Pengenaaan Pajak Bakal Tekan Likuiditas Perdagangan Saham

NERACA

Jakarta- Pemberlakuan pajak yang akan diberlakukan secara tegas oleh pemerintah terhadap pengendali saham dinilai tidak hanya akan berpengaruh terhadap kinerja pencatatan saham dalam penawaran saham umum perdana melalui initial public offering (IPO), namun juga akan berpengaruh terhadap kinerja perdagangan, jika pengenaan pajak tersebut juga diberlakukan kepada investor yang melakukan transaksi di pasar saham.

“Kalau untuk pemegang saham yang namanya tercatat di perusahaan mungkin boleh, tapi untuk investor yang trading sebaiknya jangan, karena secara tidak langsung akan menurunkan perdagangan di bursa,”kata Kepala Analis Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (27/12).

Terjadinya penurunan perdagangan tersebut, menurut Reza disebabkan menurunnya minat investor untuk melakukan transaksi perdagangan (trading) karena akan menganggap perdagangan tersebut tidak lagi menarik. “Misalnya beli 1lot ITMG@40.000, kemudian jual @41.500, tentu dalam transaksi tersebut yang diinginkan mendapatkan untung full 500 per lembar, bukan sebaliknya?” ujarnya.

Karena itu, Reza menilai pengenaan pajak tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan pasar modal Indonesia ke depan. Tidak jauh berbeda dengan Reza, Head of Research Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, penerapan aturan baru soal pajak saham tersebut diyakini akan menjadi khawatiran pelaku pasar untuk IPO karena memberatkan, “Orang-orang akan berpikir dua kali dan malas kalau ingin IPO,” ujarnya.

Menurut Satrio, peraturan pemerintah akan sangat memberatkan pelaku pasar, khususnya mereka pengendali saham yang terkena aturan tersebut. Kendatipun demikian, peraturan pajak saham tersebut tidak akan memberi pengaruh signifikan terhadap melorotnya kinerja indeks dalam negeri.

Satrio menilai, jika pengenaan pajak tersebut hanya berlaku bagi pengendali saham maka hal tersebut tidak akan mempengaruhi minat investor berinvestasi di pasar modal. “Jadi kalau sebagai investor gak perlu takut kena pajak dan tentunya gak berpengaruh banyak ke portofolio,” ujarnya.

Dia menjelaskan, secara teoritis tidak memiliki pengaruh terhadap perdagangan saham, terutama pada pemegang saham minoritas. Namun yang berpengaruh adalah pada orang yang akan melakukan IPO. Karena itu, perlu ada sosialisasi yang jelas dari Ditjend Pajak, agar pelaku usaha tidak khawatir untuk IPO karena takut dikenakan pajak. Oleh karena itu, sosialisasi sangat perlu dilakukan agar tidak terjadi salah persepsi. (lia)

BERITA TERKAIT

Semester Pertama, Pajak Daerah Kota Sukabumi Sudah Mencapai 65,67 Persen

Semester Pertama, Pajak Daerah Kota Sukabumi Sudah Mencapai 65,67 Persen   NERACA Sukabumi - Realisasi pendapatan pajak daerah yang dikelola oleh…

Harita Bakal Lepas Saham CITA ke Glencore

PT Harita Jayaraya, pemegang saham pengendali PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) sedang menjajaki rencana untuk menjual saham minoritas kepada…

Bantah Tuduhan Goreng Saham - Bliss Properti Fokus Perbaiki Kinerja Keuangan

NERACA Jakarta – Menepis tuduhan adanya dugaan mengendalikan harga saham, manajemen PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA) langsung menggelar paparan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Juli, Penjualan Semen Indonesia Naik 78,8%

NERACA Jakarta – Meskipun industri semen dalam negeri masih terjadi oversuplai, namun penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk pada Juli…

Lagi, Bank Mandiri Kurangi Porsi Saham di MAGI

NERACA Jakarta – Kurangi porsi saham di PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) bakal…

Lindungi Invetor Ritel - OJK Perketat Keterbukaan Informasi Emiten

NERACA Jakarta – Menciptakan industri pasar modal sebagai sarana investasi yang aman dan melindungi investor, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan…