkan dana untuk pembangunan kedua hotel tersebut, SMRA telah menginformasikan akan menyiapkan dana sebesar Rp1 triliun guna mengakuisisi lahan di wilayah Jabodetabek pada tahun depan. “Kami saat ini masih mencari lahan di wilayah Jabodetabek untuk mengembangkan kawasan layak huni seperti yang sudah dilakukan sebelumnya,”katanya.

Prospek Saham

Masih berprospeknya industri properti di tahun 2013, memicu pergerakan saham sektor properti meningkat tajam, bahkan pertumbuhannya melebihi kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). Analis PT Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro misalnya, pernah mengatakan pertumbuhan saham sektor properti sepanjang tahun ini melebihi kinerja IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal tersebut didukung oleh tingginya penyerapan investor di sektor tersebut. “Investor berekspektasi tinggi pada pertumbuhan saham-saham sektor properti seiring dengan kinerja emiten yang positif,” katanya.

Data BEI menyebutkan, sektor properti mengalami pertumbuhan 11,47% sepanjang 2013. Sementara, indeks BEI tumbuh sebesar 4,03%. Tingkat permintaan dan pasokan yang tinggi mendorong sektor itu tumbuh dipicu oleh meningkatnya daya beli konsumen dan membaiknya iklim investasi. Karena itu, tidak heran indeks sektor properti tumbuh tertinggi dibandingkan sektor lainnya.

Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pun sebelumnya mengatakan, saham-saham di sektor properti masih pantas menduduki posisi saham layak diakumulasi di tahun 2013. Menurut dia, selain BSDE, sejauh ini, saham milik berkode SMRA menjadi salah satu saham yang layak diakumulasi. Pasalnya, untuk saham BSDE diproyeksikan akan mampu menanjak di level 1.500, sementara saham SMRA diprediksi akan mencapai level 2.200.

Dari sisi fundamental perseroan, perseroan tersebut mencatatkan kinerja yang cukup baik yang fokus melakukan pengembangan usaha. Hingga September 2012 perseroan mencatatkan laba naik 76,90% menjadi Rp456,63 miliar dari periode sama sebelumnya Rp258,12 miliar. Selain itu, perseroan juga membukukan pendapatan naik 38,58% menjadi Rp2,19 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,58 triliun. Beban pokok penjualan dan beban langsung naik menjadi Rp1,08 triliun hingga September 2012, YoY dari Rp846,29 miliar. Laba kotor perseroan naik menjadi Rp1,11 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp740,82 miliar.

Sementara beban penjualan emiten properti ini naik menjadi Rp142,98 miliar, YoY dari Rp91,17 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp376,70 miliar, YoY dari Rp273,31 miliar. Penghasilan operasi lain naik menjadi Rp19,81 miliar, YoY dari Rp16,25 miliar. Laba usaha perseroan naik menjadi Rp613,51 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp382,64 miliar. Laba per saham yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi 66 pada September 2012 dari periode sama sebelumnya 38.