Pengaduan ke YLKI Naik 18%

NERACA

Jakarta – Sepanjang 2012, jumlah pengaduan konsumen yang dilayangkan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) naik 18% dari 525 pengaduan pada 2011 menjadi 620 pengaduan pada 2012. Tingkat pengaduan paling tinggi terjadi pada layanan perbankan dan perumahan, sedangkan yang terendah adalah di sektor otomotif. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Harian YLKI Sudaryatmo di Jakarta, Rabu (23/1).

Jumlah pengaduan di sektor perbankan mencapai 115 atau 18% dari total. Pengaduan di sektor perumahan adalah sebanyak 70 atau 11%. Sedangkan pengaduan di sektor otomotif hanya sebanyak 19 atau 3% dari total.

Pengaduan di sektor perbankan dalam pengaduan yang diterima YLKI didominasi oleh suku bunga pinjaman bank yang tidak sejalan dengan penurunan suku bunga Bank Indonesia. Sudaryatmo mengatakan bahwa tren pengaduan konsumen untuk jasa keuangan perbankan cenderung meningkat tetapi untuk jasa perumahan dinilai terdapat penurunan tetapi tidak signifikan.

Peneliti YLKI Yani Arianti Putri menambahkan, jumlah pengaduan yang terkait baik sektor perbankan maupun perumahan adalah mengenai penyesuaian untuk suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR). Nasabah bank, kata Yani, banyak yang mengadu, mengapa suku bunga BI sudah turun tetapi mengapa bunga KPR tidak turun.

Yani juga menjabarkan jenis aduan lain terkait sektor perbankan, yaitu 22 pengaduan pembobolan kartu kredit, 7 pengaduan penutupan kartu kredit yang sulit, 6 pengaduan perlakuan penagih utang yang kasar, dan 6 pengaduan pendebetan sepihak tabungan konsumen oleh bank.

Masyarakat mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengajukan aduannya ke YLKI. Dari 620 aduan sepanjang 2012, sebanyak 204 pengaduan atau 33% pengaduan dilakukan melalui surat elektronik, 196 pengaduan dilakukan melalui surat tembusan, 145 pengaduan melalui surat langsung, dan 75 pengadu datang langsung ke Kantor YLKI di Pancoran, Jakarta.

Untuk pengaduan yang diterima YLKI, terdapat dua hal yang bisa ditindaklanjuti oleh YLKI, seperti yang diterangkan Sudaryatmo. Pertama datang langsung dengan menyebutkan kronologi kasusnya. Kedua lewat surat langsung. Dari 620 aduan, baru 62% atau 385 pengaduan yang sudah ditindaklanjuti oleh YLKI dan tujuh kali mediasi dilakukan dengan berbagai pihak.

Paling Rendah

Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia termasuk negara yang tingkat pengaduannya paling rendah. Bandingkan dengan Malaysia yang jumlah aduannya mencapai 32.369. Namun ini juga kecil dibandingkan dengan Amerika Serikat yang pengaduan konsumennya mencapai 1,2 juta.

Menurut Sudaryatmo, jumlah pengaduan yang masih rendah di Indonesia disebabkan oleh ketakutan masyarakat ketika dilaporkan balik dengan dalih pencemaran nama baik. Kasus Prita yang dituntut balik oleh RS Omni masih terngiang di telinga masyarakat Indonesia.

BERITA TERKAIT

Nilai Transaksi Saham Sepekan Naik 3,07%

NERACA Jakarta – Sepekan kemarin, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuhan rata-rata frekuensi transaksi sebesar 5,53% menjadi 464,93 ribu…

PBB di Kota Bekasi Naik 40%, Kenapa?

Kami sangat terkejut ketika menerima SPPT Pajak Bumi Bangunan (PBB) 2019 terlihat angka tagihannya meningkat sekitar 40% dari tahun sebelumnya…

Keuntungan Naik, Volvo Pertahankan Pusat Ekspor di China

Volvo Cars akan mempertahankan China sebagai lokasi pusat ekspor, setelah mencetak kenaikan keuntungan operasional sebesar 0,9 persen pada 2018, kata…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Konsumen Bisa Jual Listrik Panel Surya ke PLN

    NERACA   Jakarta – Kelebihan daya dari pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap atau panel surya dapat…

Perkuat Industri E-Commerce, Lazada dan Bhinneka Berkolaborasi

      NERACA   Jakarta – Dua pemain e-commerce di Indonesia, Lazada dan Bhinneka menyatakan berkolaborasi dengan cara meluncurkan…

Mayora Group Telah Ekspor Produk Sebanyak 250 Ribu Kontainer

      NERACA   Jakarta – Mayora Group melakukan pelepasan kontainer ekspor ke-250.000 yang digelar Senin (18/2), hal ini…