Indeks Tahan Banting Atas Kesepakatan Fiscal Cliff - Melaju Kuat Di Level 4.500

NERACA

Jakarta- Adanya kesepakatan Fiscal Cliff yang ditunda hingga dua bulan depan, tidak akan berpengaruh besar terhadap pasar modal Indonesia. “Saat ini fiscal cliff cenderung hanya menjadi pelengkap pergerakan indeks dan saham pada umumnya, dan bukan menjadi suatu berita yang mendominasi kemana arah pasar ke depan.” jelas CEO PT Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta, Senin (7/1).

Saat ini, menurut Lucky, aroma Fiscal Cliff menjadi isu lama. Saat ini pasar cenderung menunggu berita yang rasional, seperti FED Rate, angka pengangguran, home sales dan indikator ekonomi lainnya yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi internal dan kondisi global secara eksternal.

Dia mengatakan, di tahun ini pasar saham masih akan bergerak secara fluktuatif dengan potensi penguatan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 4.500. Akan tetapi, pihaknya mencatat, saham-saham di sektor komoditas seperti pertambangan dan Crude Palm Oil (CPO) masih belum cukup kuat untuk menanjak.

Meskipun demikian, saham-saham di sektor tersebut yang tercatat memiliki nilai kapitalisasi besar di pasar masih layak dikoleksi. Pasalnya, dalam kondisi ini sektor komoditas memiliki profil risiko tinggi. “Dalam pertimbangan risiko, membeli saham-saham batu bara yang tidak memiliki kapitalisasi besar cenderung akan memiliki profil risiko tinggi, sehingga para investor dan trader harus menerapkan sistem cut loss pada level tertentu.” jelasnya.

Ruang Gerak

Sementara Kepala Analis Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, dengan adanya penundaan kesepakatan mengenai Fiscal Cliff, akan memberikan nafas bagi perkembangan bursa saham global. “Selama penundaan tersebut saham global diharapkan dapat dihinggapi sentimen positif.” ujarnya.

Dengan penundaan kebijakan tersebut, lanjut dia juga akan memberikan anggapan bahwa perekonomian di Amerika Serikat (AS) akan mulai terabaikan. Seperti diketahui, perekonomian di AS belum cukup kuat untuk menurunkan kekhawatiran global sehingga memperlambat ekonomi negara terbesar di dunia itu. “Penundaan ini juga akan memberikan anggapan bahwa perekonomian di AS mulai terabaikan karena sebelumnya beredar penilaian dan solusi terkait dengan penyelesaian krisis utang di zona Eropa,” jelasnya.

Kepala Riset MNC Securities menambahkan, setelah selama beberapa bulan ini wall street berkutat dengan “Fiscal Cliff”, yang kemudian berakhir dengan happy ending, dan selanjutnya akan tenang sampai dengan akhir Februari 2012. Selama satu minggu lalu, Edwin mencatat, Dow Jones berhasil menguat tajam sebesar 3.84%, maka minggu ini sampai akhir Januari 2013, perhatian pasar akan tertuju atas akan di release-nya laporan keuangan full year.

Laporan Kinerja Emiten

Sementara dari dalam negeri, lanjut dia, pelaku pasar pun akan mulai mengintip-intip kinerja emiten-emiten yang melaporkan kinerja keuangannya secara tepat waktu. Selain itu, emiten yang memiliki tingkat GCG-nya tigngi juga biasanya mulai memberikan ‘hints’ mengenai kinerja full year dan rencana apa saja yang mereka lakukan di tahun 2013.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan, perjanjian Fiscal Cliff tersebut secara permanen akan menetapkan tarif pajak lebih tinggi pada pendapatan atas, memperpanjang asuransi dan pajak kredit untuk perusahaan energi dan keluarga dengan anak-anak.

Informasinya, kedua belah pihak telah sepakat untuk memperpanjang tarif pajak untuk pendapatan keluarga di bawah US$ 450 ribu, dan dividen sebesar 20% untuk pendapatan rumah di atas US$ 450 ribu, serta menaikkan pajak estate hingga 40%. Selain itu, kesepakatan lain yaitu penundaan pengeluaran Fiscal Cliff selama dua bulan hingga kesepakatan baru dapat dicapai. (lia)

BERITA TERKAIT

Prudential Berikan Pelatihan Literasi Keuangan ke 2.500 Perempuan

    NERACA   Jakarta - PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) kembali mengadakan rangkaian kegiatan Pelatihan Literasi Keuangan untuk…

Intervensi Pemerintah atas Harga CPO via Implementasi B20

Oleh: Piten J Sitorus, Mahasiswa D3 Alih Program PKN STAN Pada tahun 2017 Indonesia memproduksi sebesar 38,17 juta ton Crude Palm…

Tambah Menara Hingga 500 - GOLD Berencana Menggelar Right Issue

NERACA Jakarta – Tambah menara telekomunikasi menjadi 500 tower, PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) tengah menghimpun dana di pasar.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Industri di Papua Berpeluang Go Public

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura berupaya mendorong pelaku industri di Papua untuk mengakses permodalan dari pasar modal untuk…

Restrukturisasi TAXI Disetujui Investor

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang obligasi (RUPO) PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI), para pemegang obligasi akhirnya menyetujui paket restrukturisasi…

Bidik Generasi Milenial - Chubb Life Luncurkan Platform Digital

NERACA Jakarta – Penetrasi pasar asuransi di Indonesia, PT Chubb Life Insurance Indonesia (Chubb Life) meluncurkan platform online bernama Chubb…