ILO: Perempuan Dibayar Lebih Rendah

NERACA

Jakarta – Perempuan masih belum memperoleh kesempatan yang setara di pasar tenaga kerja. Ini terlihat dari rata-rata upah per minggu yang lebih rendah daripada laki-laki. Upah laki-laki adalah Rp 757.698 per minggu, sementara perempuan Rp 601.612. Data tersebut merupakan hasil penelitian dari International Labor Organization (ILO), TUFTs University (Amerika Serikat), Universitas Brawijaya, dan Universitas Medan, yang dipaparkan di Jakarta, Rabu (16/1).

Namun Asisten Deputi Perlindungan Tenaga Kerja Perempuan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lenny N Rosalin menampik alasan bahwa itu terjadi karena produktivitas pekerja perempuan yang rendah. “Perempuan kalah dalam jumlah gaji karena pendidikan yang rendah dan kesempatan pelatihan yang terbatas,” kata Lenny saat dikonfirmasi olehNeraca.

Ia menjelaskan, kesempatan sekolah untuk perempuan juga sangat terbatas. Banyak hal yang menyebabkan itu, termasuk paradigma masyarakat yang beranggapan bahwa perempuan lebih bertanggung jawab pada urusan rumah tangga, sementara laki-laki bertugas untuk mencari nafkah.

Alasan

Studi ILO juga menganalisis mengapa upah perempuan lebih rendah dibanding laki-laki. Sebanyak 32% partisipan yang mengikuti studi tersebut mengatakan bahwa alasan upah perempuan lebih rendah adalah karena perbedaan biologis. Sementara 29% partisipan mengatakan, laki-laki dapat melaksanakan pekerjaan yang lebih fisik. Alasan ketiga terbanyak (24% partisipan) adalah karena perempuan lebih bertanggung jawab mengurusi rumah tangga.

Alasan-alasan lainnya dengan persentase lebih kecil adalah terjadinya diskriminasi terhadap perempuan, laki-laki dibayar lebih karena merupakan kepala rumah tangga, dan peluang perempuan dalam mendapatkan pekerjaan lebih sedikit.

Peneliti dalam studi ini, Profesor Drusilla Brown dari TUFTs University (Amerika Serikat), menjelaskan bahwa studi ini dilakukan dengan melibatkan 787 partisipan yang terdiri atas 547 perempuan dan 240 laki-laki. Sebanyak 58% partisipan berasal dari Jawa Timur, sementara 42% lagi berasal dari Sumatera Utara.

Lenny memperkuat data tersebut dengan pengalamannya mengamati wanita dan ketenagakerjaan. “Ketika baru masuk ke pasar tenaga kerja, upah perempuan dan laki-laki yang baru masuk bisa jadi sudah berbeda, karena adanya pemotongan pajak. Perempuan kan dianggap lajang, sehingga pemotongan pajaknya lebih tinggi. Jadi, uang yang dibawa ke rumah lebih rendah. Di banyak perusahaan, perempuan dianggap lajang. Itu yang perlu kita luruskan,” kata dia.

Kedua, lanjut Lenny, di dalam proses pekerjaan, pimpinan selalu memberikan kesempatantrainingyang lebih kepada laki-laki dibanding kepada perempuan. Dengan begitu, kemampuan kerja perempuan kalah dengan laki-laki, yang juga berimbas pada gaji.

Beda Kultur

Budaya yang berbeda menyebabkan perbedaan sikap yang berbeda antara Indonesia dengan negara lain. Drusilla mengatakan bahwa 70% orang Indonesia sepakat dengan budaya bahwa laki-laki bertugas mencari uang, sementara perempuan bertugas merawat rumah tangga dan keluarga. Prosentase tersebut jauh berbeda dengan di Australia, yaitu hanya 22% masyarakatnya yang menyetujui cara pandang seperti itu.

BERITA TERKAIT

Tips Bikin HP Android Jadi Lebih Canggih

Ada beberapa setting tersembunyi yang bisa kamu gunakan untuk membuat handphone Android menjadi lebih canggih. Meski sederhana, beberapa setting tersembunyi…

Pemahaman Masyarakat Mengenai UU Konsumen Dinilai Rendah

Pemahaman Masyarakat Mengenai UU Konsumen Dinilai Rendah NERACA Palembang - Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Sumatera Selatan menilai tingkat pemahaman masyarakat…

Ragukan Data Pemerintah, Pengusaha Lebih Suka Cari Data Sendiri

    NERACA   Jakarta – Direktur Eksekutif Petani Centre Entang Sastraatmaja menilai pengusaha lebih suka mencari data sendiri ketimbang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Cukai Rokok Tetap, Minuman Alkohol Naik

  NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan penyesuaian tarif cukai minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA) dan konsentrat…

PNBP Sektor Tambang Lampaui Target

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) memuji kinerja sektor pertambangan yang berperan atas realisasi Penerimaan…

Penampungan Limbah di Atas Sesar Gempa Rentan Rusak

      NERACA   Medan - Keandalan instalasi penampungan limbah terhadap resiko bencana gempa menjadi salah satu persoalan yang…