Daya Tarik IPO BUMN

Di tahun 2013 ini, pemerintah menargetkan ada 6 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bakal listing di pasar modal. Baik melalui aksi penawaran saham perdana ataupun penerbitan surat utang (obligasi) dan rights issue. Diantaranya, PT Semen Baturaja, PT Pegadaian, PT Pos Indonesia, anak usaha PT PLN, PT Pertamina dan PT Garuda Indonesia Tbk.

Di samping, terdapat juga program penggabungan dua perusahaan farmasi di 2013 yakni PT Kimia Farma Tbk (KAEF) yang membeli saham PT Indo Farma Tbk (INAF). Selain itu, Kementerian BUMN juga berencana melepas lagi lima persen sahamnya di PT Aneka Tambang Tbk melalui program rights issue.

Pemerintah tetap optimis dan percaya diri, bila target IPO tahun ini bakal terealisasi meskipun target tahun lalu meleset dari target. Apa yang menjadi keyakinan pemerintah untuk IPO BUMN, perlu diapresiasi. Hanya saja, pemerintah selalu sesumbar soal target tanpa mengukur diri.

Hal ini dimaksudkan bukan untuk sikap pesimistis target yang disampaikan pemerintah, namun hanya menjaga agar apa yang obral tidak hanya menjadi isapan jempol semata. Pasalnya, proses privatisasi BUMN melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) sangat rumit dan dipenuhi kepentingan politik di DPR. Kondisi ini berbeda 100% dengan proses IPO Swasta.

Terlebih, ditahun 2013 ini memasuki tahun politik menjelang pemilu presiden. Tentunya, kondisi ini juga menjadi tantangan berat untuk merealisasikan target IPO BUMN. Biasanya, ditahun politik, para politisi di DPR sebagai mitra pemerintah akan terkuras seluruh daya dan pemikiran untuk kepentingan politik 2014.

Terlepas dari fenomena tersebut, industri pasar modal saat ini membutuhkan kapitalisasi pasar yang besar melalui penawaran saham perdana atau obligasi dari BUMN. Suka tidak suka, aksi korporasi BUMN masih menjadi daya tarik investor pasar modal untuk meningkatkan likuditas pasar.

Masih menjadi magnetnya IPO BUMN bagi pelaku pasar dikarenakan perusaaan BUMN yang tercatat di pasar modal sebagian besar menguasai kapitalisasi pasar modal. Tak heran, setiap aksi korporasi dan program pengembangan usaha yang dilakukan menjadi kabar yang ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar dan termasuk untuk memburu saham emiten plat merah tersebut.

Banyak hal yang menjadi pertimbangan investor untuk tetap mengkoleksi saham-saham BUMN baik disektor perbankan, pertambangan, telekomunikasi dan konstruksi. Selain kapitalisasi pasar, juga keyakinan investor bila kinerja emiten BUMN terus mencatatkan kinerja positif dan bakal ditanggung pemerintah. Meskipun demikian, investor juga diminta untuk tidak latah dan tetap waspada terkait risiko yang ada dibalik kinerja emiten BUMN yang menjadi portofolio investasinya. Karena bagaimanapun juga, tidak semuanya kinerja emiten BUMN menghasilkan kinerja yang baik.

Oleh karena itu, pemahaman kondisi pasar dan kesehatan perusahaan tetap menjdi pertimbangan dalam memburu saham-saham BUMN di pasar modal untuk menjadi reverensi. Selain itu, investor juga harus merubah prilaku menjadi investor jangka panjang dalam mengkoleksi saham BUMN dan bukan menjadi investor yang panikan.

BERITA TERKAIT

Berikan Payung Hukum Khusus - Pemerintah Kritik Unicorn Yang Belum IPO

NERACA Jakarta – Desakan pemerintah lewat Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara agar empat perusahaan starup…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…

Strategi Pemerintahan Jokowi Tingkatkan Daya Saing

Strategi Pemerintahan Jokowi Tingkatkan Daya Saing NERACA Jakarta - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) terus menciptakan terobosan dengan mengeluarkan berbagai kebijakan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemasangan Listrik Gratis - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centgre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

2 Desember 2018, boleh jadi adalah hari istimewa untuk warga Bantarjati Atas, Kota Bogor, Jawa Barat. Pasalnya, hari itu mereka…

Batam Butuh Regulasi Pasti

  Oleh: Dr. Enny Sri Hartati Direktur Indef Pertama, kita sering gagal paham. Dulu pak Habibie membangun Batam adalah sebagai…

Investasi, Divestasi, Privatisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Mekanisme bisnis di bidang apa saja akan berjalan melalui proses yang umumnya…