Waspadai Utang LN Swasta

NERACA

Jakarta – Direktur Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan mengatakan, utang luar negeri swasta kalau tidak diregulasi dengan baik bisa berbahaya. “Bisa memberi tekanan terhadap neraca pembayaran kita,” kata dia kepada Neraca, Minggu (6/1).

Untuk diketahui, utang luar negeri swasta sampai Oktober 2012 mencapai US$ 123,27 miliar, lebih tinggi dari utang pemerintah yang sebesar US$ 120,64 miliar. Dengan demikian, rasio utang luar negeri swasta terhadap produk domestik bruto meningkat dari 26,4% pada 2011 menjadi 27,3% pada 2012.

Secara alamiah, swasta akan lebih senang berutang ke luar negeri daripada ke dalam negeri karena beban bunga perbankan luar negeri lebih rendah ketimbang beban bunga perbankan Indonesia. “Harus ada kebijakan di sektor moneter, bagaimana supaya perbankan nasional menjalankan fungsi mediasi yang tinggi dengan suku bunga yang lebih rendah. Problemnya, perbankan kita lebih senang memutar keuntungannya dengan membeli obligasi daripada menyalurkan kredit pada sektor usaha atau masyarakat,” jelas Dani.

Dengan banyaknya sektor swasta yang berutang dalam bentuk dolar ke luar negeri sementara hasil produknya dalam bentuk rupiah, maka akan ada risiko yang bisa meledak sewaktu-waktu. Ketika nilai tukar rupiah anjlok drastis terhadap dolar, utang swasta akan membludak dalam bentuk rupiah. Risiko krisis seperti 1998 bisa saja terjadi.

Keuangan dan SDA

Menurut Dani, itu semua tergantung industri mana yang berutang.

“Kalau melihat karakter ekonomi kita, kan sektor-sektor penggerak perekonomian kita ada dua, yaitu industri keuangan dan industri-industri di bidang sumber daya alam, misalnya industri kelapa sawit dan industri migas. Inilah yang menjadi tulang punggung sektor usaha di tingkat nasional,” kata Dani.

Dani menduga, pinjaman luar negeri swasta kebanyakan berkaitan dengan dua industri itu. Ini akan berbahaya karena kedua industri ini memiliki kerentanan yang cukup besar ketika dikaitkan dengan dinamika perekonomian lokal.

Dani menjelaskan, misalnya ketika harga komoditas anjlok, sementara utang sudah jatuh tempo. “Harga komoditas di pasar internasional itu sangat ringkih. Tidak bisa dikontrol oleh Pemerintah Indonesia, sekalipun Indonesia sebagai produsen utamanya,” jelas dia.

Yang sekarang sedang mengalami penurunan adalah komoditas kelapa sawit dan batubara. Padahal Indonesia adalah salah satu produsen besar kelapa sawit, tapi tetap saja belum bisa mengendalikan harga. “Kita lihat, seberapa tahan sektor itu menghadapi goncangan internasional,” pungkas dia.

BERITA TERKAIT

Menelisik Arah Utang Pemerintah Era Kepemimpinan Jokowi

Oleh: Nurul Nabila, Mahasiswi Perbankan Universitas Samudra Langsa   Selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik…

Lunasi Utang US$ 200 Juta - XL Axiata Rencanakan Refinancing di 2019

NERACA Jakarta – Mengurangi porsi beban utang, PT XL Axiata Tbk (EXCL) bakal bayar utang senilai US$ 200 juta hingga…

Utang Negara Masih Aman

Menyimak ancaman krisis global belakangan ini, ada baiknya kita melihat kondisi sejumlah negara lain yang kondisinya tidak lebih baik dari…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Cukai Rokok Tetap, Minuman Alkohol Naik

  NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melakukan penyesuaian tarif cukai minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA) dan konsentrat…

PNBP Sektor Tambang Lampaui Target

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Pertambangan Indonesia (IMA) memuji kinerja sektor pertambangan yang berperan atas realisasi Penerimaan…

Penampungan Limbah di Atas Sesar Gempa Rentan Rusak

      NERACA   Medan - Keandalan instalasi penampungan limbah terhadap resiko bencana gempa menjadi salah satu persoalan yang…