LPS: Pembelian Mutiara Bisa Melalui Konsorsium

NERACA

Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengatakan bagi calon investor yang berminat melakukan pembelian saham PT Bank Mutiara Tbk dapat dilakukan dengan cara konsorsium. "Dari sisi LPS acuannya pasal 42, dari sisi investor kalau ingin konsorsium silahkan saja," ujar Direktur Keuangan LPS, Mirza Mochtar di Jakarta, Kamis (7/2).

Berdasarkan Undang-Undang LPS Pasal 42, LPS diwajibkan untuk menjual seluruh saham bank dalam penanganan paling lama tiga tahun sejak dimulainya penanganan bank gagal. Penjualan saham harus dilakukan secara terbuka dan transparan dengan tetap mempertimbangkan tingkat pengembalian yang optimal bagi LPS.

Dia juga mengemukakan, penjualan saham Bank Mutiara pada tahun ini merupakan ketiga kalinya dengan penjualan senilai Rp6,76 triliun yang dimulai pada 21 Januari 2013. "Pada periode pertama ada sembilan calon investor yang berminat namun tidak ada calon yang memenuhi syarat administratif untuk melanjutkan ke tahapan proses penjualan selanjutnya," kata dia.

Mirza menambahkan, sementara pada periode dua, sebanyak tujuh calon investor menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dalam proses penjualan saham Bank Mutiara. Dari ketujuh calon investor itu, terdapat tiga calon investor yang menyampaikan dokumen registrasi.

"Berdasarkan penilaian LPS, proses penentuan calon yang lolos untuk tahap berikutnya terhadap tiga investor itu dihentikan, karena ketiga calon investor dimaksud tidak memenuhi syarat administratif termasuk syarat dukungan keuangan untuk melakukan pembelian seluruh saham PT Bank Mutiara," katanya.

Mirza mengemukakan, ada beberapa kriteria calon investor yang dapat melakukan pembelian saham Bank Mutiara. Salah satu kriteria calon investror Bank Mutiara yakni dapat memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan termasuk peraturan Bank Indonesia (BI) mengenai kepemilikan Bank.

"Selain itu, calon investor juga bukan merupakan pemegang saham lama dan bukan pihak terafiliasi atau memiliki hubungan keluarga dengan pemegang saham lama," katanya. Kemudian, ia melanjutkan, calon investor harus memiliki komitmen dan kemampuan keuangan yang kuat untuk memenuhi seluruh kewajiban pembayaran atas pembelian saham secara tepat waktu. Dan, calon investor juga harus memiliki pengalaman dalan industri perbankan atau mampu menunjukkan kemampuan berkontribusi terhadap kemajuan industri perbankan Indonesia. [ardi]

BERITA TERKAIT

Bank Mandiri Bayar BP Jamsostek Debitur KUR Senilai Rp5 Miliar

  NERACA Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan terkait penyediaan asuransi perlindungan bagi debitur…

OJK Minta Industri Jasa Keuangan Lakukan Penyesuaian Operasional

  NERACA Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada seluruh lembaga di industri jasa keuangan untuk melakukan penyesuaian operasional…

Asuransi Generali Buka Kantor Agen di Jambi

  NERACA Jakarta - PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia meresmikan kantor keagenan baru di Kota Jambi dengan nama AG- Jambi All Star yang…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kena Dampak Covid 19, AAJI Minta Diizinkan Jual PAYDI Secara Online

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengizinkan Produk Asuransi…

Bank Mandiri Bayar BP Jamsostek Debitur KUR Senilai Rp5 Miliar

  NERACA Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan terkait penyediaan asuransi perlindungan bagi debitur…

OJK Minta Industri Jasa Keuangan Lakukan Penyesuaian Operasional

  NERACA Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada seluruh lembaga di industri jasa keuangan untuk melakukan penyesuaian operasional…