Maskapai Lokal Diminta Angkut Daging Sapi - Bantu Peternak

Pemerintah imbau perusahaan maskapai lokal untuk menjadikan pengangkutan daging sapi beku dari daerah penghasil sapi sebagai program CSRnya, agar pasokan daging sapi impor berkurang dan menciptakan iklim yang kondusif bagi peternak dalam mengembangkan sapi.

NERACA

Ketersediaan daging sapi secara nasional hingga akhir 2012 mengalami surplus hingga 11.834 ton, pasokan daging sapi ibukota masih didominasi oleh daging sapi impor. Menurut data Kementerian Pertanian (Kementan), hingga akhir 2012 tercatat stok daging sapi nasional masih tersisa 11.834 ton.

Menteri Pertanian, Suswono dalam acara Chief Editor Meeting bertema Refleksi 2012 dan Prospek 2013 Pembangunan Pertanian di Jakarta, mengatakan bahwa dari ketersediaan daging 50.847 ton, Total kebutuhan daging sapi nasional hingga akhir Desember 2012 hanya sebesar 39.045 ton.“Artinya akhir tahun ini pun ada selisih ketersediaan daging sapi sebesar 11.834 ton," ujarnya.

Ketersediaan daging sapi tersebut diperoleh dari sapi bakalan eks impor sebesar 3.236 ton. Sapi lokal di feedlotter (tempat penggemukan sapi) sebanyak 682 ton. Sapi lokal di masyarakat Desember 2012 sebanyak 44.913 ton. Stok daging pada importir sebesar 1.059 ton dan sisa alokasi daging impor 2012 sebesar 1.084.

Meski data di Kementerian Pertanian mencatat bahwa ketersediaan daging sapi secara nasional hingga akhir 2012 mengalami surplus hingga 11.834 ton, pasokan daging sapi ibukota masih didominasi oleh daging sapi impor. Hal itu disebabkan harga daging sapi impor, terutama dari Australia, yang cenderung lebih murah dibandingkan dengan daging dari daerah.

Persoalan infrastruktur logistik pengangkutan sapi dari sentra produksi ke daerah konsumen seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat, dan Banten menjadi faktor dominan menggelembungnya harga daging RI ketimbang daging impor seperti asal negeri Kanguru, Australia. Perlu diketahui, saat ini sebanyak 25% kebutuhan daging nasional masih didapatkan melalui impor. Bahkan, di Jakarta, sebanyak 75% kebutuhan daging sapi-nya justru didapatkan dari impor.

Salah satu penyebab pemerintah mengimpor adalah karena ongkos logistik yang besar. Seperti stok daging sapi dari daerah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat yang melimpah tidak bisa disalurkan dengan baik karena kendala ini.

Menanggapi hal tersebut, Suswono mengusulkan agar dana tanggung jawab perusahaan alias corporate social responsibility (CSR) maskapai lokal bisa dimanfaatkan untuk memuluskan pengangkutan daging sapi beku dari daerah penghasil sapi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai tahun 2013.

Menurut dia, ketimbang digunakan untuk sponsor lain, ada baiknya dana CSR dari maskapai lokal seperti PT Garuda Indonesia Airlines Tbk atau PT Merpati Nusantara Airlines dimanfaatkan untuk memberi insentif dalam pengiriman produk pertanian. Ia berharap maskapai lokal itu bisa memberikan insentif berupa potongan harga biaya pengangkutan produk pertanian sehingga harga daging sapi lokal bisa ditekan dan terdistribusikan dengan baik.

"Garuda bisa memanfaatkan dana CSR. Dana ini membantu peternak untuk kompetisi produk, dalam hal ini memberikan insentif transportasinya," kata Suswono, di Jakarta, Kamis.

Suswono mencontohkan pengalokasian dana CSR seperti yang dilakukan di Thailand, dimana maskapai lokal Thai Airlines memiliki kebijakan untuk membantu pengiriman produk pertanian. Adanya insentif itu akan membuat harga produk pertanian menjadi lebih kompetitif. Untuk realisasi usul itu, Suswono mengaku akan membicarakan hal tersebut dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan sebelum bisa ditindaklanjuti ke Garuda Indonesia atau Merpati.

Terkait wacana pemerintah itu, Garuda belum diajak bicara oleh Menteri Pertanian Suswono termasuk soal keringan tarif. Namun, Vice President Corporate Communications Garuda Indonesia, Pujobrotomengatakan, secara prinsip Garuda dapat membantu rencana pengangkutan daging tersebut untuk memangkas biaya distribusi dan efisiensi waktu distribusi daging ke Jawa maupun wilayah lainnya. Saat ini, setiap hari Garuda terbang dengan pesawat B 737-800NG ke Kupang, dan Garuda mempunyai kapasitas untuk mengangkut kargo/mengangkut daging dari Kupang sekitar 4-5 ton.

BERITA TERKAIT

Upsus Siwab Targetkan Kelahiran Sapi Hingga 3,5 Juta Ekor

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menargetkan kelahiran anak sapi hingga 3,5 juta ekor…

Mengganti Terigu Impor dengan Produk Buatan Lokal - Teknologi Pangan

        NERACA   Bogor - Mie memang menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia, tanpa pandang usia. Sayangnya mie…

Perbankan Diminta Perbaiki Tata Kelola

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap industri perbankan terus memperbaiki tata kelola perusahaan yang…

BERITA LAINNYA DI CSR

Tingkatkan Produktivitas UMKM - XL Beri Pelatihan Literasi Digital di Lombok Tengah

Dalam rangka memberdayakan serta meningkatkan produktivitas pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), khususnya perempuan dan meningkatkan perekonomian nelayan di…

Program CSR Bukan Hal Mudah Bagi Perusahaan

Dewasa ini kerap digelar acara pemberian penghargaan kepada perusahaan-perusahaan yang dinilai telah menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate…

Tingkatkan Daya Saing UKM Manufaktur - YDBA Ajak Binaannya Kunjungi GS Battery di Semarang

Dalam rangka meningkatkan wawasan mengenai best practice pengembangan bisnis di bidang manufaktur, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengajak 42 usaha…