Disparitas Harga Picu Pembengkakan Kuota - BBM Bersubsidi

NERACA

Jakarta - Selama disparitas harga antara bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan non subsidi masih tinggi, kemungkinan kuota BBM bersubsidi sebesar 46 juta kiloliter (kl) pada 2013 akan terlampaui lagi. Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan, pemerintah masih belum memiliki niat untuk menaikkan harga BBM bersubsidi.

Menurut dia, saat ini pemerintah akan lebih fokus ke pengendalian dan pembatasan. Salah satu cara untuk membatasi BBM bersubsidi yakni melakukan pengendalian dan pembatasan dengan Teknologi Informasi (TI). Oleh karena itu, dia akan meminta Pertamina untuk mengawasi secara ketat.

"Karena kita tahu kan dalam 46 juta kl itu paling tidak 10-20% terjadi kebocoran. Kalau kita kendalikan, itu kan sudah luar biasa besar," jelas Hatta di kantornya, Selasa (15/1).

Dia menjelaskan, dengan sistem tersebut, Pertamina dapat mengawasi BBM bersubsidi. Upaya baru tersebut akan dilakukan pemerintah untuk mengawal agar penggunaan BBM bersubsidi tetap sesuai target.

"Belum (pernah) diterapkan. Kalau tidak salah, mereka (Pertamina) sudah lakukan tender. Itu bisa mengawasi dari bawah, sampai tiap pom bensin," ujarnya.

Secara terpisah, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menilai kuota BBM bersubsidi nasional akan kembali terlampaui tahun ini. Karena, kata Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, selama disparitas harga tinggi dan sistem distribusinya terbuka, jangan berharap tidak ada over kuota

Selain itu, sistem distribusi masih dilakukan dengan konsep terbuka. “Solusinya yang tepat saat ini adalah memperkecil disparitas harga serta menerapkan sistem pendistribusian secara tertutup,” terangnya.

Dia mengakui, dengan mempersempit perbedaan harga, penyalahgunaan atau penyelundupan terhadap BBM subsidi memang masih terjadi, meski kecil. Sehingga dengan selisih yang tidak terlalu jauh, masyarakat diperkirakan masih mampu membeli BBM. "Kalau bedanya Rp1.000 atau Rp2.000 saya kira orang masih mampu. Penyelundupan tetap masih ada, tapi kecil,” kata Andy.

Berbeda kalau disparitas harga BBM subsidi dan non subsidi sangat jauh, misalkan mencapai Rp5.000 per liternya, keuntungan pengoplos lebih besar, sehingga penyelundupan pun lebih marak.

“Ketika ditangkap, ngeluarin (menyogok, red) Rp1.000 masih untung Rp4.000. Di tengah jalan ditangkap lagi, keluarin Rp 1.000, masih ada Rp 3.000," tuturnya.

Andy menambahkan, jika pemerintah ingin mengamankan kuota saat ini, efektifitas penggunaan sistem TI dapat berpotensi menghambat jebolnya kuota BBM subsidi. "Dengan sistem TI, saya yakin bisa. Bahkan kadang-kadang bisa under kuota," katanya.

BERITA TERKAIT

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…

Pemerintah Nilai Harga Gas Indonesia Kompetitif

NERACA Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa harga gas industri di Indonesia relatif stabil dan…

Sektor Pangan - Produksi dan Suplai Terbatas Bakal Memicu Kenaikan Harga Cabai

NERACA Jakarta – Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan salah satu alasan kenaikan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

ANRI Terima Arsip Statis Presiden Soeharto

    NERACA   Jakarta - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menerima tambahan khazanah arsip statis tentang Presiden kedua Soeharto…

Kantar Rilis 10 Iklan Ramadan 2019 Terbaik

      NERACA   Jakarta - Perusahaan data, dan konsultasi berskala global, Kantar Indonesia menggelar penghargaan ‘Most Loved’ Indonesian…

PPK Kemayoran Ingin Jadikan Gedung Eks Bandara Kemayoran Jadi Cagar Budaya

    NERACA   Jakarta - Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran mengusulkan agar gedung eks Bandara Kemayoran dijadikan sebagai cagar…