Investasi Dinar Tak Pernah Lekang

Logam mulia yang bernama emas kini juga menjadi salah satu primadona investasi yang menggiurkan. Sebab, harga emas di pasaran dunia cenderung naik terus mengikut laju inflasi. Memang ada kalanya harga naik turun atau fluktuatif karena dipengaruhi situasi perekonomian global, misalnya di Eropa dan Amerika Serikat.

Investasi emas bisa dalam bentuk pembelian emas fisik batangan, bentuk perhiasan, dalam bentuk surat berharga, maupun keping Dinar. Keping Dinar bahkan dilengkapi dengan sertifikat dari PT Aneka Tambang sebagai jaminan bahwa emas tersebut asli dan beratnya tetap terjaga, yaitu 4,25 gram emas 22 karat.

Dinar adalah produk investasi dengan obyek emas atau dinar yang menerapkan pola syariah. Keuntungan dari investasi dari jenis ini adalah berdasarkan marjin atau selisih nilai beli dan nilai jual emas. Nilai emas cenderung stabil jika dibandingkan dengan bursa saham. Dengan demikian, investasi emas atau dinar tergolong investasi yang paling aman, karena nilai jualnya selalu naik. Di Indonesia, bisnis dinar, juga dirham (perak) sudah mulai banyak penggemarnya.

PERGERAKAN HARGA DINAR

(dalam rupiah)

Tahun AWAL AKHIR

-----------------------------------------------------------------

2008 1.090,100 1.212.480

2009 1.418.601 1,444,040

2010 1.659.763 1.777.760

2011 2.112.000 2.170.891

2012 2.127.473 2.277.830

2013* 2.310.548 -

------------------------------------------------

Diolah dari PT Aneka Tambang Tbk

*perdagangan pada 9 Januari 2013

Di antara alasan fundamental memilih investasi dinar adalah karena dinar emas adalah mata uang yang digunakan sejak zaman Nabi Muammad SAW. Nilai kursnya pun sangat stabil. Saat itu, 1 Dinar emas dapat untuk membeli seekor kambing. Sekarang, 1 Dinar emas juga cukup untuk membeli seekor kambing.

Ada contoh satu lagi terkait dengan kenaikan harga barang. Pada tahun 2000, 1 Dinar emas nilainya sekitar Rp 400.000 dan harga semen sekitar Rp 20 ribu/zak. Jadi, 1 Dinar dapat untuk membeli 20 zak semen. Sebelas tahun kemudian, harga semen sudah membumbung 150% menjadi Rp 50 ribu/zak. Pada saat yang sama, nilai 1 Dinar seharga Rp 1.690.000 dan bisa dibelanjakan semen sebanyak 33,8 zak.

Itu sebabnya mengapa Agus Rahman memberi mas kawin kepada istrinya Dewi Sandra saat akad nikah pada 3 Desember 2011 lalu dengan 6 koin Dinar. Demikian juga dengan Bulan Purnamasari Noegroho Putri, seorang pejabat Telkom di Kota Bogor. Dia menabung Dinar untuk bekal naik haji. Sebelum krisis, ongkos naik haji (ONH) pada 1997 setara dengan 95 Dinar. Ketika itu, 1 Dinar dihargai Rp 94 ribu. Rupanya ONH tahun-tahun berikutnya dilihat dari Dinar justru turun. Pada 2000, ONH setara 70 Dinar, 2005 menjadi 46 Dinar, dan 2010 cukup 26 Dinar saja. (saksono)

BERITA TERKAIT

Investasi Dapen di Saham Hanya Capai 12%

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mendorong industri dana pensiun (Dapen) untuk meningkatkan invetasinya pada efek bersifat ekuitas atau saham.…

Bank Mandiri Terbitkan Kontrak Investasi untuk Infrastruktur

    NERACA   Jakarta - Grup Bank Mandiri berkerja sama dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk menerbitkan Kontrak Investasi…

Indonesia Kantongi Investasi Infrastruktur Rp202,5 Triliun - Pertemuan IMF-World Bank di Bali

    NERACA   Bali - Indonesia melalui 14 BUMN mengantongi investasi hingga 13,5 miliar dolar AS atau setara Rp202,5…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…